Rabu, 11 November 2015

Pengalaman Pertama Jadi Juri Stand Up Comedy



Kemarin, tanggal 10 November 2015, tepat di sebuah hari yang biasa kita kenal sebagai hari pahlawan, aku kembali mendapatkan sebuah pengalaman yang benar-benar baru di dalam hidupku. Sebuah pengalaman yang benar-benar tak terbayangkan sebelumnya. Menjadi juri di sebuah kompetisi stand up comedy.
 
Jujur saja aku nggak begitu tahu apa nama kompetisinya. Satu hal yang pasti adalah itu kompetisi di kampus yang diselenggarakan oleh teman-teman dari FKIP Bahasa Inggris UMS.

Sumpah, benar-benar nggak nyangka kalau aku bakalan jadi juri di kompetisi itu. Bahkan aku baru tahu kalau aku jadi juri saat sekitar 2 jam sebelum kompetisi dimulai.

Sekitar jam dua belasan siang, aku mendapat SMS dari Bang Rilo –salah satu teman dari komunitas Stand Up Comedy Kampus UMS-. SMSnya begini …

Rilo: Sal, ayo nonton lomba stand up. Aku jadi juri. Biar ada temennya.

Aku: Jam berapa? Di mana?

Rilo: Sekitar jam 2nan. Di taman depan FKIP

Aku: Jurinya siapa aja?

Rilo: Aku thok. Temenin.

Aku: Apa? Temenin? Maksudnya … aku jadi juri? SIAP!!!

Rilo: Udah pokoknya ke sini dulu aja.

Sekitar jam setengah dua aku berangkat dari rumah menuju kampus. Waktu itu awannya gelap banget. Mendung pekat istilahnya. Karena takut keburu hujan, terpaksa ngebut kayak Doni Tata Pradita –eh, Doni Tata nggak jago-jago amat kali ya. Buktinya di Moto2 2013 dia posisi belakang melulu-.

Tapi pada akhirnya, hujan yang kutakutkan malah benar-benar terjadi. Tepatnya pas aku baru sampai di Colomadu hujan turun. Tapi karena udah dikejar waktu dan nanggung juga soalnya udah dekat, akhirnya tetep nekat aja. Dan akhirnya aku basah walau nggak terlalu kuyup.

Sampai kampus, langsung deh cari lokasi di mana Bang Rilo saat itu berada. Pas ketemu langsung aja aku tanyain …

Aku: Mas, ini beneran aku jadi juri?

Rilo: Lha gimana? Masak aku sendirian? Gampang deh, entar aku omongin ke panitia.

Lah … omongin ke panitia? Berarti panitianya belum tahu dong kalau aku jadi juri?  Wah bakalan jadi juri illegal nih kayaknya.

Akhirnya aku mengikuti langkah Bang Rilo untuk bertemu dengan mbak-mbak panitia. Sesampainya di sana …

Rilo: Mbak … nanti jurinya ada berapa ya?

Masih nanya jurinya berapa? Berarti Bang Rilo belum benar-benar paham kayaknya sama kompetisi ini. Jadi agak ragu nih.

Mbak-mbak panitia: Ada dua mas. Mas Rilo sama dosen satu.
 
Rilo: Loh, jurinya dua tho?!

Ekspresi Bang Rilo kaget. Bener kan. Dia nggak tahu kalau dia nggak sendiri. Beneran nggak beres ternyata.

Mbak-mbak panitia: Iya mas. Jurinya dua.

Rilo: Anu … gini mbak. Kalau saya ajak temen saya jadi juri juga gimana mbak?

Mbak-mbak panitia itu kemudian memandangiku dengan sinis. Lalu berbisik ke daun telinga Bang Rilo. Seakan dia nggak mau ucapannya terdengar olehku.

Bang Rilo mengangguk paham. Kemudian Bang Rilo ngomong ke aku …

Rilo: Gini … jadi panitia nggak punya fee buat bayar juri satu lagi.

Lalu Bang Rilo berkata pada Mbak-mbak panitia …

Rilo: Dia nggak dibayar nggak papa kok mbak. Iya kan Sal?

Aku: Iya deh nggak papa

Mbak-mbak panitia: Ya udah kalau gitu saya omongin ke temen-temen

Walau nggak dibayar, kayaknya nggak rugi juga deh kalau nerima job jadi juri. Pertama, ini adalah pengalaman pertama yang benar-benar baru. Kedua, udah terlanjur kehujanan. Sebel aja kalau udah sampai kampus dan kehujanan tapi nggak ngapa-ngapain.

Dan akhirnya FIX. Aku jadi juri.

Sekitar jam tiga, acara dimulai. Molor satu jam dari rencana awal. Alasannya cuma satu. Apalagi kalau bukan hujan.

Alhamdulillah pas jadi juri lancar-lanjar aja. Nggak ada kendala apapun. Walau emang ada sedikit beban juga sih. Karena harus fokus banget ke penampilan para peserta. Harus ngamatin teknik apa aja yang dia gunain, LPM, deliverynya lancar enggak, mickingnya gimana dan lain sebagainya.


Dan jujur hal paling mendebarkan adalah saat aku harus kasih komentar ke penampilan peserta. Tapi untungnya lancar dan terkendali. Kayaknya berkat pengalaman puluhan kali open mic, satu kali tampil di mini show, dan juga satu kali diundang –dibayar, dan nggak lucu- untuk tampil di acanya orang. Eh, bentar … kalau jam terbangku dihitung dari tiga hal itu … bukannya itu tergolong rendah ya?

Total ada 7 peserta yang ikut. 4 cowok dan 3 cewek. Gila, ceweknya banyak juga ya. Tapi sayangnya karena terlalu fokus sama penilaian jadi nggak sempat modusin.

Pas pulang ke rumah aku teringat sesuatu dan nyesel. Kok tadi aku nggak promoin komunitas stand up comedy UMS ya? Hadeh … next time kalau jadi juri lagi pokoknya nggak boleh lupa.

Oh iya. Seperti yang aku bilang di awal. Pengalaman terlibat dalam sebuah kompetisi stand up comedy adalah sesuatu yang benar-benar baru dalam hidupku. Sebelumnya aku sama sekali belum pernah terlibat dalam kompetisi. Bahkan sebagai peserta sekalipun. Jadi malah keren yah, sekalinya terlibat langsung jadi juri. Hahaha.

Dan kayaknya hal itu membuatku mulai ragu untuk ikut kompetisi stand up di kampus. Kan sekarang aku udah punya predikat pernah jadi juri. Nggak enak dong kalau pas tampil di kompetisi kampus terus akunya nggak lucu. Masak juri nggak lucu.

Sebelum aku akhiri tulisan ini, kayaknya aku perlu berterimakasih sama Bang Rilo yang udah ngajakin jadi juri. Juga makasih buat Yoga yang udah fotoin.

Terakhir, kalau ada kompetisi stand up di kampus lagi … aku mau kok jadi juri. Kalau peserta kayaknya ogah ya. Jadi juri aja deh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar