Senin, 11 Januari 2016

Masa Lalu, Tentang Semua Yang Mulai Berubah



Masa lalu …

Aku selalu meyakini bahwa akan banyak hal yang berubah seiring dengan berjalannya waktu. Mulai dari apa yang bisa kita lihat hingga sesuatu yang tak kasat mata, seperti perasaan. Ya, semua akan berubah, seakan melangkah meninggalkan masa lalu. Hingga pada akhirnya, masa lalu hanya akan bertahan menjadi sebuah kenangan. Atau bahkan sesuatu yang mungkin akan terlupakan.

Hah …

Aku menghembuskan napas tera~ ah, maaf. Kurasa aku membuat kesalahan. Bukankah menghembuskan napas terakhir biasa digunakan untuk menyebut orang yang baru saja meninggal dunia? Baiklah, mungkin akan lebih tepat jika aku berkata … aku menghela napas panjang.

Pagi ini adalah sebuah pagi kesebelas milik bulan januari 2016. Sebuah pagi yang kuisi dengan aktifitas standar ketika di kampusku sedang ada ujian. Apalagi kalau bukan membuat contekan. Aku tahu aktifitas membuat contekan memang terdengar sangat hina. Tapi, percayalah aku tidak melakukan itu di setiap mata kuliah, kok. Hanya saja, hari ini adalah giliran dari mata kuliah Statistik yang diujikan kepadaku. Kalian harus tahu, Statistik adalah mata kuliah yang benar-benar mengerikan.

Di suasana kamar yang tenang dan sepi, ketika kebosananku pada aktifitas membuat contekan seolah memuncak, aku memutuskan untuk mengecek blog ini. Walau aku tahu biasanya sepi, tapi aku tetap berpikir siapa tahu ada orang yang meninggalkan sebuah komentar di salah satu postinganku.

Dugaanku tak meleset, ada komentar baru yang bersarang di blogku. Sebuah komentar yang berasal dari orang yang seolah tidak mau diketahui identitasnya. Anonym. Ya, walau sebenarnya aku cukup yakin orang yang berkomentar itu adalah kamu. Seorang gadis yang dulunya adalah teman SMPku. Kamu, gadis yang mengaku anti-sosial hingga tidak sadar ketika tetangganya meninggal.   

Komentar itu, sebuah komentar berisi link sebuah blog lengkap dengan perintah untuk membacanya. Tidak, maksudku … lengkap dengan larangan untuk tidak tertawa setelah membacanya.

Tanpa membuang waktu, aku segera meluncur menuju link itu. Ketika blog itu mulai muncul di layar tabletku, aku segera memastikan satu hal. “Ternyata benar, blog ini memang milik kamu,” gumamku setelah aku benar-benar memastikan hal itu.

Dan beberapa detik setelahnya, mataku mulai fokus membaca sebuah postingan di blog itu. Sebuah postingan yang entah kenapa rasanya ditujukan untukku. Sebuah postingan berjudul ... kurasa aku tidak bisa memberitahukannya di sini.

Postingan itu … bercerita tentang masa lalu. Seolah membawaku kembali mengenang apa yang pernah terjadi antara aku dan kamu. Ya, benar. Bukan kita. Tapi, antara aku dan kamu. Karena pada faktanya, memang tidak pernah ada kata kita antara aku dan kamu.

Aku terus membaca postingan itu hingga selesai. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa banyak hal yang telah berubah. Ya, setidaknya pada diriku. Dan entah kenapa aku juga yakin kamu pasti merasakan hal yang sama pada dirimu.

Pada awalnya aku sedikit ragu apakah postingan itu benar-benar ditujukan untukku. Maksudku, tentang anak? Hah? Anak? 11 anak, atau 3 anak? Jujur saja aku tidak merasa pernah membicarakan hal semacam itu. Maksudku, apakah aku benar-benar pernah membicarakan hal sememalukan itu?

Kemudian kamu menulis tentang bola. Di paragraph itu aku mulai sedikit percaya bahwa postingan itu sepertinya memang ditujukan untukku.

Ya, aku ingat itu. Kamu suka Manchester United. Sementara aku Real Madrid dan Tottenham Hotspur. Aku juga ingat momen ketika menemanimu bergadang saat Manchester United bertanding. Walau seringkali sebelum pertandingannya selesai, kamu sudah lebih dulu tertidur.

Tapi sejauh ingatan yang tersimpan di memoriku, kok aku tidak pernah ingat ya kalau kamu pernah menemaniku bergadang saat Tottenham hotspur bertanding? Hehe.

Tapi, itu tinggal kenangan. Hal itu sudah berubah. Sekarang aku bukan lagi penggila bola. Terakhir kali aku pergi ke stadion adalah di suatu sore pada bulan Oktober 2014. Dan aku yakin, sekarang kamu juga bukan lagi pecinta bola. Bahkan aku yakin kamu sudah berhenti bergadang untuk menonton sepakbola jauh sebelum aku melakukannya.

Lalu kamu juga menulis tentang insomnia. Kamu berkata bahwa aku adalah orang dengan insomnia terparah yang pernah kamu temui. Kamu juga berkata jika aku adalah satu-satunya orang yang akan kamu hubungi saat kamu terkena imsomnia.

Aku juga ingat itu. Kamu tahu? Setelah aku ingat-ingat kembali, aku juga selalu berusaha menghubungimu ketika aku terkena imsomnia. Meski jika aku ingat kembali, sepertinya waktu itu aku selalu mengalami insomnia setiap hari.

Tapi, itu tinggal kenangan. Hal itu juga telah berubah. Aku bukan lagi orang yang mengidap insomnia terparah. Bahkan saat ini, jika aku tidur terlalu larut –lebih dari jam 10- selama dua hari beruntun, bisa dipastikan di hari selanjutnya aku akan masuk angin. Sebenarnya itu juga alasan kenapa sehari setelah sebuah malam yang kulewatkan dengan open mic, aku akan menghabiskan hariku dengan beristirahat total.

Aku tahu kamu juga pasti berubah. Saat ini, ketika kamu mengalami insomnia, aku yakin ada orang lain yang akan kamu hubungi.

Setelah itu, musik. Aku benar-benar tidak menyangka kamu berkata ingin mendengarkanku bernyanyi. Jika saja dulu kamu mengatakan itu padaku, mungkin aku bisa membuat sebuah lagu untuk kamu. Dan bahkan, kita bisa bernyanyi bersama.

Hah … tapi semua pasti sudah berubah. Aku yakin kamu sudah tidak membutuhkan itu lagi.

Lagipula sepertinya aku juga berubah. Akhir-akhir ini kurasa aku mulai jarang berinteraksi dengan gitarku.

Kemudian kamu menulis jika kamu ingat aku selalu mengirimimu SMS sekitar jam setengah delapan malam. Ya, aku juga ingat itu. Maksudku, aku tidak ingat dengan detail jam berapa aku mengirimimu SMS. Hanya saja aku  masih ingat jika kita sering saling bertukar SMS saat itu. Mungkin hampir setiap saat.

Lalu kamu berkata bahwa karena hal itu, kamu berusaha untuk belajar lebih awal. Aku memejamkan mataku. Mencoba mengingat kembali kejadian di masa lalu. Siapa tahu ternyata aku juga melakukan hal yang sama. Dan setelah berusaha sedikit keras, akhirnya aku ingat, ternyata aku sama sekali tidak pernah belajar.

Kamu juga berkata walau kita sering bertukar SMS, bukan berarti kita benar-benar dekat ketika berada di sekolah.

Kamu tahu? Saat aku bertukar SMS denganmu, entah kenapa itu terasa menyenangkan. Tidak, maksudku lebih seperti nyaman. Kemudian aku pernah berpikir untuk setidaknya mengajakmu berbicara di kelas. Dan entah kenapa, kamu selalu menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang seolah tidak tertarik dengan topik yang kulontarkan. Tahukah kamu? Itu membuatku merasa sedikit canggung.

Aku ingat, waktu itu Tottenham Hotsur kalah dengan skor 2-1 di kandang Manchester United. Esok paginya, aku berjalan mendekat ke bangkumu. Lalu mencoba untuk memberikan selamat. Aku sangat ingat kamu hanya menjawab dengan kata “Oh”.

Apa kamu masih ingat, ketika kita kelas tiga, di jam pelajaran geografi, Pak Saimun pernah menyewa sebuah bus dan membawa kita ke gunung madu. Waktu itu, setelah perjuangan yang berat menuju puncak, kamu terduduk dengan pandangan yang tertuju ke sebuah tempat yang sepertinya sangat jauh.

Aku tidak tahu apakah kamu menyadarinya atau tidak. Tapi, waktu itu aku duduk di sampingmu … ah, maksudku sekitar satu meter atau mungkin lebih sedikit di sampingmu. Aku lupa apakah waktu itu ada percakapan yang terjadi di antara kita. Satu hal yang masih kuingat adalah, untuk beberapa kali aku mengarahkan pandanganku ke wajahmu yang terus saja melihat ke kejauhan.

Kamu mungkin lupa. Tapi, waktu itu kamu pernah membuat status di Facebook yang menyebutkan bahwa ada seseorang di kelas yang kamu sukai. Aku pernah bertanya tentang hal itu. Tapi kamu tidak pernah menjawabnya. Ya, aku tidak pernah mendapat jawaban dari pertanyaan itu dari kamu.    

Meski waktu itu mungkin kamu tahu jika aku menyukai seseorang, tahukah kamu waktu aku menyakan hal itu kepadamu … entah kenapa aku berharap kamu akan menjawab dengan menyebut namaku.

Beberapa bulan berganti. Kita lulus SMP dan memulai hari yang baru di SMA masing-masing. Aku ingat waktu itu aku mendapat kabar dari Yudha kalau kamu jadian dengan Paijo. Dan fakta itu seolah menjawab pertanyaan yang pernah kulontarkan padamu. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah kamu jawab secara langsung.

Jujur saja aku tidak benar-benar tahu apa nama perasaan yang kurasakan ke kamu. Tapi ketika aku mendengar kabar itu, entah kenapa aku merasa kecewa. Atau kesal. Atau entahlah, aku tidak benar-benar tahu bagaimana aku harus menyebutnya. Hanya saja aku tahu bahwa itu bukan sesuatu yang baik.

Selama ini aku selalu merasa bahwa aku adalah pecundang sejati. Seseorang yang hanya bisa mencintai tanpa tahu bagaimana rasanya dicintai. Tapi setelah membaca postinganmu, entah kenapa aku sangat ingin berterimakasih kepada kamu. Entah kenapa aku mulai merasa bahwa ternyata hidupku tak seburuk yang aku pikirkan selama ini.

Setelah membaca postinganmu pula kurasa aku menemukan jawaban sesungguhnya dari pertanyaan yang dulu pernah kulontarkan kepadamu.

Tapi, seperti yang kukatakan di awal. Seiring berjalannya waktu, semua pasti berubah. Dan itu mungkin juga berlaku kepada perasaan yang kamu rasakan. Tidak, bukan mungkin. Tapi aku yakin perasaan itu pasti sudah berubah. Dan ketika waktu terus berputar, mungkin kamu akan lupa kalau kamu pernah memiliki perasaan itu.

Sebelum aku mengakhiri tulisan ini, aku akan berkata bahwa aku menuruti permintaanmu untuk tidak tertawa setelah membaca postinganmu. Ya, aku tidak tertawa. Hanya saja aku sedikit merenung.

Andai saja waktu bisa diputar kembali, kurasa ketika aku berada di kelas 9C duduk di bangku yang waktu itu dan menghadap kebelakang, aku akan menggeser arah pandanganku beberapa centimeter dari arah yang waktu itu selalu kutuju.

2 komentar:

  1. Okay then i just realized that postingan ini gbs dikomen.sori ya bombing, tapi aku ra terimo sumpah aku tau ngancani kowe nonton spurs nek ra salah. Oiyo siji ngkas, aku isin bgt sumpah, dadi nek kowe weruh aku neng dalan merem wae ya, bkos i gapunya muka lg. Bhay.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nek ketemu neng ndalan, mangsamu aku ra bakal canggung pho

      Hapus