Senin, 30 November 2015

Setelah Baca Girls in the Dark [Review Buku]



Selamat gini hari netizen. Kali ini aku pengen sok-sokan ngeriview buku lagi. Setelah kemarin buku Kambing Jantan milik Raditya Dika yang jadi korban review asal-asalanku, kali ini giliran sebuah novel berjudul Girls in the Dark yang akan merasakannya juga.

Ok. Girls in the Dark merupakan novel terjemahan yang aslinya berbahasa Jepang karangan Akiyoshi Rikako. Memiliki judul original Ankoku Joshi (暗黒女子) dan terbit pada tahun 2013 di negara asalnya.

Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Penerbit Haru. Mulai terbit 2014. Aku beli April 2015. Aku baca Mei 2015. Dan aku review November 2015. 

Eh, kayaknya tiga kalimat terakhir di paragraf di atas nggak begitu penting ya?
***
TULISAN YANG ADA DI COVER BELAKANG BUKU
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?

Gadis itu mati.

Ketua klub sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota klub sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, klub sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir untuk membunuh seseorang?
***
Penilaianku tentang buku ini …

Apa ya? Bingung juga sih. Karena udah lama juga sebenarnya aku namatin baca buku ini. Mei tahun ini, berarti udah enam bulan. Lama juga ya.

Ok, gini aja deh. Karena aku ingin konsisten menjadi manusia anti spoiler, maka aku hanya akan memberikan kesan-kesan setelah membaca buku ini.

Sebaiknya kita memulai semuanya dengan berkata bahwa buku ini keren. Kenapa aku bisa bilang buku ini keren? Sederhana. Karena aku menamatkan membaca buku ini hanya dalam waktu dua hari saja. Keren kan?

Ceritanya itu misterius banget. Jadi wajar dong kalau aku penasaran terus membabi buta dalam membaca dan akhirnya menyelesaikan 276 halaman hanya dalam kurun waktu dua hari.

Banyak yang bilang novel ini terkesan kelam. Emang iya sih sebenarnya. Tapi justru itu yang bikin keren.

Di chapter awal-awal ceritanya seru sih. Tapi begitu masuk pertengahan kok jadi mudah tertebak. Gitu-gitu aja. Polanya sama. Tapi anehnya tetep bikin penasaran.

Untungnya, Akiyoshi Rikako memberikan akhir yang benar-benar nggak terduga untuk novel ini. Sama sekali nggak ketebak. Bener-bener mengejutkan.

Pengen tahu semengejutkan apa akhir dari novel ini? Sebaiknya kamu ke toko buku. Beli lalu baca sendiri.

Dari novel ini aku akhirnya tahu bahwa ternyata persaingan para gadis untuk menjadi yang paling populer di sekolah itu … mengerikan. Dan bahkan terkadang menjadi boomerang yang mematikan.

Dari novel ini pula aku menyadari bahwa ternyata rahasia adalah sesuatu yang sangat penting. Seperti kata karakter utama, Shiraishi Itsumi “Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya.”

Itu artinya dengan mengetahui rahasia seseorang kita bisa menguasai orang itu. Dengan mengancam akan membongkar rahasianya, kita bisa membuatnya melakukan apa yang kita minta.

Begitu juga sebaliknya. Kalau rahasia kita dipegang oleh orang lain, siap-siap aja bakalan jadi budak.

Untung aku orangnya jago menjaga rahasia. Sampai sekarang masih belum ada yang tahu lho kalau aku pernah pipis di kelas pas kelas 3 SD. Keren kan? Itu baru secuil bukti betapa jagonya aku dalam menjaga rahasia.

Pada akhirnya aku hanya ingin berkata bahwa novel Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako adalah novel yang keren. Recommended deh. Rekomendasi buat kamu semua.

Sabtu, 28 November 2015

Catatan Kuliah Semester 2



Selamat gini hari gaes. Setelah beberapa bulan yang lalu aku bikin tulisan berjudul “Catatan Kuliah Semester 1”, Kali ini entah kenapa aku pengen cerita tentang hal-hal yang terjadi pas aku kuliah semester 2. Tentang kejadian yang terjadi seputar kehidupan kuliahku di periode paruh pertama tahun 2015.

Ok, langsung aja ...

KRS-an
Yap, bisa dibilang KRS-an yang kujalani jelang Semester 2 bergulir adalah momen KRS-an pertama yang terjadi di dalam hidupku. Soalnya, di semester 1 KRSnya masih paketan.

Dan gara-gara momen itu, aku jadi tahu kalau ternyata KRS-an itu merepotkan. Mungkin karena baru pertama kali ya?

Berada Di Dalam Sebuah Kelas Yang Di Dalamnya Nggak Ada Satu Pun Orang Yang Dikenal
Karena udah KRS-an, itu artinya kita bisa milih jadwal sendiri, itu artinya jadwal setiap orang beda-beda, itu artinya jadwal kita sama temen kita bisa aja beda, itu artinya bisa aja kita terdampar di sebuah kelas yang di situ nggak ada siapapun yang kita kenal. Dan  sialnya aku pernah mengalami itu.

Berada di situasi seperti itu tu bener-bener … keren. Karena secara nggak sadar kalau kita terjebak dalam situasi itu, biasanya kita akan berubah menjadi sosok yang  cool, kalem, dan tenang.

Sebenernya itu cuma untuk menghibur diri aja sih. Bosen juga nggak ada yang bisa diajak ngobrol. Belum lagi kalau dapat tugas kelompok. Hadeeh.

Pondok Sobron
Sama seperti semester sebelumnya, di semester 2 aku juga harus menginap 4 hari 3 malam di Pondok Sobron. Masih seperti sebelumnya juga, Pondok Sobron ternyata masih tetep asik. Untuk lebih lengkapnya, bisa dibaca di SINI.

Fashion
Yang ini juga masih sama seperti semester sebelumnya. Kaos dijaketin. Udah gitu doang tiap ngampus. Bodo amat nggak rapi. Yang penting nyaman.

Titip Absen
Semester 2 adalah periode di mana pertama kalinya dalam hidupku aku titip absen. Soalnya di semester 1 aku masih rajin-rajinnya. Hehe

Bolos Kuliah
Kasusnya kayak yang titip absen. Bahkan sebenernya niatnya pengen titip absen. Tapi karena itu adalah mata kuliah yang di kelas isinya aku nggak kenal siapa-siapa ... akhirnya malah jadi bolos. Parah.   

Stand Up Comedy Kampus UMS
Di semester dua ini akhirnya aku gabung sama Komunitas Stand Up Comedy Kampus UMS dan mulai rutin open mic. Di komunitas ini aku mengenal teman-teman baru. Kalau sebelumnya temenku cuma dari FEB UMS, sekarang jadi kenal yang dari fakultas lain.

Selain itu aku juga banyak belajar hal baru di komunitas itu. Kemampuan public speaking dan masih banyak lagi.

Nilai
Semester ini nilaiku cukup mengecewakan. Jika semester sebelumnya aku dapat 4 nilai A, semester ini sama sekali nggak ada. Mentok cuma AB. Bahkan ada yang E.

Rinciannya … Al-Islam 2: AB, Aplikasi Komputer: AB, Bahasa Inggris 2: B, Manajemen Pemasaran: B, Statistik 1: BC, Akuntansi Pengantar 2: C, MKPK: D, Makroekonomi Pengantar: E. Dengan IP: 2.5 … anjlok banget. Padahal semester sebelumnya 3.3.
Nilai Semester 2


Rasanya Dapat Nilai E
Rasanya dapat nilai E itu bener-bener … untuk lebih lengkapnya bisa baca di SINI. Hehe

Status Hubungan
Yang ini juga masih seperti semester sebelumnya. Dan kayaknya belum akan berubah dalam waktu dekat. JOMBLO –tiba-tiba capslock rusak dan nge-bold sendiri-

Kira-kira itulah catatanku selama aku menjalani semester 2 di kampusku. Sebenernya masih banyak sih kayaknya yang belum aku sebutin. Cuman, yang inget cuma itu aja. Hehe. Terakhir, aku mau bilang ... Selamat tinggal semester 2, selamat datang semester 3.

Rabu, 25 November 2015

Setelah Nonton Denpa Kyoushi [Review Anime]



Selamat gini hari semuanya. Kali ini aku pengen sok-sokan ngeriview anime lagi nih. Setelah kemarin aku ngeriview tentang Yamada-kun and the 7 witches, kini giliran Denpa Kyoshi yang bakalan kena review awur-awuranku.

Ok, Denpa Kyoushi (電波教師) merupakan anime hasil adaptasi dari manga karangan Takeshi Azuma yang memiliki judul yang sama. Disutradarai oleh Masato Sato. Memiliki total 24 episode dan tayang dari tanggal 4 April 2015 hingga 26 September 2015.
***
SINOPSIS
Denpa Kyoushi, bercerita tentang kehidupan sehari-hari Kagami Junichiro, lelaki yang dikenal jenius di bidang fisika semasa remajanya, bahkan salah satu karya ilmiahnya sempat ditebitkan di majalah ternama, ‘Nature’ dan ‘Science’. Akan tetapi, selepas kuliah, dia tiba-tiba kehilangan minat akan sains. Dia meninggalkan semua proyeknya ketika masih remaja. Keputusannya ini amat disayangkan oleh teman-temannya.

Kagami, sang tokoh utama dari Anime Denpa Kyoushi ini, kini memilih menjadi otaku  sebagai jalan hidupnya. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk mengupdate blog, membuat dan bermain game, menonton anime, membaca manga, dan rutinitas khas otaku pada umumnya.

Hingga pada suatu hari, secara ajaib karena tekanan dari adiknya, akhirnya Kagami pun menjadi guru. Dan sebenarnya  cerita di anime ini didominasi tentang perjalan karier mengajar dari Kagami yang tentu saja nyeleneh.
***
Penilaianku tentang anime ini …

Sumpah, awalnya aku bosan. Bosan banget. Apalagi di episode-episode awal. Bisa dibilang, kayaknya nggak sesuai dengan ekspektasiku.

Sebenarnya alasan kenapa aku bisa bosan jelas bukan salah dari pengarang atau pembuat anime ini. Tapi lebih ke aku aja yang salah menempatkan diri.

Salah menempatkan diri?  

Mungkin masih banyak yang nggak ngerti tentang kalimat di atas. Maksudku adalah pada awalnya karena aku membaca di Wikipedia bahwa anime ini bergenre comedy, tentu saja aku berharap akan banyak melihat kejadian lucu. Aku menempatkan diri sebagai seseorang yang siap untuk tertawa.

Tapi, apa yang aku harapkan sama sekali nggak dapat aku temui. Di episode-episode awal aku sama sekali nggak menemukan titik tawa –bahkan itu berlanjut sampai episode terakhir-. Kalaupun ada adegan yang diharapkan menjadi titik tawa, itupun comedynya nggak dapet. Punchlinenya nggak kena sama sekali.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk merubah cara pandangku terhadap anime ini. Berusaha sekuat tenaga untuk menikmati anime ini sampai selesai. Melupakan pandangan awal bahwa ini adalah anime comedy. Dan nggak berharap lagi untuk bisa tertawa.

Dan ajaibnya, ketika aku mulai merubah pandanganku, secara perlahan aku mulai bisa menikmati anime ini. Tentang perjalanan Kagami Junichiro sebagai seorang guru. Tentang bagaimana Kagami Junichiro merubah hidup orang-orang yang berinteraksi dengannya. Dan akhirnya aku menyadari, ternyata ceritanya seru juga loh.

Satu hal yang terus melekat di ingatanku adalah, Kagami Junichiro selalu punya sebutan aneh untuk memanggil orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Kagami Junichiro ini juga cerdas banget loh. Dia selalu menyelesaikan masalah dengan cara yang keren. Biasanya ketika akan menyelesaikan masalah, dia akan berkata “Saatnya memulai pelajaran” dan mengakhiri dengan kalimat “Cukup sampai di sini pelajaran hari ini”.

Oh iya. Soal soundtrack, ending songnya keren loh. Walau openingnya nggak keren-keren amat. Dan kenapa aku bilang ending songnya keren? Soalnya dua lagu yang jadi ending song, dua-duanya aku download. Sederhana banget ya.

Eh, hampir lupa. Bagian terkeren dari anime Denpa Kyoushi adalah saat Kagami Junichiro nge-quote di episode terakhir pas jelang bubaran. Bener-bener keren quotenya. Menggugah jiwa dan raga.

Pengen tahu quotenya kayak apa? Tonton sendiri dong animenya. Rekomendasi deh.

Senin, 23 November 2015

Setelah Baca Kambing Jantan [Review Buku]



Selamat gini hari semuanya. Kali ini, aku pengen nulis tentang buku yang legendaris banget. Buku pertamanya Raditya Dika yang judulnya Kambing Jantan (Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh). Dengan kata lain, kali ini aku pengen sok-sokan ngeriview buku.

Buku ini ditulis oleh Raditya Dika dan terbit pada tahun 2005. Semua tulisan di buku ini diambil dari postingan di blog pribadinya yang ditulis dari tahun 2002 sampai 2004. Katanya sih, semuanya kisah nyata yang dialami oleh sang penulis.

Oh iya. Kenapa di awal aku bilang buku legendaris? Karena bisa dibilang bahwa suksesnya buku ini menjadi best seller adalah titik di mana karier kepenulisan Raditya Dika berawal. Buku ini juga jadi awal mula berkembangnya genre Pelit Comedy di Indonesia.

Alasan lain kenapa aku menyebut buku ini legendaris karena walau buku ini diterbitkan pada tahun 2005, bukunya masih ada di toko buku hingga saat ini loh. Bahkan buku yang aku beli itu cetakan ke-45.

Keren nggak? Eh, keren nggak, sih?
 ***
TULISAN YANG ADA DI COVER BELAKANG BUKU

Esok paginya, ternyata jerawat gw makin banyak!!!
 
Tidakkkk… rupanya ada yang infeksi gitu soalnya si tukang salon salah ngasih obat… nyokap gw langsung panik… mulai saat itu, dia bersiin muka gw pake lotion ama toner pembersih setiap malam… ajaibnya, setiap kali dibersiin ama dia, paginya jerawat gw berkurang banyak sekali!!!
 
Selidik punya selidik, gw bertanya pada sang mama…
 
Gw: Ma, kok jerawatnya ilang banyak banget sih? Lotionnya bagus yah?
Nyokap: Wahhh…, rasahasianya bukan di krim ato tonernya, Kung…
Gw: Trus?
Nyokap: Rahasinya tuh pada kain yang Mama pake buat bersiin muka kamu!
 
Pas gw ngeliatin tuh kain… ternyata bentuknya segitiga…, ternyata ada karetnya di bagian atas…, ternyata… itu adalah kolor bokap gw!!! TIIIDAAAAAKKK…! Jadi, selama ini nyokap gw menjamah dan mengusap muka gw pake kolornya bokap… huhuhu… nasib… tapi manjur lho!
 
Pesan moral: ternyata selain buat topi, kolor punya kegunaan lain yang menakjubkan!
***
Penilaianku tentang buku ini … 

Gimana ya? Keren deh pokoknya. Lucu. Menghibur. Udah itu aja.

Soal EYD, emang sih amburadul. Namanya aja blog yang dibukuin. Tapi semua itu nggak mempengaruhi kekerenan buku ini kok.

Ada beberapa bagian yang aku cuma nyengir. Tapi ada juga bagian-bagian lain yang bikin aku ngakak.

Paling seneng kalau pas Radith cerita soal kehidupannya di Australia. Asik aja rasanya. Entah kenapa itu membuatku jadi pengen kuliah di luar negeri juga. Hehehe.

Ok, sebelum aku mengakhiri semuanya, aku mau mengakui sesuatu. Jujur aku tahu membaca Kambing Jantan yang terbitan 2005 pada akhir 2015 adalah sesuatu yang telat. Sangat-sangat telat. Tapi, nggak ada kata terlambat kok untuk menikmati karya yang hebat.

Baca buku Kambing Jantan di tahun 2015 itu ibarat kayak nangkep capung di Gunung Semeru. Nggak nyambung emang.

Jadi, buat siapapun yang belum baca buku ini, rekomendasi buat kamu. Tapi, siapa juga sih yang belum baca buku ini?