Kamis, 04 Februari 2016

Anggap Saja Kuliah Itu Sebuah Kejuaraan Balap


Pernah nonton balapan? Misal Moto GP, Atau F1 gitu? Pernah ya pastinya. Atau kalau enggak pernah nonton Moto GP atau F1, seenggaknya kamu pasti pernah nonton balap karung. Ya, cemen memang. Tapi, seenggaknya itu balapan juga.

Sebagai penikmat balap … ah, ralat. Lebih tepatnya sebagai penggemar Valentino Rossi, tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan sang idola terkadang mempengaruhi kehidupanku. Dari yang sederhana seperti ketika naik motor dan berbelok, kadang aku menurunkan kakiku. Aneh memang. Tapi, itu kayak Rossi. Sekali lagi memang aneh. Bahkan sampai pada kuliah pun balap juga mempengaruhi hal itu.

Yap, aku selalu mengibaratkan kuliah itu seperti sebuah kejuaraan balap. Di mana semester adalah sebuah musim kejuaraan. Mata kuliah adalah sebuah seri balap. Nilai mata kuliah adalah hasil posisi yang kita peroleh. Dan Indeks Prestasi Semester adalah total poin dari semua seri balap yang kita kumpulkan di sebuah musim kerjuaraan.

Kenapa aku melakukan itu? Biar semangat aja. Ah, tidak. Sebenarnya … tanpa kusadari aku sudah melakukan itu. Dengan kata lain, aku nggak benar-benar tahu kenapa aku harus melakukan itu.

Sebenarnya, karena alasan itu pula aku jadi terobsesi dengan nilai dan Indeks Prestasi. Ya, aku nggak benar-benar tahu apa yang akan aku dapatkan jika aku memiliki IP yang bagus. Mungkin mudah mencari pekerjaan atau apapun itu. Tapi, aku mengincar IP yang bagus bukan untuk itu. Atau seenggaknya aku belum berpikir tentang itu. Aku hanya berpikir tentang kepuasaan. Karena bagiku, ketika aku bisa mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya, aku merasa seperti baru saja memenangkan sebuah kejuaraan dunia.

Lalu tentang nilai, di kampusku system penilaiannya adalah: A:4 AB:3,5 B:3 BC:2,5 C:2 D:1 E:0. Sekedar informasi saja, aku selalu terobsesi untuk mendapatkan nilai minimal B di setiap mata kuliah. Karena seperti yang aku bilang di atas, bagiku mata kuliah adalah satu seri balap dan nilai adalah posisi yang kita raih di seri itu. Jadi bagiku … nilai A adalah podium pertama, AB adalah podium kedua, B adalah podium ketiga, BC, C, D, adalah empat dan seterusnya. Lalu E, anggap saja jatuh dari motor.

Lantas kenapa aku selalu menginginkan setidaknya nilai B? Ya karena B bagiku adalah podium ketiga. Dengan kata lain tempat terakhir di podium. Jadi intinya, kalau aku nggak bisa dapet podium teratas (A), seenggaknya aku masih bisa berdiri di podium walau cuma finis di posisi ketiga.

Dan hal itu membuatku sangat benci dengan nilai BC. Ya, aku benci dengan posisi keempat. Karena posisi keempat benar-benar tipis dengan podium. Terkadang, kita berpikir bisa mengamankan posisi podium terakhir. Tapi, kenyataannya kita justru harus terdampar di posisi keempat. Memang, kegagalan yang tipis dengan keberhasilan jauh lebih menyakitkan dari kegagalan yang benar-benar gagal.

Eh, kayaknya udah itu aja sih yang bisa aku tulis di kesempatan kali ini. Sampai jumpa. Aku mau pergi ke kampus dulu. Satu tempat di atas podium yang terlihat sangat bersinar dan berkilauan sudah menantiku.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar