Minggu, 24 April 2016

Back To The Open Mic Stage



Dua hari yang lalu atau tepatnya pada malam tanggal 22 April 2016, setalah waktu yang cukup lama, akhirnya aku melakukannya lagi. Ya, setelah lebih dari 4 bulan, akhirnya aku kembali ke panggung open mic. Dan sekaligus menjadi penampilan stand up comedy pertamaku di tahun 2016. Memang sih cuman open mic. Tapi, itu bisa disebut come back nggak, sih? Ah, bodo amat. Anggap aja itu come back.

Sebenarnya awalnya aku nggak pengen libur open mic selama itu. Maksudku 4 bulan? Kelamaan. Ya awalnya sih mau libur sekitar 2-3 minggu aja. Tapi karena di awal tahun di Indonesia musimnya lagi musim hujan, alhasil jadi berbulan-bulan deh nggak open micnya.

Terus seiring waktu berjalan, intensitas hujan mereda. Berarti itu artinya kalau aku mau open mic, ya tinggal pergi ke tempat open mic terus open mic, deh. Nggak perlu mikir tentang hujan. Mungkin sederhana. Tinggal berangkat dan open mic. Tapi ternyata nggak gitu. Entah kenapa mulai ada rasa ragu. Kayak semacam takut gitu mau open mic lagi.

Mungkin akan ada yang nanya kayak …

“Kok takut kenapa?”

Gini. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku adalah tipe orang yang seringnya takut duluan. Gampangnya gini, deh. Entah kenapa kayak aku itu gampang banget takut sama hal-hal yang belum terjadi. Semacam kekhawatiran yang berlebihan. Dulu aku sering ngalamin takut pas hari pertama masuk sekolah baru, hari pertama masuk kampus, bahkan kalau misal habis liburan lama terus masuk lagi, enggak tahu kenapa aku juga takut. Dan hal itu juga kejadian sama yang kemarin. Takut untuk open mic lagi. Aneh memang.

Aku takut bukan karena nggak punya materi lho, ya. Tapi karena ya takut aja. Dan di akhir Maret, aku sempat pergi ke tempat open mic. Apakah aku open mic? Enggak. Nonton doang. Aku belum punya cukup keberanian. Dan jujur aja jauh dalam lubuk hatiku aku pengen lawan ketakutan itu.

Dan terus dua hari yang lalu, setelah mengumpulkan keberanian, aku akhrirnya kembali naik ke panggung open mic. Berceloteh dengan mic yang ada di genggaman tangan. Jika kuingat, dalam perjalanan ke tempat open mic kemarin, pas naik motor entah kenapa aku mual. Kemudian aku berhenti di tepi jalan dan tahukah anda apa yang terjadi? Aku muntah.

Lalu aku berpikir apakah semua akan baik-baik aja? Kemudian pikiranku menerawang ke belakang. Jika kuingat lagi, bukannya dari dulu emang kayak gini? Ya, sejak dulu sebelum aku mau stand up, aku memang selalu mual. Bahkan di acara Majelis Tawa Mini Show aku sampai muntah dua kali. Kemudian  aku mikir lagi. Kayaknya semua akan baik-baik aja, deh. Maksudku, muntah? Nggak papa. Biasanya juga gini, kok.

Pas sampai di café tempat open mic, aku sempat ragu lagi. Tapi akhirnya kubulatkan tekad dalam hati. Pokoknya mau lucu atau ngebomb urusan belakangan. Yang penting open mic dulu aja. Merasakan kembali atmosfer open mic.

Dan saat nunggu giliran untuk tampil, entah kenapa rasanya itu deg-degan banget. Kemudian setelah banyak comic yang tampil, namaku disebut. Aku pun maju. Dan Alhamdulillah penampilanku malam itu lebih dari apa yang aku harapkan. Masih kayak dulu. Ya, aku tampil seperti sebagaimana mestinya aku yang biasanya tampil. Lega lah pokoknya.

Oh, iya. Sebenarnya kalau boleh jujur apa yang mendorongku kenapa aku pengen banget open mic lagi adalah karena beberapa hari yang lalu aku dengar sebuah kutipan dari Pandji Pragiwaksono. Bunyi kutipan atau quote itu adalah “Jangan pernah bunuh mimpi kamu karena mimpi tidak akan pernah mati. Dia hanya akan pingsan dan bangun lagi ketika kamu tua dalam bentuk penyesalan”. Begitulah kira-kira kalimatnya. Dan setelah aku pikir lagi, aku masih punya impian yang belum tercapai di stand up comedy. Itu aja, sih.

