Senin, 25 Januari 2016

SEKUMPULAN JILID 1: Journey to Dieng

Sekitar bulan Mei 2015, aku bersama tiga orang temanku melakukan sebuah ekspedisi yang sangat ... entahlah. Bingung juga gimana nyebutnya. Mungkin, bisa dibilang tidak terlupakan.

Berawal dari percakapanku dengan Ravi ketika aku sedang membeli sesuatu di warungnya. Akhirnya, kita memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan yang diberi label dengan nama SeKumpuLan. Waktu itu, kami berangkat tepat setelah Karangtaruna SIBI selesai menggelar kumpulan rutin setiap bulan. Sebenarnya itu juga sih alasan kenapa namanya disebut SeKumpuLan. Singkatan dari "Setelah Kumpulan Dolan". Hahaha, nggak jelas banget ya namanya. Tapi setelah aku ingat kembali, ternyata nama itu aku yang ngusulin.

Dan tujuan kita di ekspedisi SeKumpuLan yang pertama adalah ... Dataran Tinggi Dieng. Orang-orang yang tergabung dalam ekspedisi ini total ada empat orang. Aku, Ravi, Iwan, dan Pipit. Sekedar info: nama yang terakhir disebut, dia memutuskan untuk ikut hanya beberapa menit sebelum kami berangkat. Nama yang terakhir disebut juga bertanggung jawab besar atas kenangan luar biasa yang kami dapatkan selama ekspedisi SeKumpuLan.

Kami berangkat dengan mobil Toyota Altis milikku. Yang nyetir gantian. Oh, iya. Sebelumnya kami patungan. 1 orang membayar 100.000. Buat bensin, makan, biaya masuk wisata dan lain-lain. Selama di perjalanan menuju dieng, entah kenapa aku merasakan hal-hal yang membuat perasaanku menjadi nggak enak. Kayak pas kami baru sampai sekitar 3 atau 4 km dari rumah, si Pipit bilang ...

"Eh, entar kalau di jalan ngelindes kucing mending kita balik aja. Pokoknya aku nggak mau kalau diterusin. Balik aja."

Sumpah! Aku sama sekali nggak ngerti kenapa dia ngomong kayak gitu. Maksudku, ngelindes kucing? Kenapa dia bisa berpikir kalau kita bakalan ngelindes kucing?

Terus kejadian aneh juga terjadi pas lagi isi bensin. Waktu itu aku yang nyetir. Pas di pom bensin dan giliran mobilku yang diisi bensin, seperti orang normal lainnya, aku membuka kaca mobil sebelah kiri dan juga memencet tombol ... sebenarnya bukan tombol, sih. Mungkin lebih tepat jika aku bilang menarik pengait yang berfungsi untuk membuka secara otomatis tutup tangki. Dan seperti biasanya, terdengar bunyi *CETONG* ketika pengait itu ditarik. Hanya saja, kok agak aneh, ya. Tumben bunyi *CETONG*nya keras?

Setelah itu, dari jendela kiri yang terbuka, Ravi ngomong sama mas-mas penjaga pom bensin ...

"Mas, premium 100.000."

Mas-mas itu mengangguk paham. Lalu terlihat menyetel mesin yang aku nggak tahu apa namanya. Pokoknya yang ada di pom bensin gitu lah. Setelah mas-mas itu selesai dengan urusan mesinnya, anehnya mas-mas itu nggak langsung mengisi bensin ke mobilku. Tapi kayak kebingungan gitu. 

"Emm ... mas, maaf tapi, tutup tangkinya belum dibuka," ucap mas-mas itu sopan.

Hah? Belum dibuka? Kok bisa ya? Padahal kan tadi udah ada bunyi *CETONG* gitu. Masa iya belum kebuka? 

Akhirnya aku memutuskan untuk sekali lagi menarik kembali pengait yang aku tarik tadi. Tapi, ketika aku tarik nggak terdengar bunyi apa-apa. Itu artinya tutup tangkinya pasti udah kebuka. Ini aneh, deh. Ini masnya yang bego atau gimana, sih?

Tapi anehnya setelah itu mas-masnya nggak kunjung mengisi bensin mobilku. Entah kenapa firasatku jadi nggak enak.

"Emm ... mas, maaf tapi, tutup tangkinya belum dibuka," mas-mas itu mengulang kembali ucapannya yang tadi.

Sumpah! Ini aneh banget. Aku yakin banget harusnya tutup tangkinya udah kebuka. Ya udah, untuk memastikan, aku mengarahkan pandanganku ke bawah. Ke tempat di mana pengait itu ada. Beberapa detik aku mengamati pengait itu, akhirnya aku sadar bahwa yang aku tarik tadi ternyata pengait untuk membuka bagasi. Pantesan tadi bunyi *CETONG*nya keras banget.

Setelah tragedi pom bensin berakhir, perjalanan ke Dieng nyaris tanpa halangan yang berarti. Hanya saja, kebetulan pas kami udah sampai di dekat Bukit Sikunir, ada mobil jatuh ke jurang. Tapi tenang, mobil yang jatuh itu ke jurang itu sama sekali nggak ngaruh buat SeKumpuLan crew, kok.

Pas kami sampai di Dieng, waktu menunjukkan mungkin sekitar pukul 04.00 atau mungkin lebih pagi dari itu. Tujuan pertama kami adalah Bukit Sikunir. Ada satu alasan kuat kenapa kami memilih tempat itu sebagai tujuan pertama kami. Ya, satu alasan. Pengen lihat sun rise. Udah, itu doang, sih.

Oh, iya. Awalnya pas naik ke Sikunir, aku kira gampang aja. Kayak jalan kaki biasa. Atau seenggaknya kayak naik tangga biasa. Tapi ternyata berat banget. Licin dan gelap lagi. Buat orang yang nggak pernah naik gunung kayak aku, sumpah itu berat banget. Nah, sayangnya si Ravi dan Iwan itu pendaki gunung yang udah pro. Denger-denger mereka berdua udah puluhan kali naik turun Gunung Kemukus. Sementara Pipit udah pernah beberapa kali naik gunung. Jadi mereka bertiga naik dengan tenangnya dan jauh meninggalkanku. Bahkan kalau misal aku nyemplung ke jurang pasti mereka juga nggak bakal sadar. Karena emang jaraknya jauh banget.

Sampai di puncak Sikunir, apa yang terjadi? Kedinginan. Udah aku cuman diem aja karena emang dingin banget. Pas di puncak, entah kemana tiba-tiba si Ravi sama Iwan ngilang. Balik-balik mereka langsung bilang ...

"Kita barusan ngopi,"

Ngopi? Kayaknya mereka memang pendaki pro, deh. Bahkan di udara sedingin ini mereka masih kepikiran buat ngopi.

Waktu terus berlanjut dan akhirnya sun rise pun tiba. Matahari mulai muncul dari arah timur. Wajah-wajah gembira terlihat dari orang-orang lain yang juga berada di puncak saat itu. Tapi entah kenapa kok aku biasa aja ya. Banyak orang berkata kalau salah satu hal keren dari berada di ketinggian adalah ketika melihat matahari terbit. Tapi nggak tahu kenapa aku biasa aja. Dan di saat itulah aku mulai sadar dan bergumam ...

"Kayaknya aku emang nggak cocok sama ketinggian, deh."

Ya, aku nggak cocok sama ketinggian. Aku takut nyemplung ke jurang, aku nggak suka kedinginan pas di ketinggian, aku benci merasa capek karena berjalan di jalan setapak yang licin dan mendaki, dan bahkan aku nggak terlalu bahagia saat menyaksikan matahari terbit dari tempat yang tinggi.

Oh, iya. Di Sikunir kami juga sempat foto-foto ...
Anggap saja ini groufi

Pas udah turun dari Bukit Sikunir

Ravi bersama mobil yang kami tumpangi selama ekspedisi SeKumpuLan


Saat urusan kami dengan Sikunir selesai, kami balik lagi ke mobil. Dan di saat itu, pertentangan batin datang. Ini kita mau ke mana lagi ya? Akhirnya setelah dipikirkan secara masak-masak, kami memutuskan untuk pergi ke Candi Arjuna.

Nggak banyak hal yang kami lakukan di Candi Arjuna. Palingan cuma foto-foto. Dan sayangnya foto-foto pas kami ada di Candi Arjuna yang diambil dari HPnya Ravi secara misterius ilang. Gila! Sayang banget, kan.

Setelah kami foto-foto di Candi Arjuna, kami balik lagi ke mobil. Pas di mobil, lagi-lagi pertentangan batin kembali terjadi. Ini ke mana lagi ya? Akhirnya muncul usulan untuk pergi ke Kawah Sikidang. Tapi, ketika usulan itu muncul ke permukaan, Pipit merespon dengan kalimat ...

"Ngapain ke kawah? Kawah itu bau lho."

"Terus ke mana dong?" tanya Ravi.

"Ya terserah," jawab Pipit. Kebetulan waktu itu dia yang nyetir.

