Sabtu, 28 Maret 2015

Setelah Nonton Gekkan Shoujo Nozaki-kun [Review Anime]



Anime keren
Gekkan Shoujo Nozaki-kun

Ini adalah artikel keduaku tentang anime. Setelah sebelumnya aku sempat nulis tentang kesan-kesanku setelah nonton Sakurasou no Pet na Kanojo

Kali ini akan memberikan kesan-kesanku setelah menonton anime yang sangat keren, Gekkan Shoujo Nozaki-Kun (月刊少女野崎くん). Tulisan ini aku buat untuk semacam sok-sokan ngasih review. Buat yang belum nonton nggak usah khawatir. Aku nggak akan ngasih spoiler kok. Cuma semacam kesan-kesan setelah nonton anime ini.

Anime ini adalah adaptasi dari manga yang memiliki judul yang sama karangan Izumi Tsubaki yang hingga tulisan ini dibuat manga tersebut masih ongoing. Tayang mulai 6 Juli 2014 hingga 21 September 2014 dengan 12 episode. 

Seperti yang tertulis di Wikipedia, anime ini genrenya adalah Romantic Comedy. Tapi menurutku sebenarnya lebih dominan ke comedy. Aku tahu anime ini dari sepupuku. Ketika aku meminta rekomendasi darinya tentang anime bergenre romantic comedy, dia langsung menyarankan anime ini. Dan kurasa sepupuku memberikan rekomendasi yang sangat tepat. Arigatou, ore no … eh, sepupu bahasa Jepangnya apa sih?
***
SINOPSIS
Anime ini bercerita tentang kehidupan cintanya Sakura Chiyo kepada Nozaki Umetarou, tapi pada waktu Sakura mencoba mengungkapkan perasaannya, dia malah salah ucap kalau dia ngefans sama Nozaki, jadinya si Nozaki justru memberikan Sakura sebuah tanda tangan.


Lalu untuk mencoba memperbaiki yang baru saja dikatakan Sakura, dia jadi ingin selalu bersama Nozaki, dan akhirnya Nozaki pun mengajak Sakura ke rumahnya. Kemudian di rumah Nozaki, ia meminta Sakura untuk membantunya menggambar, baru setelah itu Sakura mengetahui bahwa Nozaki merupakan seorang mangaka untuk di sebuah majalah bulanan wanita. Dari kejadian itu Sakura pun akhirnya mulai menjadi asistennya Nozaki.
***
Penilaianku tentang anime ini ...

Aku sangat menikmati anime ini. Anime ini benar-benar sukses membuatku tertawa di setiap episodenya. Anime romantic comedy tanpa ada unsur ecchi sedikit pun bagiku adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Comedynya benar-benar cerdas. Keren lah pokoknya.
Mikorin
Mikoshiba Mikoto aka Mikorin
Sesuatu yang paling kusuka dari anime ini adalah karakter-karakternya. Ya, anime ini memiliki karakter-karakter keren yang memiliki persona kelucuan masing-masing. Benar-benar gila menurutku. Setiap karakternya memiliki kelakuan aneh yang sukses membuatku tertawa terbahak-bahak. Tapi dari semua karakter tentu saja aku memiliki satu karakter favorit. Dan dia adalah ... Mikoshiba Mikoto alias Mikorin.

Karena manga dari anime ini masih ongoing, jadi aku sangat berharap akan ada season kedua dari anime ini. Kalau bisa sih sepuluh season sekalian juga nggak papa. Hehe.

Dan buat yang belum nonton anime ini, bisa dibuktikan kok kelucuannya. Recommended deh pokoknya. Buat yang udah nonton mungkin ada pandangan yang lain dipersilakan buat corat-coret.

Sabtu, 21 Maret 2015

Aksara Alay Telah Punah


H@LloW K4k5. @p4 kA13aR? $3h4t k@N?

Kalimat di atas adalah contoh sebuah kalimat berbahasa Indonesia yang ditulis menggunakan Aksara Alay. Atau yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan tulisan alay. Fenomena tulisan alay ini mulai menjamur seiring mewabahnya budaya alay beberapa tahun yang lalu di Indonesia. Dan Alay sendiri sebenarnya adalah sebuah kata yang memiliki konotasi semacam kampungan gitu.

Tulisan Alay semacam itu dulunya mudah ditemui di jejaring social Facebook. Tapi sebenarnya jika aku perhatikan, sekarang di Facebook sudah tidak ada lagi orang yang update status dengan tulisan seperti itu loh. Udah pada tobat kali yah.

Walau pun memang masih ada nama-nama seperti ‘Joko Selalu Cueekz’ ‘Haryadi Cinta Amue’ dan lain sebagainya yang kurasa juga bisa masuk dalam kategori alay meski faktanya mereka tidak lagi update status menggunakan Aksara Alay. Sepertinya orang-orang macam mereka adalah sisa-sisa dari era kejayaan alay.
 
alay
Jejemon
Sebenarnya fenomena Aksara Alay ini bukan hanya ada di Indonesia loh. Ternyata di Filipina juga ada fenomena serupa. Memang sih bukan alay namanya. Mereka menyebutnya dengan nama Jejemon. 

Seperti apa Jejemon itu? Persis seperti alay. Bisa dibilang Jejemon itu Alay versi Filipina. Hmm … ternyata Alay itu mendunia yah. Jadi kalau kalian secara diam-diam masih berpegang teguh akan ideologi Alay, berbanggalah. Di luar sana, di belahan dunia lain, ada banyak orang seperti kalian. HIDUP ALAY ...!!!
Pallawa
Prasasti Beraksara Pallawa
Dan entah kenapa, jika melihat kondisi Aksara Alay yang seakan sudah mati membuatku teringat pada Aksara Pallawa yang konon pada jaman dahulu juga menjadi aksara paling populer di Nusantara. Dengan bukti banyak ditemukannya prasasti yang ditulis dengan aksara tersebut, jelas itu menandakan bahwa Aksara Pallawa benar-benar populer di masanya. 

Tapi kini? Ya, seperti yang kita ketahui, Aksara Pallawa telah lama punah. Sama seperti Aksara Alay.
 
alay punah
Komen-komenan Facebook Dengan Bahasa Alay Tahun 2010
Jika Aksara Pallawa masih bisa kita lihat di prasasti-prasasti yang berasal dari ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, maka Aksara Alay juga masih bisa kita lihat di Timeline Facebook yang berasal dari tahun 2008-2012. Beda tipis ya.

Itu aja sih penjelasanku tentang punahnya Aksara Alay. Semoga artikel ini bermanfaat.

Sabtu, 14 Maret 2015

Setelah Nonton Sakurasou no Pet na Kanojo [Review Anime]



recommended anime
Tulisan ini akan menjadi tulisan pertamaku di blog ini yang akan membahas tentang anime maupun manga. Dan kali ini aku akan menulis tentang anime yang sukses membuatku meneteskan air mata di setiap episodenya. Huhuhu, aku cengeng banget ternyata. 

Anime ini berjudul Sakurasou no Pet na Kanojo (さくら荘のペットな彼女). Aku yakin banyak di antara kalian yang sudah menonton anime ini. Dan tulisan ini adalah sebuah tulisan yang sok-sokan ngereview. Hanya sekedar kesan-kesan yang lahir di benakku setelah menonton.

Sakurasou no Pet na Kanojo adalah sebuah anime yang diadaptasi dari light novel karangan Hajime Kamoshida yang juga memiliki judul yang sama. Anime ini tayang mulai 9 Oktober 2012 hingga berakhir pada 26 Maret 2013. Sudah cukup lama ya ternyata. Sudah hampir dua tahun dari tamatnya anime ini.

Walaupun anime ini sudah tamat agak lama, tapi aku baru menontonnya belum lama ini. Tepatnya aku baru menamatkannya pada tanggal 25 Februari 2015. Entah kenapa aku memang memiliki kecenderungan untuk menonton anime atau membaca manga yang sudah tamat. Aku merasa dengan menonton/membaca secara marathon bisa membawaku lebih hanyut ke dalam cerita.
***
SINOPSIS
Bercerita tentang kehidupan Kanda Sorata, protagonis utama yang ketahuan memelihara kucing di asrama reguler. Ia pun akhirnya dipindahkan ke asrama sakurasou yang dikenal sebagai tempat murid-murid aneh dan bermasalah.


Kesialan Sorata tidak hanya sampai disitu, ia pun dipaksa untuk bertugas mengurus Shiina Mashiro, murid pindahan dari luar negeri.


Namun lambat laun penilaian Sorata terhadap Sakurasou berubah. Dia mulai merasa nyaman karena di asrama ini dia berhasil menemukan tujuan hidupnya, yakni menjadi programmer dan pembuat game profesional.
 ***
Penilaianku tentang anime ini ...

OK. Di sini aku tidak akan memberikan spoiler karena siapa tahu ada orang lain yang memiliki kecenderungan yang sama denganku -suka yang udah tamat- akan mengurungkan niatnya untuk menonton anime ini setelah membaca tulisanku. 

Bukan apa-apa sih. Hanya saja aku tidak mau jika itu akan dipertanggungjawabkan di hari akhir. Jika itu terjadi, bukankah itu justru hanya akan menghambatku untuk segera masuk ke surga -sok-sokan, sholat aja jarang-.

Baiklah, aku akan menuliskan kesan-kesan selama aku menonton anime ini secara marathon. Jujur saja aku benar-benar terkesan dan menikmati detik demi detik yang kubuang hanya untuk menonton anime ini. Aku merasa detik-detik yang terbuang itu tidaklah terbuang dengan sia-sia. Aku merasa aku bisa memetik banyak pelajaran dari anime ini. Tentang persahabatan, perjuangan, dan lain sebagainya.

Mashiron kawaii
Shiina Mashiro
Ketika aku membaca di Wikipedia, tertulis di sana bahwa genre anime ini adalah drama dan romantic comedy. Romantic comedy, aku memang bisa tertawa lepas ketika menonton beberapa adegan di anime ini. 

Drama, tapi beberapa saat kemudian, air mataku juga bisa mengucur dengan deras -dramatisir, faktanya nggak deras-deras banget kok, paling sekitar 3 ember doang-

Jujur saja aku menyukai semua hal tentang anime ini. Aku menyukai alur ceritanya. Aku menyukai setiap karakter yang ada di sana -terutama Shiina Mashiro-. Aku menyukai backsoundnya. Aku menyukai lagu opening maupun endingnya. Ya, kurasa aku memang menyukai semuanya.

Jadi buat kalian yang belum menonton anime ini, aku kasih rekomendasi untuk menontonnya. Pokoknya nggak bakal nyesel deh.

Sabtu, 07 Maret 2015

Alasan Cinta Persis Solo?

Pasoepati Ancol
Aksi Pasoepati Militan Sambi Korwil Ancol
Segala sesuatu pasti memiliki sebuah alasan. Begitupun juga dengan segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Pada umumnya orang akan melakukan sesuatu karena memiliki sebuah alasan tertentu.

Tapi, cinta berbeda. Terkadang kita tak perlu sebuah alasan untuk mencintai sesuatu. Karena cinta mengalir begitu saja.

Jujur saja aku akan kesulitan menjawab jika ada orang yang bertanya kepadaku “Mas, kok kowe iso seneng Persis tho?” karena memang aku pun tidak mengerti kenapa aku bisa mencintai klub sepakbola tersebut. Seakan Laskar Sambernyawa adalah sebuah klub yang dipilihkan oleh Allah untuk  kudukung. 

Lahir dan besar di kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali yang berjarak sekitar 18km dari Stadion Manahan membuatku benar-benar asing terhadap sepakbola. Ditambah lingkungan tetangga dan keluarga yang sepertinya juga tidak begitu peduli dengan sepakbola khususnya sepakbola dalam negeri, membuatku seolah tak punya alasan untuk menyukai sepakbola.

Aku memang tidak tahu alasan kenapa aku mencintai Persis Solo. Tapi aku masih ingat bagaimana ikatanku dengan Persis Solo terbentuk. Semua ini berawal sekitar akhir 2006 atau awal 2007, aku tidak begitu mengingatnya. Saat itu aku masih menuntut ilmu di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam yang berlokasi di Pabelan, Kartasura.

Yang kuingat pada waktu itu adalah saat aku sedang bersantai di asrama bersama dengan yang lainnya, ada salah seorang temanku yang membawa sebuah Koran. Tak lama berselang, koran itupun sukses menciptakan sebuah kerumunan. Karena penasaran, aku pun akhirnya bergabung. Dan ternyata, di Koran tersebut terdapat daftar lengkap sekaligus profil singkat dari seluruh kontestan Divisi Utama Liga Indonesia 2007.

Langsung saja teman-temanku membanggakan klub dari daerah asal masing-masing. Yang dari Jakarta dengan bangga menunjuk lambang Persija Jakarta yang ada di Koran tersebut. Yang orang Bandung ikut bercerita soal Persib Bandung. Yang dari Mojokerto pun mulai berbicara tentang Persebaya Surabaya. Tentu tak ketinggalan temanku dari Semarang terus memuji Mahesa Jenar PSIS Semarang.

Walaupun pondok pesantren tersebut terletak di pinggir Kota Surakarta, tapi aku adalah satu-satunya orang di asrama yang berasal dari wilayah Solo Raya alias eks-Karesidenan Surakarta. Jujur saja pada waktu itu aku benar-benar tidak paham sedikitpun tentang sepakbola. Aku yang bingung dengan apa yang dibicarakan teman-temanku hanya mampu memandangi halaman Koran tersebut sembari membaca profil singkat klub-klub kontestan Divisi Utama 2007 yang pada waktu itu memang menjadi kasta tertinggi dari percaturan sepakbola dalam negeri.

Mataku terus bergerak memandangi satu per satu profil itu hingga akhirnya pandanganku terhenti pada profil sebuah klub berlambangkan tugu kebangkitan dengan kombinasi warna merah dan putih.

“Persis Solo” 

Begitulah nama klub itu tertera di surat kabar tersebut. Ada sedikit perasaan aneh ketika nama itu terbaca oleh mataku. Semacam getaran. Dan entah kenapa getaran itu membimbingku pada rasa penasaran.

Rasa penasaranku terhadap Persis Solo pun akhirnya semakin besar. Karena di pondok pesantren tidak ada tv, radio, ataupun internet, maka setiap hari ketika ada waktu luang aku menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan hanya untuk membaca koran dan mengetahui kabar terkini dari Persis Solo. Begitulah hari-hari yang kulalui, aku hanya bisa memantau perkembangan Persis melalui surat kabar.

Stadion Bhumi Phala
Foto Pas AwayDay Temanggung 2014
Sekitar maret 2007 aku memutuskan untuk keluar dari pondok karena memang aku sudah merasa tidak betah berada di sana. Dan di saat itulah aku mulai bisa menyaksikan perjuangan Laskar Sambernyawa. Walau hanya lewat TV tentunya. 

Sekitar tahun 2008 hingga 2009 aku sama sekali tidak tahu seperti apa perkembangan Persis Solo. karena waktu itu Persis Solo tidak lolos ke ISL dan masih berkompetisi di Divisi Utama yang bukan lagi merupakan kasta tertinggi sepakbola Indonesia, jadi kurasa cukup wajar jika tidak banyak media yang mengulas kabar seputar Persis Solo.

Sekitar awal tahun 2010, karena sangat penasaran dengan kabar dari Laskar Sambernyawa, aku iseng-iseng mencari di Google dan tak sengaja aku menemukan website Pasoepati.net yang memang mengulas segala sesuatu tentang perkembangan sepakbola di kota bengawan ini. Dari website itu, aku bisa tahu kapan Persis Solo akan bertanding dan lain sebagainya.

Pada awalnya, setelah tahu kapan Persis akan bertanding, aku hanya mendengarkan siaran pertandingan itu melalui radio RRI Surakarta yang memang selalu menyiarkan pertandingan yang dilalui Persis baik kandang atau pun tandang. Aku belum berani datang langsung ke Manahan karena aku memang tidak punya teman untuk menonton bola. Tak ada seorang pun yang pernah mengajakku.

Pada tanggal 22 Maret 2010, aku yang waktu itu masih kelas 3 SMP mengumpulkan keberanianku untuk pertama kali hadir secara langsung di Stadion Manahan. Aku sangat ingat waktu itu adalah pertandingan antara Persis Solo menjamu tamunya Persidafon Dafonsoro dari Papua.

Tidak ada yang mengajakku waktu itu. Tapi aku juga tak berangkat sendiri. Waktu itu aku mengajak teman sekelasku yang kurasa juga belum pernah pergi ke Manahan. Persis Solo kalah 2-0 di pertandingan itu. Ada sedikit rasa kecewa tapi kebahagiaan kurasa lebih dominan menguasai emosiku. Ya, aku bahagia karena akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di tribun Stadion Manahan. Hasrat yang telah lama terpendam pada akhirnya dapat kuluapkan.