Sabtu, 30 Mei 2015

Dolanmu Kurang Adoh, Mulihmu Kurang Isuk



mulihmu kurang isuk
Dolanmu Kurang Adoh, Mulihmu Kurang Isuk

Pernah nggak sih kalian denger kalimat itu? 

“DOLANMU KURANG ADOH, MULIHMU KURANG ISUK” 

Biasanya kalimat itu bertujuan untuk menyindir temen yang dibercandain tapi dia tersinggung. Biasanya kalimat yang tadi belum lengkap kalau di bagian depannya nggak ditambahin dengan kalimat ...

“YEN PAS GOJEK KARO KONCOMU TERUS MBOK LEBOKNE NING ATI BERARTI …”

Begitulah kira-kira kalimatnya. Kalau kedua kalimat itu digabung, maka akan menjadi suatu kalimat sempurna yang berbunyi ... 

“YEN PAS GOJEK KARO KONCOMU TERUS MBOK LEBOKNE NING ATI BERARTI … DOLANMU KURANG ADOH, MULIHMU KURANG ISUK”

Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini aku sering banget lihat tulisan yang kayak gitu. Biasanya sih di DP BBM. Maknanya adalah bahwa ketika kita bercanda, kita tak perlu memasukkan materi bercandaan itu ke dalam hati. Semacam memberi isyarat untuk lebih bersikap dewasa dalam menerima candaan -atau mungkin kita bisa sebut itu sebagai celaan-. Mungkin maksudnya keren ya. Tapi, menurutku ini aneh lho.

Aneh? 

Iya aneh. Maksudnya gini. Kalimat yang tadi itu kan hanya berfungsi di saat … taruhlah kamu sedang bercanda atau sebut saja mencela -atau dalam istilah stand up comedy namanya roasting- temen kamu. Lalu yang terjadi adalah temen kamu nggak terima. Kemudian karena dia nggak terima, kamu lalu ngetweet, bikin status, atau pasang DP dengan gambar bertuliskan kalimat di atas untuk menyindir temen kamu. Dan ini menurutku aneh. Kalau kamu melakukan itu berarti kamu aneh.

Kenapa aneh? Kok jadi aku yang aneh kak? Kok bukan dia sih? Padahal kan itu cuma bercanda? Tapi anehnya dia tersinggung. Jadi dia dong yang aneh!

Aku tahu kalian mungkin akan berkata seperti itu. Tapi gini lho. Bercanda itu ada batasnya loh. Dan juga batas kesabaran seseorang dalam menerima candaan/celaan itu jelas berbeda antara satu orang dan orang lain. Dan anehnya dengan kalimat “DOLANMU KURANG ADOH, MULIHMU KURANG ISUK,” seseorang yang kamu cela dan marah seolah-seolah adalah orang yang salah. 

Itu kesannya kayak kamu sangat yakin bahwa harusnya dia nggak marah kalau kamu bercandain. Dan dia jadi bersalah hanya karena dia tersinggung sama ucapan kamu. Kamu masih nggak sadar kalau kamu aneh dan egois?

Aneh kan? Iya lah. Bagaimanapun juga dia tersinggung karena ucapan kamu. Jadi harusnya siapa yang salah? Ya kamu dong.

Dan lagi ya. Kalau misalnya kamu melukai perasaan seseorang lewat candaan, apa yang harus dilakukan? Menyalahkan orang yang kamu hina karena dia nggak terima? Enggak. Harusnya kamu tu minta maaf. Terus intropeksi diri. Agar kedepannya lebih hati-hati lagi dalam bercanda. 

Karena seperti yang aku bilang tadi. Setiap orang itu beda loh. Batasan kesabaran satu orang dengan yang lain itu nggak sama. Mungkin aja kamu punya temen yang kamu hina habis-habisan dan dia ikut ketawa. Tapi pasti ada juga temen yang mudah banget tersinggung. 

Kenapa? Apa karena dia dolannya kurang adoh? Atau mulihnya kurang isuk? Bukan. Itu karena batasan kesabarannya rendah. 