"Ke kawah aja lah. Udah sampai Dieng masak iya kita nggak ke sana?"

"Iya, deh. Kita ke kawah," Pipit akhirnya mengalah.

Mobil pun kembali melaju. Hingga akhirnya berhenti di tempat parkir Kawah Sikidang. Tukang parkir sudah mencarikan tempat untuk parkir. Tapi Pipit tidak juga memarkirkan mobil ini.

"Tuh, kan. Kawah itu ya cuman gitu doang. Bau lagi," Pipit membuka obrolan. Sepertinya dia masih mempertahankan keyakikan bahwa kami nggak perlu ke Kawah Sikidang.

"Lha gimana?" tanya Ravi.

"Iya. Kawah itu bau. Kita nggak usah ke sini aja ya," Iwan mulai terpengaruh ucapan Pipit.

Gara-gara percakapan ini, aku sama Ravi jadi ikutan ragu. Dan akhirnya, kami nggak jadi masuk ke kawah Sikidang. Beberapa hari setelah ekspedisi Dieng, pas aku ke warungnya Ravi, akhirnya aku tahu kalau Ravi punya penyesalan yang sama denganku. KOK KEMARIN KITA NURUT DAN NGGAK JADI KE SIKIDANG?

Setelah dari parkiran Kawah Sikidang, kami lagi-lagi bingung mau ke mana. Dan akhirnya kami memutuskan untuk ke Telaga Warna. Pas sampai di parkiran, lagi-lagi Pipit ngomong ...

"Kita beneran ke Telaga Warna?"

Kami menatap Pipit dengan tatapan bingung.

"Enggak. Maksudku itu cuman air yang tergenang. Nggak beda jauh sama Waduk Cengklik," lanjut Pipit. Yang belum tahu Waduk Cengklik, Waduk Cengklik adalah sebuah waduk yang letaknya enggak jauh dari rumah kami.

Lagi-lagi Pipit melakukan gelagat yang sama seperti ketika kami ada di parkiran Kawah Sikidang. Tapi, untungnya kali ini Iwan nggak terpengaruh. Dan akhirnya kami turun dari mobil dan benar-benar pergi ke Telaga Warna. Tapi sebelum kami benar-benar mengayunkan langkah, Pipit bilang ...

"Aku nunggu di mobil aja. Mau tidur."

Dan akhirnya, yang pergi ke Telaga Warna cuman aku, Ravi, sama Iwan. Di Telaga Warna kita cuma foto-foto aja. Dan untungnya kali ini fotonya nggak kehapus. Dan ini dia  foto-foto pas di Telaga Warna ...
dieng
Sumpah, ini airnya nggak aku minum

Ini sebenarnya sama kayak yang di atas. Cuman dikasih efek. Tapi entah kenapa kok jadi mirip di film-film Dinosaurus gitu ya?

Maunya sih biar dikira menghirup sejuknya udara Dataran Tinggi Dieng
Yang ini ...

Kalau kayak gini airnya jadi kelihatan ijo ya. Jadi mirip kayak kolam koi nggak pernah dikuras

Groufi yang gagal. Dari kiri: Ravi, Aku, Iwan.

Setelah gagal groufi sama manusia, akhirnya foto sama kayak ginian aja

Ceritanya lelah, terus beristirahat

Anggap aja aku lagi kesurupan arwah Eyang Kumalasari

Jangan pernah bertanya ini pose macam apa
Setelah kami bertiga puas jalan-jalan di Telaga Warna, akhirnya kami balik ke mobil. Tapi pas sampai parkiran, Pipit nggak ada di mobil. Kami sedikit bingung waktu itu. Hingga, tak lama setelah itu pipit muncul dan berkata ...

"Kok kalian lama, sih?"

Lah, tadi salah sendiri nggak ikut.

Setelah dari telaga Warna, akhirnya kami pulang. Selama perjalanan pulang, full aku yang nyetir. Pas di jalan kita mampir jajan Sate Kambing. Tapi ternyata Sate Kambing di sana nggak seenak Sate Kambing di Solo.

Dari perjalanan ini, ada beberapa hal yang akhirnya bisa kami bawa pulang. Foto-foto, kenangan, kebersamaan, pengalaman, dan tentunya makanan khas dataran tinggi Dieng. CARICA ...
khas dieng
Ini rasanya seger banget lho
Terakhir, sebelum aku menutup artikel ini, aku berharap suatu saat nanti SeKumpuLan bisa melakukan ekspedisi lagi. Ke tempat yang keren lagi dan mendapatkan pengalaman baru lagi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar