Sabtu, 07 Maret 2015

Alasan Cinta Persis Solo?

Pasoepati Ancol
Aksi Pasoepati Militan Sambi Korwil Ancol
Segala sesuatu pasti memiliki sebuah alasan. Begitupun juga dengan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Pada umumnya orang akan melakukan sesuatu karena memiliki sebuah alasan tertentu.

Tapi, cinta berbeda. Terkadang kita tak perlu sebuah alasan untuk mencintai sesuatu. Karena cinta mengalir begitu saja.

Jujur saja aku akan kesulitan menjawab jika ada orang yang bertanya kepadaku “Mas, kok kowe iso seneng Persis tho?” karena memang aku pun tidak mengerti kenapa aku bisa mencintai klub sepakbola tersebut. Seakan Laskar Sambernyawa adalah sebuah klub yang dipilihkan oleh Allah untuk  kudukung. 

Lahir dan besar di kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali yang berjarak sekitar 18km dari Stadion Manahan membuatku benar-benar asing terhadap sepakbola. Ditambah lingkungan tetangga dan keluarga yang sepertinya juga tidak begitu peduli dengan sepakbola khususnya sepakbola dalam negeri, membuatku seolah tak punya alasan untuk menyukai sepakbola.

Aku memang tidak tahu alasan kenapa aku mencintai Persis Solo. Tapi aku masih ingat bagaimana ikatanku dengan Persis Solo terbentuk. Semua ini berawal sekitar akhir 2006 atau awal 2007, aku tidak begitu mengingatnya. Saat itu aku masih menuntut ilmu di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam yang berlokasi di Pabelan, Kartasura.

Yang kuingat pada waktu itu adalah saat aku sedang bersantai di asrama bersama dengan yang lainnya, ada salah seorang temanku yang membawa sebuah Koran. Tak lama berselang, koran itupun sukses menciptakan sebuah kerumunan. Karena penasaran, aku pun akhirnya bergabung. Dan ternyata, di Koran tersebut terdapat daftar lengkap sekaligus profil singkat dari seluruh kontestan Divisi Utama Liga Indonesia 2007.

Langsung saja teman-temanku membanggakan klub dari daerah asal masing-masing. Yang dari Jakarta dengan bangga menunjuk lambang Persija Jakarta yang ada di Koran tersebut. Yang orang Bandung ikut bercerita soal Persib Bandung. Yang dari Mojokerto pun mulai berbicara tentang Persebaya Surabaya. Tentu tak ketinggalan temanku dari Semarang terus memuji Mahesa Jenar PSIS Semarang.

Walaupun pondok pesantren tersebut terletak di pinggir Kota Surakarta, tapi aku adalah satu-satunya orang di asrama yang berasal dari wilayah Solo Raya alias eks-Karesidenan Surakarta. Jujur saja pada waktu itu aku benar-benar tidak paham sedikitpun tentang sepakbola. Aku yang bingung dengan apa yang dibicarakan teman-temanku hanya mampu memandangi halaman Koran tersebut sembari membaca profil singkat klub-klub kontestan Divisi Utama 2007 yang pada waktu itu memang menjadi kasta tertinggi dari percaturan sepakbola dalam negeri.

Mataku terus bergerak memandangi satu per satu profil itu hingga akhirnya pandanganku terhenti pada profil sebuah klub berlambangkan tugu kebangkitan dengan kombinasi warna merah dan putih.

“Persis Solo” 

Begitulah nama klub itu tertera di surat kabar tersebut. Ada sedikit perasaan aneh ketika nama itu terbaca oleh mataku. Semacam getaran. Dan entah kenapa getaran itu membimbingku pada rasa penasaran.

Rasa penasaranku terhadap Persis Solo pun akhirnya semakin besar. Karena di pondok pesantren tidak ada tv, radio, ataupun internet, maka setiap hari ketika ada waktu luang aku menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan hanya untuk membaca koran dan mengetahui kabar terkini dari Persis Solo. Begitulah hari-hari yang kulalui, aku hanya bisa memantau perkembangan Persis melalui surat kabar.

Stadion Bhumi Phala
Foto Pas AwayDay Temanggung 2014
Sekitar maret 2007 aku memutuskan untuk keluar dari pondok karena memang aku sudah merasa tidak betah berada di sana. Dan di saat itulah aku mulai bisa menyaksikan perjuangan Laskar Sambernyawa. Walau hanya lewat TV tentunya. 

Sekitar tahun 2008 hingga 2009 aku sama sekali tidak tahu seperti apa perkembangan Persis Solo. karena waktu itu Persis Solo tidak lolos ke ISL dan masih berkompetisi di Divisi Utama yang bukan lagi merupakan kasta tertinggi sepakbola Indonesia, jadi kurasa cukup wajar jika tidak banyak media yang mengulas kabar seputar Persis Solo.

Sekitar awal tahun 2010, karena sangat penasaran dengan kabar dari Laskar Sambernyawa, aku iseng-iseng mencari di Google dan tak sengaja aku menemukan website Pasoepati.net yang memang mengulas segala sesuatu tentang perkembangan sepakbola di kota bengawan ini. Dari website itu, aku bisa tahu kapan Persis Solo akan bertanding dan lain sebagainya.

Pada awalnya, setelah tahu kapan Persis akan bertanding, aku hanya mendengarkan siaran pertandingan itu melalui radio RRI Surakarta yang memang selalu menyiarkan pertandingan yang dilalui Persis baik kandang atau pun tandang. Aku belum berani datang langsung ke Manahan karena aku memang tidak punya teman untuk menonton bola. Tak ada seorang pun yang pernah mengajakku.

Pada tanggal 22 Maret 2010, aku yang waktu itu masih kelas 3 SMP mengumpulkan keberanianku untuk pertama kali hadir secara langsung di Stadion Manahan. Aku sangat ingat waktu itu adalah pertandingan antara Persis Solo menjamu tamunya Persidafon Dafonsoro dari Papua.

Tidak ada yang mengajakku waktu itu. Tapi aku juga tak berangkat sendiri. Waktu itu aku mengajak teman sekelasku yang kurasa juga belum pernah pergi ke Manahan. Persis Solo kalah 2-0 di pertandingan itu. Ada sedikit rasa kecewa tapi kebahagiaan kurasa lebih dominan menguasai emosiku. Ya, aku bahagia karena akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di tribun Stadion Manahan. Hasrat yang telah lama terpendam pada akhirnya dapat kuluapkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar