Minggu, 27 Desember 2015

Pondok Sobron Kedua, Tetap Asik Kok



Hai netizen. Kali ini aku pengen cerita tentang pengalamanku waktu berkelana –Hah? Berkelana?- di Pondok Sobron untuk yang kedua kalinya.

Sebenarnya peristiwa itu sudah terjadi agak lama. Tepatnya waktu aku masih semester 2. Atau lebih detailnya pada tanggal 4-7 April 2015. Udah lama, kan?

Walau udah lama tapi tetep aku tulis di blog ini dong. Alasan kenapa aku tetep menulis artikel tentang Sobron kedua adalah … ya karena entah kenapa aku merasa bertanggung jawab untuk berbagi pengalaman tentang pengalamanku itu.

Terus, karena yang Sobron pertamanya aja ditulis, jadinya kayak nanggung aja gitu kalau yang kedua enggak ditulis sekalian.

Sama seperti di Sobron pertama, aku pergi ke sini bertujuan untuk menempuh kuliah Studi Islam. Bedanya, kalau yang Sobron pertama namanya Studi Islam 1. Kalau yang kedua namanya Studi Islam 2. Udah gitu aja sih bedanya.

Ok, daripada kelamaan, kayaknya mending kita langsung aja masuk ke pembahasan tentang peristiwa apa aja yang terjadi selama 4 hari 3 malam di Pondok Sobron.

HARI PERTAMA
Banyak banget yang bilang kalau Sobron kedua selalu lebih mending daripada Sobron pertama. Dan di hari pertamaku di Sobron kedua, aku merasakan sendiri bahwa anggapan itu ternyata benar-benar tidak salah.

Entah kenapa rasanya lebih tenang aja. Lebih santai pokoknya. Kayak terbiasa gitu. Mungkin karena kita udah tahu tentang seluk-beluk Sobron kali ya.

Di hari pertama ini juga dibagi kelompok dan kemudian presentasi. Seperti di Sobron sebelumnya, aku presentasi.

Oh, iya. Hampir lupa. Di malam pertama kami di Sobron ternyata berbarengan dengan peristiwa gerhana bulan. Alhasil kami semua digiring ke masjid samping Sobron untuk menunaikan ibadah sunah Sholat Gerhana.

Yang paling aku ingat tentang Sholat Gerhana itu adalah … waktu itu masjidnya penuh. Aku sholat di deket pintu masuk. Di deket keset. Kesetnya bau banget. Semacam bau terasi.

Oh, iya. Di hari pertama malamnya aku enggak bisa tidur.

HARI KEDUA
Sebenarnya aku udah lupa sama apa yang terjadi di hari kedua. Apa ya?

Oh. Aku ingat. Waktu itu aku disuruh buat ngisi kultum. Iya, jadi per kelas itu digilir buat kultum. Dan dengan biadab temen-temenku menunjukku untuk mewakili kelas buat kultum.

Tapi sebenernya itu bukan hanya terjadi di hari kedua aja. Tapi juga hari-hari lainnya. Jadi, setiap kelasku dapat jatah kultum, aku selalu deg-degan. Soalnya pasti mereka nyuruh aku buat maju.

Dan apa responku?

Aku menolaknya. Tentu saja aku menolaknya. Bukan apa-apa, soalnya waktu itu aku emang beneran nggak berani ngomong di depan umum pake mic. Benar-benar nggak berani.

Aku ingat waktu aku masih sekolah di SMAIT Nur Hidayah Surakarta. Di sana juga digilir buat kultum. Dan setiap kultum, kakiku selalu bergetar. Soalnya ya emang grogi banget. Harus ngomong di depan banyak orang dan pake mic itu … mengerikan.

Tapi akhirnya teman-temanku mengerti tentang hal itu. Mereka bilang …

“Ok, kamu nggak perlu kultum. Tapi, pokoknya kamu harus mewakili kelas buat menyampaikan kesan dan pesan pas penutupan Sobron.”

Dan entah kenapa akhirnya aku bilang …

“Aa-aah. Yaudah nggak papa.”

Oh, iya. Di hari kedua, akhirnya aku bisa tidur dengan sangat-sangat pulas.

HARI KETIGA
Sepeti di Sobron sebelumnya, di hari ketiga kami disuruh membuat kelompok. Lalu disuruh bikin mini drama.
Waktu itu kelompokku disuruh bikin drama tentang bisnis meragukan. Dan apa bisnis yang kami peragakan? Yap … MLM.

Lalu, bagaimana penampilan drama kelompok kami? Seperti temanya, bisnis yang meragukan. Penampilan kelompok kami benar-benar meragukan. Bahkan, aku sangat yakin bahwa itu sebenarnya sangat buruk.

HARI KEEMPAT
Jika di Sobron pertama momen paling seru adalah kepulangan, maka di Sobron kedua ini ada yang lebih seru dari hanya sekedar kepulangan.

Apa itu?

Yap. Tepat. Ngomong di depan ratusan orang pake mic untuk menyampaikan kesan dan pesan mewakili kelasku di penutupan Sobron.

Akhirnya, sore hari di hari keempat tiba. Itu artinya saatnya aku untuk ngomong pake mic. Sial, waktu itu aku benar-benar gugup. Rasanya kayak pengen mati aja.

Giliranku tiba. Waktu aku memegang mic itu … tanganku bergetar. Atau dalam Bahasa Jawa hal itu biasa disebut dengan NGEWEL.

Dan waktu aku mulai berbicara, menyampaikan kesan dan pesan, menyampaikan keresahan selema di Sobron, semua orang tertawa. Benar-benar meriah. Aku mendengar beberapa orang di barisan depan berkata …

“Gila, jujur banget ni orang.”

Waktu itu, rasanya kayak benar-benar lagi stand up comedy. Entah kenapa aku puas banget. Sangat-sangat puas. Itulah momen pertama dalam hidupku di mana bermodalkan sebuah mic yang dulunya kutakuti bisa membuat semua orang tertawa.

Bisa dibilang, aku keluar dari Sobron dengan perasaan yang bahagia. Sangat-sangat bahagia.

Dan tahukah kalian apa yang kulakukan setelah aku keluar dari Sobron?

Dua hari setelahnya, untuk pertama kalinya akhirnya aku memberanikan diri untuk nyobain open mic di acara open mic rutinnya Komunitas Stand Up Comedy Kampus UMS. Dan akhirnya aku gabung juga di komunitas itu. Hingga saat ini, aku masih bahagia dengan komunitas itu.

Andai saja Sobron kedua nggak pernah terjadi, aku enggak yakin apakah saat ini aku sudah berani stand up atau masih terpuruk dalam ketakutanku untuk mencoba sesuatu yang sangat-sangat aku cintai. Ya, karena Sobron akhirnya aku berani untuk mencoba stand up comedy. Sebuah kesenian yang sangat-sangat aku cintai.

Jika di Sobron pertama aku berkata kalau Pondok Sobron itu asik, maka di Sobron kedua aku berkata bahwa Pondok Sobron masih tetap asik. Tidak, tidak, tidak. Aku berani berkata bahwa Pondok Sobron yang kedua jauh, jauh, jauh lebih asik.

6 komentar:

  1. kalau boleh tau mas faisal ini kuliah jurusan apaya? dan dimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ambil Ekonomi Manajemen. Kuliah di UMS Solo. Kalau masnya sendiri?

      Hapus
    2. baru tamat tahun ini. belum kuliah :D

      Hapus
    3. Oh. Berarti sama kayak saya dulu. Dulu saya lulus SMA tahun 2013. Tapi baru masuk kuliah tahun 2014.

      Hapus
  2. Mas faisal, saya kuliah telat ini dan tujuan saya kuliah untuk mjd pribadi lebih baik, mgkn mas faisal dibawah saya satu tahun. Saya sangat tertarik dgn UMS mgkn karena univ tsb yg ga membatasi umur ya, kalau untuk perempuan haruskah berjilbab disana? Tips dan trik mengerjakan tes masuknya bisa dikasih tau, makasih mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. wew, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. keren tuh. hehe. ngomong-ngomong saya juga telat kok kuliahnya. saya kelahiran 94 tapi baru masuk kuliah tahun 2014. jadi saya baru masuk kuliah pas usia 20, lebih tua dua tahun dari temen yang lain. kalo soal jilbab, mayoritas sih memang berjilbab. tapi yang saya tau ada beberapa mahasiswi yang nggak berjilbab juga. yang saya tau yang nggak berjilbab di ums yang agamanya non muslim. tips mengerjakan soal tes masuk? wadaw, yang penting yakin aja mbak. hehe

      Hapus