Sabtu, 30 Januari 2016

Setelah Nonton Himouto! Umaru-chan [Review Anime]



Seneng nggak sih kalau misal film, novel, anime, atau manga yang kamu baca/tonton, karakter utamanya kerasa dekat sama karakter kamu? Pastinya seneng, dong. Atau, sebenarnya aku juga nggak terlalu yakin. Cuman, kalau aku sih seneng.

Ngomongin menikmati karya yang karakter utamanya kerasa dekat, beberapa hari yang lalu aku baru aja menamatkan menonton anime secara marathon yang entah kenapa karakter utamanya itu kerasa dekat sama aku. Dan anime itu berjudul Himouto! Umaru-chan.

Ok, sebelum aku memulai banyak hal, aku akan memberi info dasar mengenai anime ini.

Himouto! Umaru-chan (干物妹!うまるちゃ) adalah anime adaptasi dari manga karangan Sankaku Head yang memiliki judul yang sama. Mulai tayang 9 Juli 2015 hingga 24 September 2015 dengan jumlah total 12 episode.
 ***
SINOPSIS
Doma Umaru, gadis SMA yang di sekolah terkenal sangat sempurna ternyata memiliki karakter yang berbeda dengan saat berada di dalam rumah. Dan cerita anime ini juga seputar itu.

Udah. Itu aja, sih. Sorry, aku nggak terlalu jago bikin sinopsis. Kalau mau copas, kayaknya itu dosa, deh.
***
Penilaianku tentang anime ini …

JALAN CERITA
Keren. Lucu dan menghibur. Nggak ngebosenin. Keren lah pokoknya. Sesuai dengan ekspektasiku. Dari awal aku memang udah pengen ketawa. Dan akhirnya, ekspektasi itu terpenuhi. Memuaskan.

KARAKTER
Seperti yang aku bilang di awal. Karakter utama di anime ini entah kenapa kerasa mirip aja dengan karakterku. Ya, nggak tahu kenapa dalam beberapa hal aku merasa ada kemiripan antara aku dan Doma Umaru. Dan itu yang membuatku suka sama anime ini.
Umaru-chan
Umaru  memiliki karakter yang berbeda antara ketika dia berada di sekolah dan pas dia di rumah. Kurang lebih, aku juga gitu. Entah kenapa aku kayak gitu juga. Sebenarnya itu adalah alasan kenapa kalau ada temen yang mau berkunjung ke rumahku, selalu aku tolak. Soalnya, aku memiliki karakter yang berbeda ketika di rumah dan sekolah/kampus. Kalau temen sekolah/kampus main ke rumah, dua karakterku ini bisa bertabrakan. Aku cuma nggak tahu bagaimana aku harus bersikap kalau hal itu terjadi.

Umaru juga seneng di kamar seharian. Baca manga, main game, nonton anime, internetan. Nah, aku juga sama. Nggak tahu kenapa aku juga seneng males-malesan di dalam kamar. Cuman bedanya aku nggak main game.

Eh, kayaknya cuman itu doang yang mirip. Tapi bagaimanapun juga kemiripan yang segelintir itu tetap membuatku merasa dekat sama Umaru.

Untuk karakter favorit … kayaknya Bomber, deh. Nama aslinya Takeshi Motoba. Tapi sama temen-temennya dipanggil Bomber. Kenapa aku suka dia? Satu alasan aja. Dia itu lucu banget. Membuat anime yang lucu ini berasa jadi super lucu.
 
Bomber
SOUNDTRACK
Aku suka endingnya. Cuman, judul sama yang nyanyi siapa aku lupa. Atau lebih tepatnya nggak tahu. Atau sebenarnya bisa aja aku cari di google, tapi males.

ART, GRAPHIC, DLL
Sorry, aku nggak ngerti sama yang begituan. Namanya juga cuman sok-sokan ngeriview.

KENIKMATAN MENONTON
Rasanya kayak makan bakso di hutan amazon. Mantab!

KESIMPULAN
Anime ini sangat recommended alias aku kasih kalian rekomendasi untuk menontonnya.

Rabu, 27 Januari 2016

Memilih Jurusan Kuliah, Antara Passion Atau Prospek



Bagi banyak orang, memilih jurusan kuliah adalah sesuatu yang sangat dilematis. Ya, benar-benar berat. Setidaknya bagi orang-orang yang memang peduli dengan masa depannya.

Memilih jurusan kuliah benar-benar membutuhkan pertimbangan yang sangat matang. Bahkan, banyak siswa kelas 3 SMA yang dipusingkan dengan jurusan mana yang akan mereka pilih ketika menginjak bangku perkuliahan padahal ujian nasional/ujian akhir belum berlangsung.

Dan memikirkan tentang hal itu, entah kenapa aku memiliki kesimpulan bagaimana cara manusia memilih jurusan kuliah. Sebenarnya ada dua alasan kuat dalam pemilihan jurusan kuliah. Kalau enggak menuruti passion, maka dia akan menuruti prospek. Selalu seperti itu. Ya walau ada pertimbangan yang lain, sih. Tapi yang paling dominan tetap dua hal itu. Antara prospek dan passion.

Di artikel kali ini, entah kenapa aku ingin membahas itu dengan detail. Tapi tentu saja masih dalam batasan sedetail yang aku mampu. Baik, daripada kelamaan mending kita langsung aja.

PASSION
Beruntunglah kamu wahai orang-orang yang tahu passionmu sedari dini. Karena ketika kamu menemukan passionmu, kemudian kamu berkuliah di jurusan yang memang sesuai dengan passionmu, bisa jadi itu adalah kenikmatan dunia yang sesungguhnya.

Banyak hal positif yang akan kamu dapatkan kalau kamu kuliah di jurusan yang memang sesuai dengan passion kamu. Seperti kamu akan bersemangat dalam menjalani kuliah karena materi yang diberikan oleh dosen memang terkesan seakan dunia kamu banget. Terus kamu juga nggak bakal merasa salah jurusan. Semua itu terjadi ya karena kamu benar-benar mencintai bidang itu.

Tapi masalah terbesar dari memilih jurusan kuliah berdasarkan passion adalah, terkadang passion kamu nggak memiliki prospek yang bagus. Tentu saja dalam hal ini berkaitan dengan uang. Ok, mungkin kamu akan berkata semua akan baik saja asalkan kamu melakukan apa yang kamu suka. Tapi, apa benar begitu? Seenggaknya orang tua kamu nggak bakal memiliki pemikiran yang sama dengan kamu. Karena biasanya orang tua akan mengukur tingkat kebahagian dan kesuksesan anak dari berapa penghasilan yang anak dapatkan. Walau terkadang kebahagiaan dan kesuksesan tidak melulu masalah uang.

Jadi, kalau misalkan kamu ingin mengambil jurusan kuliah berdasarkan passion, saranku adalah mantapkanlah pilihanmu. Dan coba yakinkan orang tua kamu kalau pilihan yang kamu ambil adalah yang terbaik untuk hidup kamu. Karena aku yakin, selama kamu bisa melakukan apa yang kamu suka, semua akan baik-baik saja.

PROSPEK
Aku yakin kalau kamu memilih jurusan kuliah berdasarkan prospek, berarti kamu adalah orang yang sangat-sangat dewasa. Karena di usia semuda itu, kamu udah bisa menentukan apa yang terbaik buat kamu di masa mendatang.

Aku sangat yakin di dunia ini banyak sekali orang yang memilih jurusan kuliah karena prospek. Misal, perawat. Aku nggak yakin orang-orang yang mengambil kuliah perawat benar-benar bercita-cita untuk merawat orang lain. Ya, walau tidak semuanya, aku kok menduga kalau mereka memilih itu karena berpikir dengan masuk jurusan perawat akan mudah dalam mencari pekerjaan. Sekali lagi tidak semuanya kayak gitu.

Tapi menurutku, dibanding menuruti passion yang terkesan egois karena hanya akan melakukan apa yang kamu suka, melihat prospek adalah sikap yang lebih bijaksana. Kayak dewasa aja gitu. Melakukan sesuatu yang belum tentu kamu suka karena kamu yakin itu akan berguna untuk kamu di masa yang akan datang.

Dan satu hal lagi. Aku selalu meyakini bahwa semua hal di dunia ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk berubah. Bisa jadi apa yang nggak terlalu kamu sukai di masa sekarang akan menjadi hal yang akan kamu nikmati di masa mendatang.

Jika pada akhirnya kamu memilih jurusan kuliah berdasarkan prospek, aku hanya mau bilang kalau kamu adalah pribadi yang luar biasa. Saranku, tetaplah konsisten pada apa yang kamu yakini akan menjadi sesuatu yang baik di masa yang akan datang.

SARAN ORANG TUA  
Nah, ini. Banyak orang yang nggak bisa menemukan passionnya –atau seenggaknya dia menemukan passionnya tapi tidak terlalu yakin untuk menekuninya- dan nggak tahu tentang prospek hidupnya akhirnya memutuskan mengambil jurusan kuliah berdasarkan saran dari orang tua.  

Bukan hal yang buruk memang. Karena pada dasarnya orang tua pasti akan memilihkan yang terbaik untuk kamu. Atau seenggaknya mereka akan berusaha melakukan itu. Dan bahkan aku mengambil kuliah di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis pun karena saran dari orang tuaku.

Tapi memilih jurusan kuliah karena saran orang tua biasanya rawan akan beberapa hal. Seperti merasa salah jurusan dan lain sebagainya. Seenggaknya, itulah yang kadang kali aku rasakan. Hehe.

Tapi walau terkadang kamu kesulitan mengikuti perkuliahan, lambat laun kamu pasti bisa menyesuaikan dan menikmatinya, kok. Sekali lagi, seenggaknya itulah yang aku rasakan.

Saranku, sih. Kalau kamu memilih jurusan kuliah karena alasan saran dari orang tua, yakinkan diri kamu kalau orang tua kamu memilihkan yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu.

ALASAN CEMEN LAINNYA
Selain dua alasan dominan seperti prospek dan passion, atau alasan alternative seperti saran orang tua, masih ada alasan lain yang nggak tahu kenapa menurutku cemen. Misal memilih jurusan kuliah karena pacar atau orang yang kamu suka memilih jurusan itu di universitas itu juga. Atau karena kakak kamu dulunya juga memilih jurusan itu jadinya kamu nggak perlu repot beli buku tinggal pinjem punya kakak kamu. Atau karena gengsi. Atau alasan-alasan aneh lain yang semacam itu.

Jika kamu benar-benar memutuskan memilih jurusan kuliah karena alasan-alasan cemen seperti itu, saranku sih … kayaknya kamu perlu sholat istiqarah, deh.

Senin, 25 Januari 2016

SEKUMPULAN JILID 1: Journey to Dieng

Sekitar bulan Mei 2015, aku bersama tiga orang temanku melakukan sebuah ekspedisi yang sangat ... entahlah. Bingung juga gimana nyebutnya. Mungkin, bisa dibilang tidak terlupakan.

Berawal dari percakapanku dengan Ravi ketika aku sedang membeli sesuatu di warungnya. Akhirnya, kita memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan yang diberi label dengan nama SeKumpuLan. Waktu itu, kami berangkat tepat setelah Karangtaruna SIBI selesai menggelar kumpulan rutin setiap bulan. Sebenarnya itu juga sih alasan kenapa namanya disebut SeKumpuLan. Singkatan dari "Setelah Kumpulan Dolan". Hahaha, nggak jelas banget ya namanya. Tapi setelah aku ingat kembali, ternyata nama itu aku yang ngusulin.

Dan tujuan kita di ekspedisi SeKumpuLan yang pertama adalah ... Dataran Tinggi Dieng. Orang-orang yang tergabung dalam ekspedisi ini total ada empat orang. Aku, Ravi, Iwan, dan Pipit. Sekedar info: nama yang terakhir disebut, dia memutuskan untuk ikut hanya beberapa menit sebelum kami berangkat. Nama yang terakhir disebut juga bertanggung jawab besar atas kenangan luar biasa yang kami dapatkan selama ekspedisi SeKumpuLan.

Kami berangkat dengan mobil Toyota Altis milikku. Yang nyetir gantian. Oh, iya. Sebelumnya kami patungan. 1 orang membayar 100.000. Buat bensin, makan, biaya masuk wisata dan lain-lain. Selama di perjalanan menuju dieng, entah kenapa aku merasakan hal-hal yang membuat perasaanku menjadi nggak enak. Kayak pas kami baru sampai sekitar 3 atau 4 km dari rumah, si Pipit bilang ...

"Eh, entar kalau di jalan ngelindes kucing mending kita balik aja. Pokoknya aku nggak mau kalau diterusin. Balik aja."

Sumpah! Aku sama sekali nggak ngerti kenapa dia ngomong kayak gitu. Maksudku, ngelindes kucing? Kenapa dia bisa berpikir kalau kita bakalan ngelindes kucing?

Terus kejadian aneh juga terjadi pas lagi isi bensin. Waktu itu aku yang nyetir. Pas di pom bensin dan giliran mobilku yang diisi bensin, seperti orang normal lainnya, aku membuka kaca mobil sebelah kiri dan juga memencet tombol ... sebenarnya bukan tombol, sih. Mungkin lebih tepat jika aku bilang menarik pengait yang berfungsi untuk membuka secara otomatis tutup tangki. Dan seperti biasanya, terdengar bunyi *CETONG* ketika pengait itu ditarik. Hanya saja, kok agak aneh, ya. Tumben bunyi *CETONG*nya keras?

Setelah itu, dari jendela kiri yang terbuka, Ravi ngomong sama mas-mas penjaga pom bensin ...

"Mas, premium 100.000."

Mas-mas itu mengangguk paham. Lalu terlihat menyetel mesin yang aku nggak tahu apa namanya. Pokoknya yang ada di pom bensin gitu lah. Setelah mas-mas itu selesai dengan urusan mesinnya, anehnya mas-mas itu nggak langsung mengisi bensin ke mobilku. Tapi kayak kebingungan gitu. 

"Emm ... mas, maaf tapi, tutup tangkinya belum dibuka," ucap mas-mas itu sopan.

Hah? Belum dibuka? Kok bisa ya? Padahal kan tadi udah ada bunyi *CETONG* gitu. Masa iya belum kebuka? 

Akhirnya aku memutuskan untuk sekali lagi menarik kembali pengait yang aku tarik tadi. Tapi, ketika aku tarik nggak terdengar bunyi apa-apa. Itu artinya tutup tangkinya pasti udah kebuka. Ini aneh, deh. Ini masnya yang bego atau gimana, sih?

Tapi anehnya setelah itu mas-masnya nggak kunjung mengisi bensin mobilku. Entah kenapa firasatku jadi nggak enak.

"Emm ... mas, maaf tapi, tutup tangkinya belum dibuka," mas-mas itu mengulang kembali ucapannya yang tadi.

Sumpah! Ini aneh banget. Aku yakin banget harusnya tutup tangkinya udah kebuka. Ya udah, untuk memastikan, aku mengarahkan pandanganku ke bawah. Ke tempat di mana pengait itu ada. Beberapa detik aku mengamati pengait itu, akhirnya aku sadar bahwa yang aku tarik tadi ternyata pengait untuk membuka bagasi. Pantesan tadi bunyi *CETONG*nya keras banget.

Setelah tragedi pom bensin berakhir, perjalanan ke Dieng nyaris tanpa halangan yang berarti. Hanya saja, kebetulan pas kami udah sampai di dekat Bukit Sikunir, ada mobil jatuh ke jurang. Tapi tenang, mobil yang jatuh itu ke jurang itu sama sekali nggak ngaruh buat SeKumpuLan crew, kok.

Pas kami sampai di Dieng, waktu menunjukkan mungkin sekitar pukul 04.00 atau mungkin lebih pagi dari itu. Tujuan pertama kami adalah Bukit Sikunir. Ada satu alasan kuat kenapa kami memilih tempat itu sebagai tujuan pertama kami. Ya, satu alasan. Pengen lihat sun rise. Udah, itu doang, sih.

Oh, iya. Awalnya pas naik ke Sikunir, aku kira gampang aja. Kayak jalan kaki biasa. Atau seenggaknya kayak naik tangga biasa. Tapi ternyata berat banget. Licin dan gelap lagi. Buat orang yang nggak pernah naik gunung kayak aku, sumpah itu berat banget. Nah, sayangnya si Ravi dan Iwan itu pendaki gunung yang udah pro. Denger-denger mereka berdua udah puluhan kali naik turun Gunung Kemukus. Sementara Pipit udah pernah beberapa kali naik gunung. Jadi mereka bertiga naik dengan tenangnya dan jauh meninggalkanku. Bahkan kalau misal aku nyemplung ke jurang pasti mereka juga nggak bakal sadar. Karena emang jaraknya jauh banget.

Sampai di puncak Sikunir, apa yang terjadi? Kedinginan. Udah aku cuman diem aja karena emang dingin banget. Pas di puncak, entah kemana tiba-tiba si Ravi sama Iwan ngilang. Balik-balik mereka langsung bilang ...

"Kita barusan ngopi,"

Ngopi? Kayaknya mereka memang pendaki pro, deh. Bahkan di udara sedingin ini mereka masih kepikiran buat ngopi.

Waktu terus berlanjut dan akhirnya sun rise pun tiba. Matahari mulai muncul dari arah timur. Wajah-wajah gembira terlihat dari orang-orang lain yang juga berada di puncak saat itu. Tapi entah kenapa kok aku biasa aja ya. Banyak orang berkata kalau salah satu hal keren dari berada di ketinggian adalah ketika melihat matahari terbit. Tapi nggak tahu kenapa aku biasa aja. Dan di saat itulah aku mulai sadar dan bergumam ...

"Kayaknya aku emang nggak cocok sama ketinggian, deh."

Ya, aku nggak cocok sama ketinggian. Aku takut nyemplung ke jurang, aku nggak suka kedinginan pas di ketinggian, aku benci merasa capek karena berjalan di jalan setapak yang licin dan mendaki, dan bahkan aku nggak terlalu bahagia saat menyaksikan matahari terbit dari tempat yang tinggi.

Oh, iya. Di Sikunir kami juga sempat foto-foto ...
Anggap saja ini groufi

Pas udah turun dari Bukit Sikunir

Ravi bersama mobil yang kami tumpangi selama ekspedisi SeKumpuLan


Saat urusan kami dengan Sikunir selesai, kami balik lagi ke mobil. Dan di saat itu, pertentangan batin datang. Ini kita mau ke mana lagi ya? Akhirnya setelah dipikirkan secara masak-masak, kami memutuskan untuk pergi ke Candi Arjuna.

Nggak banyak hal yang kami lakukan di Candi Arjuna. Palingan cuma foto-foto. Dan sayangnya foto-foto pas kami ada di Candi Arjuna yang diambil dari HPnya Ravi secara misterius ilang. Gila! Sayang banget, kan.

Setelah kami foto-foto di Candi Arjuna, kami balik lagi ke mobil. Pas di mobil, lagi-lagi pertentangan batin kembali terjadi. Ini ke mana lagi ya? Akhirnya muncul usulan untuk pergi ke Kawah Sikidang. Tapi, ketika usulan itu muncul ke permukaan, Pipit merespon dengan kalimat ...

"Ngapain ke kawah? Kawah itu bau lho."

"Terus ke mana dong?" tanya Ravi.

"Ya terserah," jawab Pipit. Kebetulan waktu itu dia yang nyetir.

"Ke kawah aja lah. Udah sampai Dieng masak iya kita nggak ke sana?"

"Iya, deh. Kita ke kawah," Pipit akhirnya mengalah.

Mobil pun kembali melaju. Hingga akhirnya berhenti di tempat parkir Kawah Sikidang. Tukang parkir sudah mencarikan tempat untuk parkir. Tapi Pipit tidak juga memarkirkan mobil ini.

"Tuh, kan. Kawah itu ya cuman gitu doang. Bau lagi," Pipit membuka obrolan. Sepertinya dia masih mempertahankan keyakikan bahwa kami nggak perlu ke Kawah Sikidang.

"Lha gimana?" tanya Ravi.

"Iya. Kawah itu bau. Kita nggak usah ke sini aja ya," Iwan mulai terpengaruh ucapan Pipit.

Gara-gara percakapan ini, aku sama Ravi jadi ikutan ragu. Dan akhirnya, kami nggak jadi masuk ke kawah Sikidang. Beberapa hari setelah ekspedisi Dieng, pas aku ke warungnya Ravi, akhirnya aku tahu kalau Ravi punya penyesalan yang sama denganku. KOK KEMARIN KITA NURUT DAN NGGAK JADI KE SIKIDANG?

Setelah dari parkiran Kawah Sikidang, kami lagi-lagi bingung mau ke mana. Dan akhirnya kami memutuskan untuk ke Telaga Warna. Pas sampai di parkiran, lagi-lagi Pipit ngomong ...

"Kita beneran ke Telaga Warna?"

Kami menatap Pipit dengan tatapan bingung.

"Enggak. Maksudku itu cuman air yang tergenang. Nggak beda jauh sama Waduk Cengklik," lanjut Pipit. Yang belum tahu Waduk Cengklik, Waduk Cengklik adalah sebuah waduk yang letaknya enggak jauh dari rumah kami.

Lagi-lagi Pipit melakukan gelagat yang sama seperti ketika kami ada di parkiran Kawah Sikidang. Tapi, untungnya kali ini Iwan nggak terpengaruh. Dan akhirnya kami turun dari mobil dan benar-benar pergi ke Telaga Warna. Tapi sebelum kami benar-benar mengayunkan langkah, Pipit bilang ...

"Aku nunggu di mobil aja. Mau tidur."

Dan akhirnya, yang pergi ke Telaga Warna cuman aku, Ravi, sama Iwan. Di Telaga Warna kita cuma foto-foto aja. Dan untungnya kali ini fotonya nggak kehapus. Dan ini dia  foto-foto pas di Telaga Warna ...
dieng
Sumpah, ini airnya nggak aku minum

Ini sebenarnya sama kayak yang di atas. Cuman dikasih efek. Tapi entah kenapa kok jadi mirip di film-film Dinosaurus gitu ya?

Maunya sih biar dikira menghirup sejuknya udara Dataran Tinggi Dieng
Yang ini ...

Kalau kayak gini airnya jadi kelihatan ijo ya. Jadi mirip kayak kolam koi nggak pernah dikuras

Groufi yang gagal. Dari kiri: Ravi, Aku, Iwan.

Setelah gagal groufi sama manusia, akhirnya foto sama kayak ginian aja

Ceritanya lelah, terus beristirahat

Anggap aja aku lagi kesurupan arwah Eyang Kumalasari

Jangan pernah bertanya ini pose macam apa
Setelah kami bertiga puas jalan-jalan di Telaga Warna, akhirnya kami balik ke mobil. Tapi pas sampai parkiran, Pipit nggak ada di mobil. Kami sedikit bingung waktu itu. Hingga, tak lama setelah itu pipit muncul dan berkata ...

"Kok kalian lama, sih?"

Lah, tadi salah sendiri nggak ikut.

Setelah dari telaga Warna, akhirnya kami pulang. Selama perjalanan pulang, full aku yang nyetir. Pas di jalan kita mampir jajan Sate Kambing. Tapi ternyata Sate Kambing di sana nggak seenak Sate Kambing di Solo.

Dari perjalanan ini, ada beberapa hal yang akhirnya bisa kami bawa pulang. Foto-foto, kenangan, kebersamaan, pengalaman, dan tentunya makanan khas dataran tinggi Dieng. CARICA ...
khas dieng
Ini rasanya seger banget lho
Terakhir, sebelum aku menutup artikel ini, aku berharap suatu saat nanti SeKumpuLan bisa melakukan ekspedisi lagi. Ke tempat yang keren lagi dan mendapatkan pengalaman baru lagi.

 

Jumat, 22 Januari 2016

Setelah Nonton Bleach [Review Anime]



Kemarin, aku baru saja menamatkan sebuah anime. Anime yang ketika aku menontonnya, aku selalu melakukannya bersama adikku. Perlu waktu sekitar 14 bulan untuk menamatkan anime itu. Dan anime itu adalah … BLEACH!

Seperti yang kalian duga, kali ini aku akan mencoba untuk memberikan review secara sok-sokan kepada anime Bleach. Tapi sebelum itu, seperti biasa aku akan kasih info dasar mengenai anime itu dulu.

Ok.

Bleach merupakan anime hasil adaptasi dari manga karangan Tite Kubo yang memiliki judul yang sama. Mulai tayang pada 5 Oktober 2004 hingga berakhir tanggal 27 Maret 2012. Memiliki total 366 episode.

Info tambahan. Tahukah kalian? Aku mulai menonton anime itu dari bulan November 2014 hingga menamatkannya pada Januari 2016. Lama banget, ya.
***
SINOPSIS

Kurosaki Ichigo adalah seorang siswa SMA berusia 15 tahun yang bisa melihat hantu. Suatu hari, keluarganya diserang oleh hollow. Seorang Shinigami bernama Kuchiki Rukia datang menolong. Tapi karena terluka parah, Rukia tak berdaya dan akhirnya terpaksa memberikan kekuatannya kepada Ichigo agar Ichigo bisa melindungi keluarganya. Sejak saat itu, petualangan dimulai.
***
Penilaianku tentang anime ini …

JALAN CERITA
Keren, sangat keren. Maksudku, sebagai anime dengan genre action, Bleach benar-benar memiliki cerita yang mendebarkan.

FILLER STORY
Nah, ini dia. Meski cerita aslinya keren, tapi bukan berarti Bleach memiliki cerita yang tanpa cacat. Filler story alias cerita tambahan dalam anime ini seolah benar-benar sukses untuk membuat Bleach menjadi tidak sempurna.

Saat seru-serunya cerita tentang arrancar, eh malah tau-tau diselipin cerita tentang Lurichiyo. Benar-benar merusak mood. Mana episode fillernya banyak lagi.

SOUNDTRACK
Aku yakin banyak orang setuju kalau soundtrack anime Bleach itu keren-keren. Dari opening pertama yang lagunya Orange Range berjudul Asterisk, sampai opening terakhir Harukaze milik SCANDAL. Pokoknya, lagunya keren-keren, deh. Bahkan aku sampai bikin playlist berjudul Bleach Soundtrack.

Tapi kalau seumpama aku disuruh memilih satu di antara soundtrack Bleach yang keren-keren itu, aku kayaknya bakal milih ending song ketiganya untuk menjadi lagu favoritku. Sebuah lagu dari Younha berjudul Houki Boshi.

KARAKTER FAVORIT
Nah, ini dia bagian serunya. Karakter favorit. Aku bakalan sebut lima karakter favoritku di Bleach. Aku urutin dari yang nomor lima.

Kelima: Madarame Ikkaku
Madarame Ikkaku
Aku nggak tahu kenapa tapi aku suka aja sama Ikkaku. Keren aja. Udah gitu dia setia sama Kenpachi Zaraki yang merupakan kaptennya. Oh, iya. Aku sangat yakin kalau sebenarnya Ikkaku itu adalah Shinigami terkuat yang tidak menduduki jawaban kapten atau wakil kapten. Bahkan dia bisa bankai lho.

Keempat: Ishida Uryuu
Ishida Uryuu
Dia itu cerdas. Aku suka cara dia menganalisa pertarungan. Mencari kelemahan lawan. Pokoknya keren, deh. Mirip-mirip kayak Nara Shikamaru di Naruto kali, ya.

Ketiga: Hirako Shinji
Hirako Shinji
Tanpa alasan yang jelas, entah kenapa aku suka aja sama karakter yang satu ini.

Kedua: Ichimaru Gin
Ichimaru Gin
Misterius. Dengan wajah yang selalu menyeringai dan mata yang selalu tertutup, membuat Ichimaru semakin terlihat misterius. Dan itu dia kayaknya yang aku suka dari Ichimaru Gin. Misterius. Aku memang selalu suka karakter misterius dalam sebuah anime. Di Yu-Gi-Oh, aku suka Ryou Bakura. Di Naruto, aku suka Uchiha Itachi. Dan di One Piece, aku suka Shanks si Rambut Merah. Kenapa? Karena mereka misterius. Hal yang sama juga berlaku untuk Ichimaru Gin.

Pertama: Urahara Kisuke
Urahara Kisuke
Alasan utama kenapa aku suka Urahara sebenarnya mirip kayak alasan kenapa aku suka Ichimaru. Ya, misterius. Tapi, entah kenapa Urahara Kisuke lebih dari sekedar misterius. Dia juga jenius. Mantan kapten divisi 12. Sebuah divisi yang tugasnya adalah tentang riset dan pengembangan. Selalu terlihat santai dan ceria. Kadang ketika cengengesan, tiba-tiba raut wajanya berubah menjadi sangat serius. Dan ketika suasana menjadi tegang, dia kembali ke mode cengengesan. Pokoknya, Urahara Kisuke-san is the best. Bahkan aku pernah gambar pakai cat wajah Urahara di tembok  kamarku.

KELOMPOK
Ada banyak kelompok dalam Bleach. Dari Gotei 13 hingga arrancar. Tapi, aku punya satu kelompok favorit. Mereka adalah Vizard yang dipimpin oleh Hirako Shinji dan beranggotakan mantan-mantan Shinigami.
Vizard

KENIKMATAN MENONTON
Sebenarnya, nikmat-nikmat aja, sih. Sayang filler storynya agak mengganggu.

KESIMPULAN
Bleach sangat-sangat recommended alias saya rekomendasikan untuk kamu tonton. Oh, iya. Karena manganya masih terus berjalan, aku berharap di suatu hari nanti, animenya bakal dilanjutin. AMIN.