Sabtu, 31 Desember 2016

Selamat Tinggal 2016



Kalau boleh jujur, sebenarnya saya adalah tipe orang yang nggak begitu suka dengan tahun baru.

Alasannya? Bukan karena nggak ada yang ngajak saya keluar pas tahun baru. Memang sih pada faktanya nggak ada yang ngajak. Tapi beneran bukan karena itu, kok. Lebih karena … tahun baru adalah hari yang membuat saya teringat bahwa waktu terus berjalan dan saya semakin tua.

Sebenarnya saya bukannya seperti cewek yang anti penuaan, kok. Tapi ketidak senangan saya ketika saya sadar bahwa saya semakin tua adalah karena selalu ada sebuah pertanyaan imajiner yang berseliweran di otak saya. Sebuah pertanyaan berbunyi …

“Ketika sang waktu terus berjalan, kamu udah ngapain aja?”

Ya, tentang pencapaian. Di usia saya yang udah segini saya udah ngapain aja? Dan saya sangat sadar kalau saya belum melakukan banyak hal. Bahkan seringkali ketika melihat orang yang lebih muda dari saya telah berlari begitu jauh, hal itu membuat saya sedikit merasa iri.

Tapi meski saya sadar kalau saya belum melakukan banyak hal, bukan berarti saya tidak melakukan apapun. Dan di tulisan kali ini saya ingin mencoba untuk mengingat kembali tentang apa saja yang telah terjadi pada saya di tahun 2016 yang akan segera berakhir beberapa jam lagi.

……

……

……

……

……

Tunggu! Setelah saya sadari, saya bingung mau cerita apa. Karena sepertinya nggak ada hal menarik yang bisa saya ceritakan. Ah, 2016. Di tahun ini saya memperpanjang SIM, kuliah, terus … apalagi, ya? Tuh, kan. Nggak ada yang menarik.

Ah, bentar! Akhirnya saya tahu bagaimana harus mengawali semuanya. Kita mulai saja dari resolusi-resolusi tahun 2016 yang gagal tercapai. Yap, resolusi yang gagal tercapai. Ide yang bagus.

Seingat saya ada beberapa resolusi yang gagal saya capai di tahun ini. Dan resolusi-resolusi ini adalah …

BUKU
Sebagai orang yang nulis blog, siapa sih emangnya yang nggak pengen punya buku sendiri? Melihat sebuah buku dengan cover yang ada nama kita terpampang di sana. Wew, pasti asik banget, tuh.

Tapi sayang resolusi tinggal resolusi. Alih-alih bisa nerbitin buku, justru masih seperti tahun-tahun sebelumnya, saya banyak beli buku. Semoga di tahun 2017 saya bisa nerbitin buku.

STAND UP COMEDY
Saya agak ragu gimana ngomongnya. Karena sebenarnya yang terjadi di Stand Up Comedy nggak buruk-buruk amat bagi saya. Tapi tetap aja nggak ada perkembangan juga kalau dibandingkan dengan kiprah saya di stand up comedy pada tahun 2015.

Di tahun 2016 saya cuma dua kali open mic. Berbanding jauh banget sama 2015 yang di situ saya puluhan kali open mic. Di tahun ini saya dua kali jadi juri di kompetisi kampus. Yang ini lebih baik dari tahun lalu yang hanya sekali. Terus di akhir tahun saya tampil di sebuah mini show. Kalau yang ini nggak ada peningkatan karena tahun 2015 juga tampil di satu mini show.
 
Mini Show Yang Saya Maksud
Terus soal job stand up, kayaknya nggak ada, ya. Eh, sebenarnya ada satu yang nawarin saya untuk tampil di seminar. Tapi saya tolak. Bego banget, ya. Nggak tahu kenapa kalau ingat soal itu saya jadi nyesel. Kapan lagi coba bisa tampil di seminar.

Di tahun 2016 saya juga masih suka nonton show stand up. Dan menurut saya yang paling berkesan adalah saat saya jauh-jauh ke Jogja buat bisa nonton show Judul Bicara World Tour-nya Pandji Pragiwaksono.

Ah, semoga 2017 menjadi tahun yang menarik buat perjalanan stand up saya.

BERAT BADAN
Sebagai orang yang bisa dibilang gendut, tentu saja cita-cita terbesar saya adalah memiliki berat badan yang ideal. Istilahnya bisa kurusan, lah. Dan seperti orang gendut kebanyakan yang juga memimpikan berat badan ideal, tentu saja semua itu hanya menjadi mimpi belaka. Pagi tadi pas saya menimbang berat badan, angka yang keluar adalah 86kg. Masih terlalu gendut. Pokoknya 2017 harus bisa kurus.

Ok, resolusi-resolusi gagal kayaknya udah saya ceritakan semuanya. Itu artinya postingan ini sebentar lagi akan segera berakhir. Untuk resolusi 2017? Kayaknya saya nggak mau bikin resolusi, deh. Mendingan memperjuangkan kembali resolusi 2016 yang belum tercapai.

Cukup sekian postingan kali ini, semoga … eh, bentar! Ternyata ada satu yang ketinggalan. Saya ingat kalau ternyata saya punya sesuatu yang ingin saya capai di 2017. Ya, di tahun 2017 saya pengen bikin MV (Music Video). Semoga bisa tercapai. Amin!

Selasa, 27 Desember 2016

Catatan Kuliah Semester 5, Karma Dan Tugas Kelompok



Percaya karma? Untuk beberapa alasan, saya nggak percaya. Pertama, saya bukan Hindu. Jadi, saya nggak memiliki kewajiban untuk percaya sama hal-hal seperti itu. Kedua, entah kenapa saya merasa kalau konsep karma itu sedikit aneh. Ah, atau lebih tepatnya saya nggak terlalu ingin peduli dengan hal-hal seperti itu.

Seenggaknya, itu adalah sesuatu yang saya yakini. Hingga akhirnya datang banyak hal yang membuat saya sedikit ragu terhadap apa yang saya yakini sebelumnya. Sesuatu yang datang secara bertubi-tubi di semester ke-5 saya berkuliah. Sesuatu yang disebut dengan tugas kelompok.

Tugas kelompok?

Ya, tugas kelompok. Semua orang saya rasa juga akan setuju kalau saya bilang tugas yang diberikan oleh dosen di masa kuliah adalah sesuatu yang sangat mengerikan bagi mahasiswa. Emm, mungkin saya sedikit berlebihan. Bukan, bukan mengerikan. Mungkin akan lebih tepat jika disebut menjengkelkan.

Entah tugas itu dibebankan untuk individu atau kelompok, bagi saya keduanya tetap saja sama-sama merepotkan. Dan entah kenapa di semester 5 ini para dosen yang mata kuliahnya saya ambil seolah saling berlomba untuk memberi tugas.

Nggak sedikit dosen yang memberi tugas kelompok. Atau, kayaknya memang lebih banyak dosen yang memberi tugas kelompok daripada untuk yang individu. Dan mungkin kamu akan berpikir tentang bukankah tugas kelompok itu lebih mudah karena dikerjakan bersama? Harusnya sih begitu. Tapi faktanya …
***
MATA KULIAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Di awal semester dosen memberi kami tugas kelompok. Satu kelompok berisi 4 orang. Tugas yang diberi oleh dosen itu adalah membuat paper dan presentasi. Dengan kelompok yang diisi oleh 4 orang, harusnya tugas itu terlihat  mudah. Ya, seharusnya sih begitu.

Tapi, dari awal saya sudah merasakan tanda-tanda bahwa ini akan menjadi tugas yang sulit. Ya, saya tergabung dalam kelompok yang isinya cuma 3 orang saja. Memang, saya nggak memiliki cukup daya tarik untuk membuat orang lain mengajak saya untuk masuk ke dalam kelompoknya. Jadi, meski cuman 3 orang, harus disyukuri karena seenggaknya tetap dapat kelompok, lah.

Kayaknya saya harus memperkenalkan anggota kelompok yang hanya 3 orang itu, deh. Yang pertama saya sendiri alias yang punya blog ini. Kedua, teman saya namanya Rendy. Anak perantauan alias anak kos-kosan. Seperti anak kos pada umumnya, Rendy ini punya masalah dengan bangun pagi. Dan yang jadi persoalan adalah … kuliah Sistem Informasi Manajemen jadwalnya pagi! Ah, sebenarnya nggak pagi-pagi banget, sih. Jam 10. Jadi, kalau si Rendy ini nggak bisa bangun pagi, dia nggak akan masuk kuliah.

Terus yang ketiga ada si Dhani. Dia bukan anak kos, sih. Tapi bukan berarti rumahnya dekat. Justru rumahnya cukup jauh. Katanya sih butuh 45 menit perjalanan. Dan karena rumahnya jauh, si Dhani jadi sering nggak masuk kuliah. Katanya sih males.

Berada satu kelompok dengan dua orang yang satunya susah bangun terus kalau kesiangan nggak masuk kuliah dan yang satunya lagi karena rumahnya jauh jadi males terus jarang kuliah. Nah, kebayang kan gimana kerennya kelompok saya? Tebak apa yang terjadi? Yap, tepat! Saya yang kerjain sendirian tugasnya.

Keren, kan? Keren, dong. Tapi ada yang lebih keren. Yang lebih keren adalah si Dhani nggak datang pas kelompok kami presentasi. Jadi saat kelompok lain presentasi dengan formasi 4 orang, saya cuman berdua. Udah mirip kayak homo di depan kelas.
***
MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN ……… [Saya lupa lanjutannya]

Di mata kuliah ini, lagi-lagi dibagi kelompok. Dan lagi-lagi disuruh presentasi. Setiap kelompok terdiri dari 6 orang. Dan yang keren adalah … saya nggak masuk pas pembagian kelompok. Jadi satu minggu selang hari di mana kelompok dibagi, saya akhirnya berkumpul dengan orang-orang lain yang juga belum dapat kelompok. Dan akhirnya kelompok baru pun tercipta. Entah kenapa bagi saya kelompok ini mirip kayak semacam kelompok orang-orang sisa.

Anggotanya cuman 4 orang. Dari yang normalnya satu kelompok terdiri dari 6 orang, kami cuman 4. Yah, namanya juga orang sisa.

Oh, iya. Pas setiap ada kelompok yang baru terbentuk seperti ini, pasti akan ada satu orang yang sok-sokan jadi leader. Biasanya dia akan minta kontak dari seluruh anggota kelompok. Lalu sok-sokan nanya dengan kalimat “kapan nih ngerjainnya?”. Dan kebetulan dikelompok saya juga ada yang seperti itu. Saya agak lega juga, sih. Karena itu artinya saya nggak akan ngerjain tugas kelompok ini sendirian.

Tapi, namanya juga sok-sokan jadi leader. Terlihat meyakinkan di pertemuan pertama dan kemudian … tebak apa yang terjadi? Dia nggak pernah terlihat lagi di kuliah Metodologi penelitian. Singkatnya, dia nggak pernah berangkat lagi.

Dari sini saya mulai berpikir bahwa nampaknya bencana akan hadir kembali.

Selain si sok leader, kelompok kami anggotanya adalah satu orang kakak tingkat yang nampaknya cukup rajin. Kemudian satu lagi si Rendy, orang yang muncul beberapa paragraph di atas.

Minggu demi minggu terlewati. Sang leader benar-benar nggak pernah berangkat lagi. Dan kelompok kami belum juga segera mengerjakan tugas itu. Meski nggak pernah berangkat dan kayaknya juga nggak bakalan berangkat lagi, tapi nggak tahu kenapa kami yang belum juga mengerjakan tugas itu kayak seolah menantikan hadirnya sang leader kembali.

Waktu terus berjalan dan akhirnya hari presentasi pun semakin mendekat. Kami belum juga mengerjakan tugasnya. Sang leader juga nggak pernah berangkat. Saya pengen ngerjain nggak punya bukunya. Mau ngerjain bareng-bareng nggak punya kontak anggota yang lain karena yang punya kontak anggota kelompok cuman sang leader yang menghilang.

Satu-satunya yang saya punya cuma kontaknya Rendy. Tapi, pas dia saya hubungi mau saya ajak ngerjain dia bilang kalau dia sakit dan posisinya ada di Temanggung –kami kuliah di Solo-. Padahal itu H-3 presentasi. H-2 presentasi saya dia hubungi dan katanya masih sakit. H-1 juga tak ada perubahan. Saat itu, saya pasrah. Mau dapat nilai jelek juga bodo amat, lah.

Dan di hari H, akhirnya si Rendy sembuh dan bisa balik ke Solo lagi. Tapi percuma karena kalau mau ngerjain juga udah terlambat. Udah nggak mungkin sempat. Akhirnya di hari itu saya ketemu sama Rendy dan terjadi percakapan.

Saya: Tugas presentasi gimana, nih?

Rendy: Lha gimana? Apa kita kerjain sekarang? Siapa tahu masih sempat.

Saya: Udah nggak mungkin sempat.

Rendy: Terus gimana?

Saya: Kita pasrah aja.

Rendy: Jangan. Eman-eman. Entar kalau nilainya jelek gimana? Ah, aku punya ide!

Saya: Ide?

Rendy: Entar pas kuliah Metodologi penelitian kita tunggu Mas kakak tingkat di depan kelas. Siapa tahu dia udah ngerjain.

Akhirnya saya menerima usulannya. Dan kami pun akhirnya menunggu mas kakak tingkat. Siapa tahu dia beneran ngerjain. Kalau dia juga nggak ngerjain atau dia nggak datang berarti kami akan pulang.

Waktu yang ditunggu tiba. Kami bertemu dengan mas kakak tingkat di depan kelas. Dan bagai mendapat mukjizat ternyata mas kakak tingkat udah ngerjain. Dramatis!

Akhirnya kami bertiga presentasi. Bertiga. Ya, hanya bertiga. Dari kelompok yang normalnya diisi oleh 6 orang kami cuman bertiga.

Kalau dipikir-pikir, entah kenapa tugas kelompok di semester ini begitu berat.Awalnya saya berpikir mungkin ini hanya kebetulan hingga akhirnya saya ingat bahwa saya dulu pernah …
***
SEMESTER 4, MATA KULIAH PRAKTIKUM KEWIRAUSAHAAN

Saya masih ingat di mata kuliah itu kami disuruh untuk membuat kelompok berisi 5 orang. Akhirnya saya dapat 2 orang hingga jumlah kami akhirnya menjadi 3. Dua orang itu namanya Luthfi dan Rendy (lagi-lagi dia). Karena jumlah kami sudah 3, berarti idealnya kami kurang dua orang lagi.

Dan karena saya adalah tipe orang yang malas kalau repot, saya punya ide bahwa 2 orang yang akan bergabung dalam kelompok kami harus cewek. Soalnya kan cewek biasanya rajin. Akan jadi masalah kalau kelompok kami cowok semua. Si Rendy setuju. Tapi Luthfi kayak nggak begitu setuju. Kata si Luthfi, cewek itu nggak kreatif. Tapi bodo amat sama Luthfi. 2 lawan 1. Jelas 2 yang menang.

Akhirnya karena Rendy punya teman cewek lebih banyak dari yang lain, dia mulai melakukan agresi untuk mencari anggota cewek. Dan akhirnya … nggak dapat. Memang sih Rendy nggak dapat dua anggota cewek. Tapi, bukan berarti dia gagal total. Karena situasinya justru berubah.

Ya, situasinya berubah. Rendy punya teman cewek yang bikin kelompok dan baru dapat 3 anggota yang cewek semua. Dan justru si cewek ini malah ngajakin Rendy buat gabung. Karena mereka udah punya 3 anggota, berarti mereka hanya butuh 2 aja.

Singkat kata, Rendy meminta pendapat saya. Saya sendiri juga sedikit bingung. Kenapa? Karena gini. Kalau saya masuk kelompok cewek itu, hidup saya pasti akan tenang karena tugas pasti udah dihandle sama cewek-cewek. Tapi karena mereka hanya butuh dua orang, jika saya dan Rendy bergabung ke kelompok itu berarti kami akan meninggalkan Luthfi sendirian.

Agak berat, nih. Antara harus milih persahabatan atau kenyamanan hidup karena nggak usah mikirin tugas kelompok. Dan akhirnya keputusan yang saya dan Rendy pilih adalah bergabung dengan kelompok cewek dan meninggalkan Luthfi sendirian. Kejam banget, ya.
***
Saya menduga alasan kenapa di semester 5 ini ketika saya –dan Rendy tentunya- seperti kesulitan ketika mendapat tugas kelompok adalah buah dari apa yang kami lakukan di semester 4. Di semester ini, ketika yang lain presentasi ber-4, kami hanya ber-2. Ketika yang lain presentasi ber-6, kami hanya ber-3. 

Mungkinkah itu adalah balasan dari apa yang pernah saya dan Rendy lakukan terhadap Luthfi? Dan mungkinkah karma itu benar-benar ada? Entahlah.

Minggu, 18 Desember 2016

AFF Cup 2016: Antara Mitos Tak Valid Dan Otak-Atik Ra Gathuk



Mitos adalah sesuatu yang rasanya sangat melekat dengan bangsa Indonesia. Apalagi saya sebagai orang Jawa, mitos terasa sangat-sangat melekat di lingkungan saya. Apa-apa dijadiin mitos. Dari yang sepele seperti kalau makan nasinya harus dihabisin atau kalau enggak nasinya bakal menangis. Sampai mitos yang agak horor kayak kalau ke pantai parangtritis Jogja pakai baju hijau akan diculik oleh Nyai Roro Kidul.

Dan karena saking melekatnya mitos dengan kehidupan kita, sampai-sampai di kejuaraan sepakbola antar negara di kawasan Asia Tenggara atau yang biasa kita sebut dengan AFF Cup yang baru saja rampung kemarin dengan Indonesia menjadi runner-up ternyata ada juga mitosnya.

Sebenarnya saya tahu mitos itu dari teman saya yang namanya Tommy. Jadi gini, pertama kita harus sepakati dulu fakta bahwa permainan Timnas Indonesia di AFF Cup 2016 kemarin nggak bagus-bagus banget. Meski bisa jadi tim terbaik kedua, entah kenapa bagi saya permainannya nggak menghibur. Ah, sebenarnya saya cuma nggak tega kalau mau bilang jelek. Pokoknya intinya nggak bisa disebut bagus, lah.

Dan karena permainan Timnas nggak bagus-bagus amat, jelas sebagai manusia normal saya pesimis dong kalau Timnas bisa melaju sampai jauh. Tapi ketika saya merasa pesimis, justru teman saya Tommy entah kenapa sangat-sangat optimis dengan apa yang akan diraih oleh Timnas Indonesia. Dan inilah percakapan yang terjadi antara saya dan Tommy ketika membicarakan Timnas dan AFF Cup. Sekedar catatan percakapan ini terjadi ketika Indonesia masih berjuang di babak group.

Saya: kira-kira yang juara AFF Cup siapa, Tom?

Tommy: Indonesia.

Saya: Kayaknya nggak mungkin, deh.

Tommy: Kita sebagai rakyat Indonesia harus yakin.

Saya: Kalau saya sih kayaknya Thailand.

Tommy: Thailand nggak mungkin juara.

Saya: Loh, kok bisa? Thailand mainnya bagus lho. Menang terus pula.

Tommy: Kutukan, bro.

Saya: Kutukan?

Tommy: Kalau Teerasil Dangda jadi top scorer, Thailand nggak mungkin juara.

Saya nggak tahu itu si Tommy dapat mitos dari mana. Tapi yang pasti di akhir kejuaraan faktanya Teerasil Dangda memang sukses mencatatkan dirinya sebagai top scorer kompetisi. Lalu bagaimana nasib tim Thailand? Seperti yang kita semua tahu mereka keluar sebagai juara. Mitos yang tidak valid ternyata.

Selain mitos, orang Jawa juga senang banget sama yang namanya otak-atik gathuk. Buat yang belum tahu, otak-atik gathuk itu kayak semacam mengaitkan sesuatu sama sesuatu yang lain yang sebenarnya nggak berhubungan. Dan lagi-lagi, kiprah timnas merah putih di AFF Cup juga diotak-atik gathuk.

Ya, perjalanan Timnas di AFF Cup diotak-atik gathukkan dengan prestasi Portugal yang berhasil menjadi juara di gelaran Euro tahun ini. Saya pertama kali mendengar tentang itu waktu saya futsal bersama teman-teman kampus saya. Ketika kami mulai ngobrol tentang Timnas dan Piala AFF, tiba-tiba ada satu yang bilang kalau Timnas Indonesia itu kayak Portugal di Euro 2016. Sekedar catatan waktu itu ketika obrolan berlangsung, Timnas ada di babak semi final.

Awalnya saya bingung juga kok bisa kayak Portugal. Tapi setelahnya saya tahu ada beberapa faktor yang membuat Timnas disama-samakan dengan Portugal. Jersey yang sama-sama warnanya merah, main nggak bagus dan dipandang sebelah mata tapi bisa melaju jauh, dan terus … apa lagi, ya?

Kemudian otak-atik gathuk itu semakin menjadi ketika Indonesia lolos ke final. Lawannya Thailand. Jerseynya biru. Indonesia merah lawan Thailand biru. Udah mirip banget kayak Portugal merah yang waktu itu lawan tuan rumah Prancis yang jerseynya biru.

Saya kira masyarakat akan kehabisan bahan untuk mengotak-atik gathukkan antara Indonesia dengan Portugal. Ternyata saya salah. Pas pertandingan final leg pertama berlangsung, Andik cidera di awal laga dan harus ditarik keluar. Lagi-lagi ini mirip kayak yang terjadi sama Portugal yang harus kehilangan Ronaldo karena cidera di awal laga.

Namun sayangnya, hasil yang didapat oleh Indonesia di final AFF Cup nggak benar-benar semenggembirakan apa yang didapat oleh Portugal di Euro 2016. Hingga akhirnya, Indonesia AFF Cup 2016 dan Portugal Euro 2016 menjadi sebuah otak-atik sing ra gathuk.

Tapi bagaimanapun juga, kita tetap harus menghargai perjuangan Timnas Indonesia di ajang AFF Cup 2016. Meski banyak halangan, Timnas tetap bisa melaju sampai final. Meski baru bangun dari tidur panjang setelah dibekukan selama setahun. Belum lagi aturan satu tim yang hanya boleh menyetor dua pemain. Keren nggak, tuh?   

Kamis, 17 November 2016

Ternyata Hip Hop Itu Seru Juga



Akhir-akhir ini saya baru tahu kalau ternyata hip hop di Indonesia itu seru juga.

Hingga beberapa bulan yang lalu, jika saya ditanya tentang siapa saja musisi hip hop yang saya ketahui, saya pasti hanya akan menyebutkan nama-nama seperti Iwa K, Saykoji, Jogja Hiphop Foundation, dan Pandji Pragiwaksono. Kenapa? Karena faktanya memang hanya nama-nama itu saja yang saya ketahui.

Iwa K. Karena seperti yang kita tahu bahwa beliau adalah legenda hip hop Indonesia. Meski belakangan ada seorang rapper muda yang berpendapat bahwa Iwa K belum layak disebut legend, tapi sepertinya pendapat rapper muda itu belum cukup mampu untuk membuat masyarakat Indonesia mencopot begitu saja predikat legendnya. Ada dua karya Iwa K yang begitu nempel di benak saya. Dua lagu berjudul “Bebas” dan “Malam Ini Indah” terkadang tanpa sadar berputar begitu saja di kepala saya.

Saykoji. Ada satu masa di mana lagunya selalu diputar di berbagai media. Jika saya ingat kembali, mungkin waktu itu saya masih SMP. Saya cukup ingat bahwa lagunya yang berjudul “On Line” sempat menjadi jingle iklan di televisi kala itu. Dan intensitas yang begitu sering dalam mendengarkan lagu “On Line” di iklan televisi itu membuat nama Saykoji secara tanpa sadar mulai terpahat dalam ingatan saya.

Jogja Hiphop Foundation. Menurut saya kelompok yang satu ini benar-benar terasa seperti tagline kota dari mana mereka berasal, ISTIMEWA. Lagu-lagu mereka yang bernuansa Jawa entah kenapa selalu sukses membuat kecintaan saya terhadap budaya Jawa tiba-tiba muncul dan bahkan seolah memuncak.

Pandji Pragiwaksono. Jika JHF bisa membuat semangat Kejawaan saya meledak, hal berbeda saya rasakan ketika mendengar lagu-lagu dari Pandji Pragiwaksono. Lagu-lagu Pandji selalu mengantarkan saya kepada semangat cinta Indonesia. Pada awalnya saya hanya suka terhadap karya Pandji dalam format stand up comedy. Tapi ketika saya semakin mengagumi beliau, saya mencoba untuk mencari info lebih banyak tentangnya. Dari situ secara aneh saya mulai menyukai semua karya yang ditelurkan oleh Pandji. Apapun formatnya. Entah itu buku, rap, dan lain sebagainya.

Dulu dalam hip hop saya memang hanya mengenal nama-nama itu. Saya nggak akan mengelak juga kalau misalnya ada yang berkata bahwa refrensi saya tentang hip hop sangat minim. Karena faktanya memang hanya itu yang saya tahu.

Hingga beberapa bulan yang lalu karena banyaknya orang-orang yang membicarakannya, akhirnya saya tahu siapa itu Young Lex. Berkat lagu kontroversialnya berjudul GGS yang menggemparkan dunia perinternetan Indonesia. Ketika perbincangan tentang GGS mulai reda, Young Lex kembali menjadi buah bibir lewat lagunya yang berjudul Bad.

Memang segala kontroversi yang diciptakan Young Lex lewat lagu GGS dan Bad pada akhirnya sukses membuat refrensi saya terhadap musisi hip hop Indonesia bertambah. Namun jujur saja hal itu belum cukup untuk membuat saya berpikir bahwa ternyata hip hop itu menarik. Ada beberapa momen yang akhirnya membua saya berubah pikiran dan kemudian berkata dalam hati dengan kalimat … “ternyata hip hop itu seru juga, ya”.  

Momen itu diawali ketika tanpa sengaja saya membaca sebuah berita di media online yang mengatakan bahwa Young Lex menganggap bahwa Iwa K tak cukup pantas untuk disebut legenda. Kemudian muncul berita tentang tanggapan Iwa K terkait hal itu. Para pengguna internet banyak yang ikut berkomentar. Young Lex lagi-lagi banyak mendapat hujatan.

Ketika saya kira hawa panas terkait perseteruan antara Young Lex dan Iwa K akan segera mendingin, tiba-tiba internet kembali digegerkan oleh sebuah lagu berjudul “Reject Respect” yang dilantunkan oleh rapper bernama 8 Ball. Dalam lagu itu secara terang-terangan 8 Ball menyerang Young Lex. Usut punya ternyata 8 Ball membuat lagu itu sebagai bentuk respon terhadap sebuah video yang di situ Young Lex menyebut nama 8 Ball. Ah, jujur saja sebenarnya saya baru tahu kalau ada rapper yang namanya 8 Ball juga Karena kasus ini.

Setelahnya, bagai hujan deras di bulan Desember, entah datang dari mana lagu-lagu rap dengan lirik yang secara terang-terangan menghina Young Lex bermunculan. Dari lagu yang digarap beneran sampai asal-asalan. Semua seolah seragam berisi cibiran yang ditujukan kepada Young Lex. Belakangan saya baru tahu kalau lagu-lagu yang seperti itu disebutnya diss track.

Gara-gara semua itu akhirnya saya mencari info lebih tentang hip hop. Dan akhirnya saya menemukan fakta bahwa ternyata di Amerika sana diss track dalam hip hop adalah hal yang biasa. Bahkan konon katanya ada seorang rapper yang sampai dibunuh gara-gara diss track.

Pada akhirnya, berkat semua kegaduhan yang diciptakan Young Lex, respon-respon yang bermunculan, ditambah dengan info yang saya dapat tentang hip hop di internet membuat saya berkata dalam hati …

“Ternyata hip hop itu seru juga, ya.”