Sabtu, 21 Februari 2015

Pengalaman Anehku Dengan Perokok


Aku ingin bercerita tentang pengalamanku waktu aku kuliah semester 1 dulu. Waktu itu di pagi yang sejuk –atau kurasa cukup dingin- aku pergi ke kampus untuk kuliah. Waktu itu aku sangat ingat bahwa mungkin saja aku berangkat terlalu awal. Ketika aku datang dosennya belum ada. Jangankan dosen, bahkan hanya segelintir mahasiswa saja yang sudah hadir di pagi itu.

Sambil menunggu dosen, aku memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang letaknya sedikit jauh dari kelas. Di situ aku duduk sendirian. Tapi itu bukanlah sebuah masalah karena sebagai jomblo tentu saja aku sudah terbiasa sendirian. Atau akan lebih tepat jika aku berkata sebagai jomblo tentu saja aku sudah terbiasa ngenes.

Beberapa menit berselang, banyak mahasiswa yang mulai bermunculan. Salah satu di antara mereka adalah temanku. Namanya Kara. Sama sepertiku, dia juga masih semester 1 di waktu itu.

Dengan santai Kara berjalan ke arahku. Menghampiriku lalu memposisikan dirinya untuk duduk di sampingku.

Kami berbasa-basi layaknya manusia pada umumnya. Hingga pada akhirnya kami mulai sadar bahwa kami sudah tak punya lagi bahan pembicaraan yang dapat kami gunakan untuk menghangatkan obrolan. Dan ketahuilah, itu adalah situasi yang benar-benar mencanggungkan. Seolah ada pertanyaan imajiner “Ini aku harus ngapain ya?” yang menggema di kepalaku.

Memoriku melayang. Aku teringat, di kesempatan lain aku pernah melihat seorang perokok yang terjebak dalam situasi yang sama dengan situasi yang saat ini aku alami. Aku memperhatikan orang itu dan aku menyadari sesuatu. Ya, seorang perokok punya cara tersendiri untuk membunuh kecanggungan.

Ketika mereka tidak lagi bisa menghangatkan suasana dengan sebuah obrolan, biasanya mereka akan memilih untuk setidaknya menghangatkan tubuhnya sendiri dengan sebatang rokok yang terselip di jari tangan. Dan sayangnya ini adalah pilihan yang Kara lakukan.

Kara mengambil sebatang rokok dan kemudian menyalakannya. Awalnya itu bukanlah sebuah masalah hingga peristiwa itu terjadi.

Karena tertiup angin atau apa, asap yang dihasilkan oleh rokok Kara mulai berhamburan ke arahku. Dan reflek sebagai orang yang bukan perokok tentu saja aku mengibaskan tanganku. Mencoba untuk mengusir asap itu. Anehnya Kara justru memandangiku dengan tatapan tajam. Lalu berkata …

“Bos, harusnya kamu bisa menghargai orang yang merokok!”

“…… hah?!”

Tunggu! Tunggu! Tunggu!

Ok. Mungkin Kara tersinggung dengan gerakan tanganku. Tapi … Menghargai orang yang merokok?

Ini aneh.

Kalau kita ingat-ingat kembali, dulu pernah ada peringatan yang berbunyi “Rokok Membunuhmu” di bungku-bungkus rokok yang beredar waktu itu. Itu artinya sebenarnya secara tidak sadar Kara sedang mencoba untuk membunuh dirinya sendiri.

Tidak! Bahkan lebih buruk dari itu. Karena yang berbahaya dari rokok adalah kandungan zat beracun yang ada di asapnya, dan asap itu mulai terbang ke arahku, bukankah itu artinya sebenarnya Kara sedang mencoba untuk membunuhku juga?

Lalu … anehnya dia memintaku untuk menghargai tindakannya. Tunggu! Situasi macam apa ini? Kenapa aku harus menghargai orang yang sebenarnya sedang mencoba untuk membunuhku?

Ini aneh.  

Aku menghela napas. Aku masih tidak habis pikir kenapa ada orang yang sebenarnya sedang membahayakan keselamatan orang lain, bisa dengan tenang meminta orang lain untuk menghargai tindakan berbahayanya?

Aku tidak mengerti. Mungkin ini yang biasa disebut banyak orang dengan ucapan “Dunia Sudah Terbalik”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar