Sabtu, 31 Oktober 2015

Valentino Rossi Yang Aku Kenal



Beberapa hari telah berlalu sejak kejadan itu. Sebuah insiden yang terjadi di lap ke-7 saat berlangsungnya balapan Moto GP seri Sepang Malaysia. Sebuah insiden kontroversial yang melibatkan Valentino Rossi dan juga Marc Marquez.

Dalam beberapa hari terakhir, dunia seolah dipenuhi dengan berita dan obrolan seputar insiden itu. Sebuah senggolan di tikungan 14 antara Rossi dan Marquez yang akhirnya membuat nama yang terakhir disebut tersungkur dan gagal melanjutkan perlombaan.

Perdebatan mulai muncul. Apakah Rossi sengaja menjatuhkan Marquez? Rossi membantah hal itu. Dia hanya berkata bahwa dia ingin memperingatkan Marquez dan berharap Marquez kehilangan waktu.

Walau Rossi membantah hal itu, di luar sana masih banyak orang yang meyakini bahwa Rossi dengan sengaja menjatuhkan Marquez dengan cara menendangnya.

Hingga pada akhirnya muncul sebuah pertanyaan besar …

INIKAH ROSSI YANG SELAMA INI KITA KENAL?”

Tapi, Rossi melakukan senggolan itu bukan tanpa alasan. Marquez yang diduga memberikan provokasi pada Rossi disebut-sebut sebagai pemicu dari insiden itu.

Bagaimana pun juga, apapun alasannya, apa yang telah dilakukan oleh Rossi bukanlah sesuatu yang legal dalam Moto GP. Cara dia membalas provokasi dari Marquez benar-benar buruk.

Sebagai fans Rossi, jujur saja aku bersorak kegirangan ketika melihat Marquez terjatuh. Namun, setelah aku melihat tayangan ulang bagaimana Marquez terjatuh, aku ketakutan. Aku takut membayangkan hukuman apa yang akan Rossi dapatkan setelah insiden itu. Aku takut insiden itu akan menggagalkan ambisi Rossi untuk merengkuh gelar juara dunia yang sudah hampir di depan mata.

Dan buntut dari insiden itu, Rossi mendapakan hadiah 3 point penalti yang mengharuskan dirinya memulai balapan pamungkas di Sirkuit Valencia dari posisi terakhir. Jelas itu akan sulit bagi Rossi untuk bersaing dengan Lorenzo yang kini tinggal terpaut 7 angka.

Terkait hukuman ini, banyak pihak yang mengemukakan pandangannya. Ada yang merasa bahwa Rossi tidak bersalah dan ia tak seharusnya mendapat sebuah hukuman. Ada pula yang beranggapan bahwa hukuman itu masih terlalu ringan jika melihat apa yang telah The Doctor lakukan.

Sebagai fans Rossi, jelas aku akan senang jika hukuman itu dicabut. Namun, sebagai manusia normal, kurasa itu adalah harga yang memang pantas Rossi dapatkan setelah apa yang ia lakukan.

Terlepas dari semua masalah dan perdebatan di atas, semua itu tak kan merubah sedikit pun pandanganku terhadap Rossi. Bagaimana pun juga, aku tetap akan berdiri di sisinya. Memberikan dukungan untuknya.

Dan untuk pertanyaan “Inikah Rossi Yang Selama Ini Kita Kenal?”

Aku rasa aku tak terlalu peduli.

Kini aku hanya peduli tentang seri terakhir di Valencia. Aku hanya berharap Rossi akan memberikan yang terbaik di sana.

Lantas, apakah start dari posisi terakhir di Valencia akan menggagalkan gelar juara dunia kesepuluhnya yang sudah ada di depan mata?

Aku berharap Rossi yang aku kenal akan meraih gelar juara itu di Valencia. Rossi yang tidak mudah menyerah dan selalu berambisi untuk memenangkan sesuatu. Kurasa, itulah Valentino Rossi yang selama ini aku kenal sebagai seorang pahlawan di masa kecilku.

#ForzaVale …!!!

Rabu, 28 Oktober 2015

Alasan Kenapa Sebaiknya Jangan Mencontek Jawaban Teman Di Waktu Ujian



Kali ini  entah kenapa pengen rasanya membahas tentang perilaku yang pastinya sudah mendarah daging banget di benak pelajar Indonesia. Bahkan aku dan mungkin beberapa dari kalian pun pernah melakukannya. Ya, mencontek jawaban teman saat ujian.

Aku yakin kalau sebenarnya kamu juga pasti setuju kalau aku bilang mencontek jawaban teman waktu ujian bukanlah sesuatu yang legal. Bagaimanapun juga itu adalah perilaku yang tidak baik. Dan aku juga punya alasan kenapa kamu sebaiknya jangan mencontek jawaban teman waktu ujian.

Namun sebelum aku menyebutkan alasanku, sebelumnya aku pengen menegaskan kalau ini hanya berlaku pada perilaku mencontek jawaban milik teman pada saat ujian. Ini nggak berlaku jika kamu mencontek jawaban teman tapi pas dapat tugas kuliah/sekolah. Atau kamu mencontek saat ujian tapi mencontek dari contekan yang sudah kamu persiapkan sebelumnya.

Jadi sekali lagi ini sangat spesifik. Mencontek jawaban teman saat ujian. Dan ini dia alasannya:

Kehilang Banyak Waktu
Ya, kamu akan kehilangan banyak waktu. Soalnya logikanya gini, untuk mendapatkan jawaban dari teman kamu, tentu saja pasti kamu harus menunggu teman kamu menyelesaikan jawabannya terlebih dahulu. Seenggaknya bahkan hanya untuk satu nomor soal.

Dan jelas itu akan membuat waktumu terbuang percuma. Apalagi jika ujiannya pada saat itu soalnya banyak, dengan jawaban yang panjang-panjang, dan waktu yang tersedia enggak lama. Ok, mungkin kamu akan tetap mendapat jawaban dari teman kamu. Tapi yakin soalnya bisa terjawab semuanya?

Yakin deh kamu nggak akan kehilangan banyak waktu jika kamu ngerjain sendiri. Atau seenggaknya kamu juga nggak akan kehilangan banyak waktu kalau kamu bawa contekan sendiri.

Belum Tentu Benar
Jawaban teman kamu memang belum tentu benar. Tapi nggak tahu kenapa terkadang rasanya jawaban dari teman itu kok lebih meyakinkan ya. Tapi bagaimanapun juga itu terlalu beresiko karena jawaban teman kamu sekali lagi belum tentu benar. Kan nggak enak, udah dosa salah lagi.

Karena sebenarnya teman kamu juga sedang berjuang mengerjakan ujian juga. Jadi belum tentu jawabannya benar. Kecuali kalau teman kamu itu dosen. Apalagi dosen yang bikin soal.

Mengganggu Teman
Itu sangat jelas. Karena ketika seseorang sedang serius mengerjakan sesuatu, tentu saja orang itu akan terganggu saat ada orang yang tiba-tiba memanggil namanya dan kemudian berkata …

“Bro, nomer 76 jawabannya apa?”

Dan kalau orang itu nggak peduli sama panggilan kamu, bukan berarti orang itu nggak menganggap kamu teman. Itu berarti kalau sebaiknya kamu jangan ganggu dia saat itu. Dia lagi konsentrasi gaes.

Kamu Akan Jadi Orang Egois
 Setelah gagal mendapatkan jawaban dari temen kamu, mungkin kamu akan marah. Kemudian mengumpat …

“Wedhus balap! Teman macam apa itu?”

Kamu hanya akan peduli tentang bagaimana cara supaya lembar jawab kamu terisi. Tanpa peduli dengan kondisi orang lain. Padahal nggak ada jaminan juga kalau misalnya kamu berada di posisi orang yang bisa mengerjakan, akan berbaik hati secara cuma-cuma berbagi jawaban dengan teman yang membutuhkan..

Kemudian Kamu Akan Berpikir …
“Sial, tahu gitu aku belajar sendiri,” atau seenggaknya mungkin kamu akan berpikir untuk membuat contekan sendiri.


Itu saja sih alasan kenapa sebaiknya kamu jangan mencontek jawaban teman di waktu ujian. Ingat, itu cuma berlaku pas ujian. Kalau kamu pengen mencontek jawaban teman pas dapat tugas atau pengen mencontek pas ujian tapi dari contekan yang sudah dipersiapkan sebelumnya ya silahkan.

Dan terakhir ... semoga artikel ini bermanfaat.

Senin, 19 Oktober 2015

Laugh in Solo 2



Laugh in Solo 2. Begitulah tajuk acara show stand up comedy yang dihelat pada tanggal 17 Oktober 2015 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Sebuah show stand up comedy yang seolah mengukuhkan eksistensi Komunitas Stand Up Comedy Solo dalam 4 tahun terakhir. Ya, acara itu memang dilangsungkan selang beberapa hari setelah Komunitas Stand Up Comedy Solo memperingati ulang tahun mereka yang ke-4.

Parodi dari acara gulat Amerika atau yang biasa kita sebut dengan Smackdown, kurasa itu adalah kesan yang tertanam di benakku tentang konsep acara dari Laugh in Solo 2. Benar-benar unik dan luar biasa.   

Dengan menampilkan 4 local comic dan guest star Indra Frimawan serta Dicky Difie, Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah bagaikan meledak tertelan suara tawa yang menggelora di malam minggu yang cerah itu.

Di malam itu, Pandu Samodra tampil sebagai pembuka. Dia mengawali Laugh in Solo 2 dengan meriah. Bit-bitnya tentang kimcil ndeso dan lain sebagainya sukses membuka acara itu dengan memanen tawa dari para penonton yang hadir.

Comic kedua yang tampil di malam itu adalah Faris Insani. Seorang dosen dari Universitas yang tidak terlalu terkenal di Solo. Seorang dosen yang mengaku menjadi pengamat garis keras JKT48. Penampilannya malam itu … cukup mantap lah.

Tampil ketiga malam itu adalah Indra Narendra. “Tak smack cengelmu” dan “Su … rene,” adalah dua kalimat yang masih terngiang-ngiang di kepalaku jika mengingat penampilan dari Indra Narendra. Dengan bit-bitnya yang benar-benar luar biasa aku berani berkata bahwa Indra Narendra adalah opener dengan penampilan tergila malam itu.

Sayangnya saat Indra Narendra membawakan bit tentang anu cewek, tawa penonton sedikit menyurut. Kurasa penonton perempuan yang hadir malam itu merasa sedikit ilfeel dengan bit itu. Dan yang kulakukan pada saat itu adalah mengedarkan pandanganku. Mencoba mengamati reaksi penonton. Tepat seperti dugaanku, penonton perempuan yang hadir malam itu terlihat segan untuk tertawa.

Tapi bagaimana pun juga, bagiku Indra Narendra tetaplah opener local terbaik malam itu.

Setelah penampilan mengesankan dari Indra Narendra, muncullah sesosok makhluk yang disebut dengan Gembuk. Comic yang menurut kabar yang beredar, adalah comic termuda yang dimiliki oleh Stand up Solo.

Gembuk tampil dengan baik. Cukup apik untuk menutup deretan local comic yang tampil malam itu. Dan jika aku perhatikan, dari ke-3 comic yang tampil lebih dulu dari dia, Gembuk adalah yang ke-4.

Setelah ke-4 opener local tampil, itu artinya telah tiba saatnya untuk Indra Frimawan dan Dicky Difie untuk beraksi. Indra Frimawan tampil lebih dulu.

“3 detik yang lalu … satu, dua, tiga … gue ngomong 3 detik yang lalu.”

Sebuah kalimat yang mengawali penampilan dari Indra Frimawan. Sebuah kalimat yang sukses pula membuat tawa penonton seketika meledak.

Tampil dengan durasi 22 menit, Indra Frimawan sukses memanen tawa malam itu. Dan malam itu, Indra Frimawan tampil dengan materi yang memang Indra Frimawan banget.

Dan setelah Indra Frimawan, tentu saja itu saatnya bagi sang headliner untuk tampil. Dicky Difie!

Dicky Difie tampil sangat-sangat luar biasa. benar-benar Menakjubkan. Tidak salah jika Stand up Solo mengundang Dicky sebagai headliner. Keputusan yang tepat.

“Aku arep stand up nganggo Boso Jowo,” ucap Dicky malam itu untuk mengawali penampilannya.

Wow! Skill berbahasa Jawa yang di luar dugaan. Keren. Banyak bit dari Dicky yang malam itu ia bawakan menggunakan Bahasa Jawa. Pecah! Bahkan di sela-sela penampilannya, aku berharap Dicky akan full menggunakan Bahasa Jawa.

Dari 32 menit luar biasa yang Dicky suguhkan di malam itu, masih bertahan di kepalaku bit-bitnya tentang coli. Dan karena bit coli tersebut, akhirnya aku mulai menyadari satu hal. Ya, aku kini menyadari bahwa rutinitas yang selalu kulakukan setiap dua hari sekali dalam suasana kamar yang hening dan sepi itu ternyata bukanlah hal yang buruk.

Dan di Laugh in Solo 2 ini aku juga menyadari bahwa ternyata Dicky Difie beberapa kali jauh lebih bagus daripada yang aku kira. Mungkin 76 kali lebih hebat dari yang terlihat di televisi selama ini.

Kurang lebih itu saja kesan-kesanku tentang Laugh in Solo 2. Untuk mengakhiri tulisanku, aku akan berkata “Selamat ulang tahun yang ke-4 untuk Stand up Solo. Tetap meNYOLOkan komedi dan mengkomedikan SOLO.”