Minggu, 27 September 2015

Tragedi Nilai E



sujadi
Tragedi nilai E. Ya, seperti itu aku menyebutnya. Sebuah peristiwa yang bisa kusebut sebagai hal terburuk yang pernah terjadi padaku selama aku berkuliah.

Mendapat nilai E adalah tragedi? Mungkin kalian akan bertanya seperti itu. Tapi … percayalah padaku bahwa mendapat nilai E adalah sesuatu yang benar-benar buruk. Memang secara fisik itu tidak akan memberikan dampak apapun pada dirimu. Tapi secara mental itu benar-benar mengerikan. Alasan kenapa aku berkata seperti itu adalah karena aku pernah merasakannya sendiri.

Di semester kedua kuliahku di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang kujalani di periode paruh pertama tahun 2015 aku merasakan betapa mengerikannya nilai E. Tepatnya untuk mata kuliah Makroekonomi Pengantar. Dengan dosen yang bernama Sujadi. Seorang dosen yang namanya memang melegenda di kalangan mahasiswa Manajemen FEB UMS.

Ketika semester dua telah berakhir, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa lain pada umumnya aku mengecek website sia.ums.ac.id untuk mengetahui seperti apa nilaiku pada semester itu. Dan betapa terkejutnya diriku ketika aku mendapati ada satu nilai E yang terpampang di sana.

Ok. Sejak awal aku memang telah menduga jika nilaiku tidak akan sebagus di semester sebelumnya. Tapi … nilai E? Ini benar-benar buruk. Nilai E itu artinya 0. Artinya aku tidak lulus. Bahkan itu bisa berarti bahwa semua hal yang kulakukan di jam kuliah Sujadi untuk mata kuliah Makroekonomika Pengantar sama sekali tak ada artinya.

Aku benar-benar shock waktu itu. Aku merasa semua yang telah kulakukan berakhir dengan sia-sia. Uang yang kukeluarkan untuk membayar SKS, waktu yang terbuang saat aku mengikuti perkuliahan … semuanya terasa sia-sia. Harus kuakui bahwa aku benar-benar merasa marah waktu itu.

Tapi aku sadar bahwa aku tak bisa terus-menerus terpuruk dalam keadaan seperti ini. Sejenak aku berusaha menenangkan diri. Walau itu terasa benar-benar sulit untukku.

Aku berbaring di tempat tidur sambil memejamkan kedua mataku. Sejenak aku teringat kembali kepada sebuah kalimat yang dulu pernah aku yakini.

HIDUP ADALAH PILIHAN. TAPI, AKAN SELALU ADA SEBUAH DAMPAK DARI PILIHAN YANG KITA TENTUKAN.

Ya. Manusia selalu dihadapkan pada sebuah atau bahkan bisa beberapa pilihan sekaligus dalam hidupnya. Dan setiap pilihan yang ditentukan akan menghasilkan sebuah konsekuensi. Selalu ada dampak yang terjadi dari pilihan yang kita ambil.

Kemudian aku mencoba mengingat kembali apa saja yang telah kulakukan ketika mengikuti kuliah Sujadi selama satu semester yang lalu.

Aku ingat ketika Sujadi memberikan sebuah tugas aku tak pernah mengumpulkannya.

Aku ingat aku selalu datang terlambat di jam kuliahnya Sujadi.

Aku ingat aku pernah sekali atau dua kali bolos kuliahnya Sujadi.

Aku ingat ketika Sujadi menjelaskan materinya aku selalu duduk dibelakang dan mendengarkan musik dari headsetku.

Aku ingat karena sangat bosan waktu kuliahnya Sujadi aku ijin ke kamar mandi dan tak kembali padahal kuliah baru berlangsung sekitar 20 menit.

Aku ingat ketika ujian aku tidak mengerjakan satu soal pun. Hanya menulis “Maaf pak saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini” di lembar jawab yang disediakan.

Aku ingat semuanya. Tidak mengumpulkan tugas, datang terlambat, bolos, dan lain sebagainya adalah pilihan yang kuambil waktu itu.

Kenapa aku menyebut itu sebagai pilihan yang kuambil? Karena pada faktanya sebenarnya aku bisa saja memilih sebaliknya. Aku bisa saja memilih untuk mengumpulkan tugas, datang lebih awal, atau mencoba untuk lebih rajin. Tapi sayangnya itu bukanlah pilihan yang aku ambil.

Dan pada akhirnya aku mulai menyadari bahwa nilai E adalah dampak dari pilihan yang kutentukan sendiri. Nilai E adalah nilai yang cukup adil jika aku melihat apa yang telah kuperbuat selama satu semester bersama Sujadi.

Nilai E memang sesuatu yang mengerikan. Tapi menyesal pun tak ada gunanya. Kurasa introspeksi adalah satu kata yang harus kulakukan.

Untuk Sujadi … terima kasih banyak karena engkau telah membuatku sadar bahwa aku harus lebih bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan ketika menentukan suatu pilihan.

Rabu, 23 September 2015

Majelis Tawa Mini Show



Majelis Tawa Mini Show. 17 September 2015. Sebuah show stand up comedy yang menjadi hajatan milik teman-teman dari komunitas Stand Up Comedy Kampus UMS.  Sebuah hajatan di mana di situ aku menjadi panitia sekaligus pengisi acara.

Bukan hajatan yang besar memang. Seperti yang disebut dalam tajuk acara. Mini Show, sebuah show kecil. Ya, sebuah show kecil dengan tiket yang sangat murah. Hanya 5rb rupiah. Sebuah show kecil dengan harapan tetap meriah walau dalam kesederhanaan.

Tidak ada guest star comic nasional di acara ini. 6 comic yang tampil di Majelis Tawa Mini Show semuanya adalah pejuang-pejuang tawa yang memang bernaung di komunitas Stand Up Comedy Kampus UMS.

Dengan line up berisikan Prince, Rilo, Faisal Riza (aku), Azmi, Faris, dan Mas Brintik. Dipandu oleh duo MC Abibsan dan juga Arum Setiadi, gedung seminar J1.1 Fakultas Komunikasi dan Informatika yang terletak di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta terasa sangat meriah malam itu.
 
Stand up comedy UMS
Pamflet Majelis Tawa Mini Show
Setelah lebih dari sebulan aku disibukkan oleh persiapan untuk acara itu semisal menulis proposal, mengurus perijinan tempat, mencari sponsor, dan lain sebagainya, akhirnya hari itu datang juga. 17 September 2015. Hari di mana Majelis Tawa Mini Show akan dihelat. Hari yang bersejarah pula untukku. Karena di hari itu merupakan hari di mana untuk pertama kalinya aku akan tampil di sebuah show stand up comedy dengan tiket berbayar.

Persiapanku untuk tampil di acara itu sedikit terganggu karena sialnya saat hari H hanya menyisakan waktu sekitar seminggu aku sakit. Dan sialnya lagi sakit itu berlangsung sekitar 5 hari. Jadi ketika kamis 17 September aku harus tampil, hari selasa 15 September aku belum benar-benar fit. Dan kurasa aku harus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT karena telah memberiku kesembuhan di waktu yang tepat.

Sekitar jam 4 sore aku datang ke lokasi pertunjukkan. Mempersiapkan segala hal untuk acara itu. Memindahkan kursi, mengangkat sound system, dan masih banyak lagi.

Waktu pun terus berjalan. Hingga akhirnya malam benar-benar datang. Entah kenapa waktu acara benar-benar akan dimulai secara tiba-tiba aku merasa mual. Ya, rasa gugup yang entah dari mana datangnya kurasa menjadi pemicu terkuat munculnya rasa mual itu. Meskipun fakta bahwa dua hari sebelumnya aku baru sembuh dari sakit bisa juga kugunakan sebagai alasan. Tapi memang harus kuakui bahwa aku benar-benar gugup. Hingga akhirnya aku benar-benar memutuskan untuk memuntahkannya. Bukan hanya sekali. Tapi dua kali aku muntah.

Saat aku berada di kamar mandi untuk muntah, aku ingat Mas Arum berkata padaku seperti  ini. “Jangan berpikir bagaimana cara menghilangkan grogi. Tapi berpikirlah bagaimana cara menambah PD,” sebuah kalimat yang mungkin akan kuingat sepanjang hidupku.

Setelah dua kali muntah, aku merasa baikan. Meski rasa gugup itu masih ada, tapi setidaknya rasa mual itu sudah hilang. Aku berjalan mondar-mandir sambil menghapal materi waktu menunggu giliran untuk tampil. Terlihat seperti orang gila memang. Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada aku hanya duduk diam mematung sembari membiarkan keringat dinginku bercucuran.

Waktu pun kembali berlalu. Comic pertama Prince Victory masuk. Dari luar aku mendengar suara tawa. Cukup meriah sepertinya. Tak lama kemudian dia keluar. Comic kedua pun masuk. Rilo. Sekitar 10 menit kemudian Rilo menyelesaikan penampilannya. Dan itu artinya kini tiba giliranku untuk maju.

Dari balik pintu aku mendengar suara MC yang menyebut namaku. “Faisal … Riza!” begitulah kata mereka. Dengan memantapkan hati aku mencoba melangkah menuju panggung. Sebuah panggung yang akan menjadi panggung pertamaku.

Laguku yang berjudul “Penuh Keyakinan” menjadi lagu yang mengiringi langkahku menuju panggung. Aku yang waktu itu mengenakan jersey bola berwarna merah dengan lambang Persis Solo yang ada di dada mencoba menyapa para penonton yang hadir dengan sebuah kalimat “Selamat malam.”

Ada alasan khusus kenapa aku memilih mengenakan jersey Persis Solo waktu itu. Ya, sebagai seorang mantan supporter aku punya alasan khusus. Jika biasanya dengan jersey itu aku hanya bisa melihat orang lain berjuang dari kejauhan, maka aku berharap untuk setidaknya satu kali ini saja dengan jersey yang sama aku berjuang untuk diriku sendiri.

Menit demi menit mulai berganti. Bit demi bit pun mulai terlontar dari mulutku. Derai tawa pun terdengar bermunculan. Seolah memanen tawa malam itu. Sesungguhnya aku benar-benar tak terlalu mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Semua yang terjadi benar-benar seperti mimpi. Mungkin inilah yang biasa orang sebut dengan keajaiban. Aku sangat puas. Ah, tidak. Kurasa akan lebih tepat jika aku berkata bahwa aku sangat bahagia.

Setelah aku turun entah kenapa aku tertawa sendiri. Ingin rasanya aku berteriak. Semua beban terasa telah hilang.
 
Stand up comedy UMS
Panitia Majelis Tawa Mini Show
Sekali lagi aku ingin berkata bahwa aku sangat bahagia malam itu. Setelah sekian lama aku tak merasakan kebahagiaan sedasyat itu. Ya, bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku benar-benar merasa bahagia.

Di malam itu, 17 September 2015, kurasa aku akan selalu mengingat malam itu sebagai salah satu malam terbaik di dalam hidupku.

Terimakasih untuk penonton yang hadir. Terimakasih untuk Komunitas Stand Up Comedy Kampus UMS. Terimakasih untuk Mas Abibsan atas kepercayaan yang telah memberiku satu tempat sebagai line up di malam itu. Terimakasih semuanya.