Dan terakhir, sebelum aku akhiri postingan ini, aku mau bilang sesuatu. Aku nggak akan bilang kalau aku sukses dapat tawa atau apapun malam itu. Aku cuma mau berkata kalau ternyata aku bisa juga sukses mengalahkan rasa takutku.

Rabu, 20 April 2016

Quote Yang Akan Bertahan Di Benakku Sepanjang Hidupku



Kita pasti pernah mendengarnya. Ya, quote atau yang dalam bahasa Indonesia seharusnya kita kenal sebagai kutipan, kita pasti pernah mendengarnya. Pada faktanya ada berjuta, Milyar, atau bahkan tak terhingga quote yang beredar di dunia ini. Tentu menyebut kata “tak terhingga” bukanlah sesuatu yang berlebihan karena memang siapapun boleh membuat quote.

Dari jumlah quote yang tak terhingga itu, tentu saja saya tidak pernah mendengar atau membaca semuanya. Memang hanya beberapa saja. Dan di artikel ini saya akan menulis tentang quote yang benar-benar membekas dan tertanam di dalam benak saya. Bahkan saya tak ragu menyebutnya sebagai quote yang akan bertahan di benakku sepanjang hidupku.

Dan tak berlama-lama, mari kita mulai saja.

Pandji Pragiwaksono: “Jangan pernah membunuh mimpi kamu karena mimpi tidak akan pernah mati. Dia hanya akan pingsan dan bangun lagi ketika kamu tua dalam bentuk penyesalan.”

Saya memang tidak mendengar quote itu secara langsung. Saya hanya mendengar itu melalui video yang Pandji Pragiwaksono upload di akun video.com miliknya. Meski begitu, saya benar-benar merasakan dampaknya. Bahkan saya jadi teringat bahwa saya pernah membuat status di Facebook yang intinya saya tidak ingin menjadi pria tua yang menyesal. Terimakasih banyak Pandji telah mengingatkan saya pada perkataan saya yang nyaris saya lupakan.Terimakasih untuk membuat saya tidak menyerah dalam menggapai apa yang saya impikan.

Arum Setiadi: “Jangan berpikir bagaimana cara menghilangkan grogi. Tapi berpikirlah bagaimana cara menambah PD.”

Mungkin tidak banyak yang kenal siapa Arum Setiadi. Sekedar informasi, beliau adalah seorang comic dari komunitas Stand up Solo. Dan quote itu saya mendengarnya secara langsung. Tidak, bahkan quote itu tertuju langsung untuk saya. Waktu itu jelang acara Majelis Tawa Mini Show. Jujur saja sebagai penampil saya sangat gugup. Lalu Mas Arum mengatakan kalimat itu kepada saya. Dan setelah itu secara ajaib semuanya terasa lebih baik. Mungkin Mas Arum sudah lupa tentang kejadian itu. Tapi saya berjanji akan mengingat kalimat itu sepanjang hidup saya.

Faisal Riza: “Selama ini aku hanya bisa melihat orang lain berjuang. Kurasa ini saatnya bagiku untuk berhenti melihat orang lain dan berjuang untuk diriku sendiri.”

Sebenarnya ini adalah quote saya sendiri. Jujur saja saya dulu adalah seorang supporter bola yang akan bahagia hanya karena tim favorit saya menang. Konyol memang. Bahagia karena perjuangan dan hasil yang di dapat oleh orang lain. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai merasa kehilangan gairah terhadap sepakbola. Saya awalnya berpikir mungkin karena faktor usia. Tapi akhirnya saya sadar bahwa ini berarti cukup bagi saya untuk melihat orang lain berjuang, Kini adalah waktu bagi saya untuk berjuang dan meraih kebahagiaan dari apa yang saya raih sendiri.

Faisal Riza: “Bahagia adalah ketika kita berhasil melakukan sesuatu dan orang lain mengapresiasi hal itu.”

Lagi-lagi ini quote saya sendiri. Sebenarnya ini adalah sudut pandang saya mengenai kebahagiaan sebagai seorang yang berkarya. Ya, jujur saja saya sangat bahagia ketika saya melalukan sesuatu –dalam hal ini menciptakan/melakukan suatu karya-, lalu ada orang yang mengapresiasinya. Sebagai contoh saya bahagia ketika saya berstand up dan semua orang tertawa, saya bahagia ketika karya foto yang saya upload ke Instagram mendapat banyak like, saya bahagia ketika dulu saya sekolah, dengan sebuah gitar saya bernyanyi dan semua mata tertuju pada saya. Karena saya sudah tahu apa yang membuat saya bahagia, maka saya akan berusaha sekuat yang saya bisa untuk meraihnya.