Apa dia salah? Apa kamu harus mencelanya? Tentu saja enggak. Yang perlu kamu lakukan adalah menghargainya. Lalu berusaha lebih peka lagi dalam bercanda. Kamu harus tahu dulu karakter temen yang kamu bercandain. Dia mudah tersinggung atau enggak? Dan lain sebagainya. Jadi kamu akan tahu candaan seperti apa yang cocok kamu lontarkan ke temen kamu dengan karakter yang berbeda-beda.

Sebenernya, aku belajar hal ini dari stand-up comedy. Aku pernah open mic dan ada satu bit yang sebagian ketawa tapi sebagian enggak. Lalu pas selesai kan ada evaluasi. Terus salah satu temanku di komunitas Stand-Up Comedy UMS ada yang bilang gini ... 

“Sal, aku ngerti tentang bit kamu yang tadi. Aku ketawa. Dan itu lucu. Tapi pas aku nengok ke sekeliling kok ada beberapa yang nggak ketawa. Sepertinya mereka nggak ngeri tentang bit kamu. Dan ketika kamu membawakan bit yang lucu tapi ada yang nggak ngerti, apa mereka salah karena nggak paham? Apa kamu boleh nyalahin mereka? Enggak. Itu murni salah kamu. Kamu sebagai penampil dan jika ada penonton yang nggak ngerti tentang apa yang kamu bicarakan, berarti itu seratus persen kesalahanmu. Itu tanggung jawab kamu.”

Seperti itulah perbandingannya. Ketika seorang pelaku stand-up comedy harus memastikan bahwa setiap orang akan mengerti tentang bit materi yang dibawakannya, kita juga harus memastikan orang yang kita bercandain untuk tidak tersinggung dengan lelucon atau gojekan yang kita lontarkan.

Kayaknya cuma ini aja sih yang bisa aku tulis. Ya semoga artikel ini bermanfaat.

Sabtu, 09 Mei 2015

Mentoring Terakhir FEB UMS 14/15

Koridor FEB UMS. Tempat Berlangsungnya Mentoring  Setiap Sabtu Pagi.



Selamat gini hari semua. Kali ini aku mau bahas sesuatu yang barusan terjadi di hari ini. Apa itu? Jadi gini. Hari ini itu merupakan hari terakhir aku masuk mentoring. Mentoring itu apaan sih? Mungkin kalian ada yang nggak ngerti ya. Ok, mentoring adalah ...

Semacam pengajian. Jadi mentoring itu adalah semacam pengajian tapi skalanya kecil. Mungkin seperti halaqoh. Jadi nanti semua mahasiswa tahun pertama di UMS itu akan dibagi dalam kelompok kecil lalu akan diberi siraman rohani oleh seorang mentor yang biasanya adalah kakak tingkat.

Masuk setiap sabtu pagi jam tujuh. Kadang nyebelin juga sih harus berangkat di hari sabtu yang padahal kan harusnya libur. Tapi anehnya aku selalu masuk alias nggak pernah absen. Itung-itung buat kegiatan. Daripada ngenes di rumah. Maklum Jomblo .... hehe

Dan hari ini merupakan mentoring terakhir. Rasanya cepet banget gitu. Perasaan baru kemarin ikut pembukaan mentoring di lapangan kampus dua. Sekarang udah selesai begitu aja. Waktu kayaknya memang berjalan dengan cepat ya. Jadi harus manfaatin waktu sebaik-baiknya.

Karena hari ini adalah mentoring terakhir, jadi sabtu depan udah nggak ada mentoring lagi. Pertanyaannya cuma satu. Terus minggu depan aku mau ngapain? Yang anak kosan enak, pulang kampung. Yang punya pacar enak, main sama pacar. Lah aku? udah jomblo rumahnya deket lagi ... bakalan ngenes deh minggu depan.

Terus mas mentorku tadi bilang gini ...

"Kami butuh regenerasi. Di sini ada yang pengen jadi mentor?"

Tanpa ragu aku mengacungkan jari-jari tanganku. Aku bilang kalau aku bersedia. Aku punya alasan sih kenapa aku pengen jadi mentor. Pertama: Aku pengen ngelatih kemampuan public speakingku. Kedua: Biar nggak ngenes di hari sabtu.

Hehe ... itu aja sih yang pengen aku ceritain kali ini. Udah ya. Selamat gini hari.

tambahan: Kalau pengen baca cerita saya tentang saya yang udah jadi pementor di tahun ajaran 2015/2016, bisa dibaca DI SINI.