Faisal Riza: “Tubuhku ini sedikit mirip dengan binatang buas. Binatang buas bisa dijinakkan ketika aku memperlakukannya dengan baik. Ya, ketika aku memperlakukan binatang buas dengan baik, semua akan baik-baik saja. Dan jika aku memperlakukannya dengan sebaliknya, maka layaknya binatang buas, tubuhku akan mengamuk dan para penyakit itu akan berdatangan.”

Dan lagi-lagi, ini adalah quote saya sendiri. Sebenarnya saya pernah membahas quote ini DI SINI. Ketika itu saya sakit. Dan saat itu saya sadar bahwa saya tidak memperlakukan tubuh saya dengan baik. Saya begadang, makan tidak teratur, dan lain sebagainya. Dan layaknya binatang buas yang tidak diperlakukan dengan baik, tubuh saya memberontak dan saya sakit. Quote di atas akan selalu saya ingat karena sebagai orang yang mudah sakit, jika saya sudah tahu apa yang membuat saya sakit, tentu akan lebih mudah untuk mengantisipasinya.

Saya rasa baru itu yang bisa saya tulis. Artikel ini tentu masih bisa berubah. Ya, jika saya menemukan quote lain yang berpotensi untuk bertahan di benak saya sepanjang perjalanan hidup saya.

Jumat, 08 April 2016

Tentang Mimpi Semalam



Aku rasa itu adalah waktu terbaik dari sekian banyak waktu yang pernah terbuang di dalam hidupku. Ketika kita berdua larut dalam obrolan itu. Ya, hanya aku dan kamu. Seorang gadis dengan kulit putih dan rambut hitam lurus yang panjangnya sekitar 5 atau 10 cm dari bahu. Seorang gadis dengan senyum termanis yang pernah kutemui .

Obrolan itu, mungkin adalah obrolan paling menyenangkan yang pernah terjadi sepanjang hidupku. Ketika kita menunggu pertunjukkan itu dimulai dan saling berbicara tentang sesuatu yang sama-sama kita cintai. Stand up comedy.

Ya, aku tidak akan pernah melupakan momen itu. Bayang-bayang wajahmu yang berseri ketika kamu bercerita banyak hal tentang stand up comedy, wajah serius kamu ketika aku mulai mengungkapkan pandanganku tentang stand up comedy, aku tak kan pernah bisa melupannya. Sebuah kenangan yang akan terus bertahan di dalam hidupku.

Tahukah kamu? Satu hal yang selalu kuinginkan ketika aku berbicara denganmu adalah … aku hanya berharap semoga obrolan itu tak pernah berakhir. Karena hanya pada saat itu mata kita bisa saling bertemu. Dan lebih dari itu, hanya pada saat itu aku bisa memastikan bahwa senyumanmu hanya tertuju padaku.

Aku menghela napas. Sekedar untuk melepaskan sedikit bebanku.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar tahu bagaimana obrolan itu bisa terjadi. Bahkan aku tidak tahu bagaimana obrolan itu tiba-tiba bisa berakhir. Lebih jauh dari itu, bahkan aku tidak tahu siapa namamu. Karena ketika aku mulai menyadari semuanya, aku telah terbangun dari tidurku. Sebelum kamu sempat menyebut namamu.

Ya, obrolan itu memang tidak nyata. Tak lebih dari sebuah mimpi yang hanya berfungsi sebagai penghias tidurku. Namun tetap saja bagiku itu terasa sangat nyata. Bukan hanya tentang obrolan itu, tapi juga perasaan itu. Perasaan bahagia ketika obrolan itu berlangsung, perasaan takut dan berpikir apakah ucapanku salah ketika kamu tak merespon perkataanku, dan perasaan aneh ketika senyuman itu mengembang … semua terasa begitu nyata untukku.

Perasaan itu … bukankah yang seperti itu adalah sesuatu yang biasa disebut orang-orang dengan cinta?

Ah, aku tahu ini memang terdengar konyol. Jatuh cinta dengan seseorang yang bahkan tak kuketahui namanya. Ah, maksudku seorang gadis yang hanya kutemui di dalam mimpiku. Yang bahkan aku tidak bisa memastikan apakah gadis itu benar-benar nyata.

Jika ini adalah drama korea atau shoujo manga, mungkin beberapa hari lagi aku akan bertemu denganmu di kehidupan nyata. Sebuah pertemuan romantis seperti yang biasa tergambar di dalam drama. Seperti tabrakan di koridor kampus atau secara tidak sengaja tangan kita bersentuhan ketika mengambil gorengan di warung HIK atau situasi romantis lainnya. Dan kemudian benih cinta akan tumbuh dan semua akan berakhir bahagia. Jika ini adalah drama Korea atau shoujo manga.

Namun hidup bukanlah drama korea atau shoujo manga. Mungkin selamanya kamu hanya akan menjadi gadis tanpa nama yang hanya akan muncul di dalam mimpiku. Jika itu yang terjadi, maka malam ini ketika aku terlelap aku hanya berharap bisa bertemu lagi denganmu. Lalu berbicara banyak hal tentang stand up comedy yang kita cintai. Dan kemudian aku berharap agar mimpi itu abadi, tak masalah jika itu berarti aku tidak akan pernah terbangun dari tidurku lagi.

Senin, 04 April 2016

Setelah Sekian Lama, Akhirnya Aku Mulai Menyadarinya



Rumah sakit. Tempat itu bukanlah tempat yang terasa asing bagiku. Banyak hal yang telah kulalui di tempat itu. Mulai dari sekedar menjenguk kerabat, rawat jalan untuk diriku sendiri, masuk UGD di tengah malam, kemudian opname, dan bahkan operasi rasanya semua pernah aku jalani.

Puluhan penyakit telah membawaku untuk pergi ke tempat itu. Dari hanya karena digigit kucing karena takut rabies, flu, demam, keracunan makanan, demam berdarah, kuping infeksi, sesak napas, asam lambung, sinusitis, dan juga … ah, aku tidak terlalu ingat penyakit apa saja yang pernah membawaku ke tempat itu.

Terkadang aku bertanya, kenapa sang pencipta memberikan tubuh selemah ini untukku? Walau memang sebenarnya pertanyaan itu tidak pernah benar-benar selalu mengangguku. Hah … aku ingat ketika aku masih kecil, entah kenapa aku selalu bangga dengan jumlah catatan opnameku di rumah sakit. Jika aku mengingatnya, entah kenapa aku selalu ingin tertawa. Ya, bukankah itu terdengar bodoh? Jika waktu kecil aku sudah menyadari bahwa sakit ternyata rasanya semenderita ini, tentu aku tidak akan pernah bangga akan hal itu.

Dan hari ini, setelah sekian lama akhirnya aku menyadari sesuatu. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin. Ini bukan jawaban tentang kenapa sang pencipta memberiku tubuh yang lemah. Namun, ini lebih seperti jawaban kenapa penyakit-penyakit itu terus menerus menerorku. Sekali lagi, sebenarnya aku tidak terlalu yakin.

Hanya saja aku mulai berpikir bahwa tubuhku ini sedikit mirip dengan binatang buas. Binatang buas bisa dijinakkan ketika aku memperlakukannya dengan baik. Ya, ketika aku memperlakukan binatang buas dengan baik, semua akan baik-baik saja. Dan jika aku memperlakukannya dengan sebaliknya, maka layaknya binatang buas, tubuhku akan mengamuk dan para penyakit itu akan berdatangan.

Aku benar-benar baru menyadari itu hari ini. Ya, setelah beberapa hari yang kujalani dengan pola tidur dan pola makan yang buruk, kini tubuh ini mengamuk dan lagi-lagi aku terkapar tak berdaya. Padahal belum ada dua minggu sejak terakhir kali aku terkapar di UGD RSIS Surakarta, kini aku harus mengalaminya lagi. Rasanya benar-benar menyakitkan. Seperti ada binatang buas yang mencabik-cabik tubuhku dengan perasaan marah karena aku memperlakukannya dengan buruk.

Ya, aku memang agak lupa kapan terakhir kali aku berolahraga. Dan tiga hari terakhir juga kulewatkan dengan begadang. Open mic … ah, maksudku menonton open mic, menyaksikan Tottenham Hotspur bertanding, dan kemudian terbangun tengah malam hanya untuk melihat aksi Valentino Rossi di ajang Moto GP. Kemudian akhir-akhir ini aku juga jadi lebih sering makan mie instan. Terkadang makan sehari empat kali, tapi di hari lain aku hanya melakukan itu dua kali saja. Aku tak menyangka hal itu akan membuat binatang buas itu mengamuk.

Yah, kurasa aku telah tahu apa yang membuat binatang buas itu mengamuk. Jadi mungkin kini aku hanya perlu sedikit berdamai dengan binatang buas itu. Walau mungkin itu akan berarti aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada open mic atau kegiatan begadang lainnya, makan tidak teratur, dan hal-hal lain yang berpotensi membuat binatang buas itu marah kepadaku. Oh … ayolah, aku hanya ingin sedikit lebih sehat.