Sabtu, 28 Februari 2015

Pondok Sobron Itu Asik Kok




penjara suci
Kata Orang Sih Sobron Itu Penjara Suci

Pondok Sobron. Hmm… aku sangat yakin hampir semua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta pasti sangat familiar dengan kata itu. Normalnya sih memang begitu. Jadi kalau ada anak UMS yang nggak tahu apa itu Pondok Sobron, saranku sih... akehi sholate mas.

Jujur saja aku tak tahu kenapa tapi seakan sudah ada presepsi publik di kalangan mahasiswa UMS kalau Sobron itu mengerikan. Bagaikan terpenjara. Dikurung dalam neraka. Ya, terkurung terpenjara dalam gua di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa. Begitulah kata mereka.  

Tapi, kurasa tidak seburuk itu juga sih. Walaupun memang di sana tidak diperbolehkan membawa HP atau alat elektronik lain, bukan berarti penderitaannya setara dengan apa yang dirasakan Sun Go Kong yang tertindih gunung selama lima ratus tahun.

Ya, di Sobron hanya empat hari tiga malam kok. Jadi, misalkan kamu bener-bener nggak bisa menikmati dan merasa menderita saat menjalani waktu demi waktu di sana, tenang aja, itu nggak abadi kok. Karena cuma cinta yang memberikan penderitaan abadi. Hmm, begitulah cinta, deritanya tiada akhir.

Jujur saja sebenarnya Pondok Sobron benar-benar tak seburuk yang dikatakan orang-orang. Aku bisa berkata seperti itu karena aku memang pernah merasakannya sendiri. Tepatnya itu terjadi pada tanggal 10-13 November 2014. Aku pergi ke sana untuk menempuh kuliah Studi Al-Islam 1. Sebuah mata kuliah wajib dengan nilai 2 SKS.

Empat hari di sana memang sebenarnya mirip seperti kuliah satu semester. Kita akan bertatap muka empat belas kali dengan fasilitator (tugasnya mirip kayak dosen, memberikan materi) dan di hari terakhir akan diadakan test yang menurutku fungsinya mungkin seperti UAS. Aku jadi membayangkan jika semua mata kuliah bisa ditempuh hanya dengan empat hari, mungkin dalam waktu satu tahun aku sudah lulus.

Aku berangkat dari rumahku di Sambi Boyolali pada hari senin pagi tanggal 10 November. Aku tidak langsung menuju Pondok Sobron yang terletak di Makam Haji. Melainkan mampir dulu ke tempat temanku yang rumahnya juga di Makam Haji. Rencananya aku akan menitipkan motorku di situ selama aku berjuang di Sobron.

Ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Sobron, yang pertama kulakukan adalah memeriksa papan pengumuman. Itu kulakukan untuk mengetahui di asrama dan kelas mana aku akan ditempatkan. Setelah aku mengecek papan pengumuman, aku kini tahu bahwa aku akan menghuni asrama 4. Dan akan belajar di kelas A. 

Aku datang sedikit terlambat. Waktu itu, semua peserta lain sudah berada di lantai tiga untuk menjalani upacara pembukaan. Aku sedikit lega ketika aku mengetahui bahwa acara pembukaan belum dimulai saat aku sampai di aula lantai tiga. Tak membuang waktu aku langsung bergabung dengan orang-orang yang aku kenal. Karena memang tidak semua orang di sini kukenal dan begitupun sebaliknya. 

Setelah pembukaan selesai, kami digiring menuju kelas. Di kelas, kami diberi kertas kecil. Kertas kecil itu berfungsi untuk dijadikan CoCard. Fasilitator menyuruh kami menuliskan nama, NIM, dan nomer absen di CoCard tersebut.

Ada satu hal yang menurutku aneh dari perintah fasilitator tersebut. Beliau menyuruh kami menuliskan nama depan kami. Bukan nama panggilan tapi nama depan. Dengan alasan agar memudahkan dalam pengecekan absen. Karena nama panjangku adalah Muhammad Faisal Riza, tentu saja aku menulis nama Muhammad di CoCard tersebut. Celakanya bukan hanya aku saja yang menyandang nama Muhammad di nama paling depannya. Alhasil pada akhirnya kelasku dipenuhi CoCard bernamakan Muhammad.

Banyak Yang Merasa Ingin Bebas Dari Kejamnya Sobron
Di hari pertama, aku sangat ingat fasilitator berkata padaku “Muhammad, kamu rambutnya tolong dirapikan. Kalau tidak nilai kamu tidak akan keluar,” Begitulah kata fasilitator tersebut. Jika dipikir-pikir memang ketika itu rambutku sangat nggak jelas. Gondrong-gondrong kribo amburadul. Aku bisa memastikan rambutku adalah rambut paling mengerikan di antara para peserta Sobron lain yang sekloter denganku.

Di Sobron itu biasanya di setiap materi akan dibentuk kelompok untuk presentasi. Saat materi pertama sedang dipresentasikan kelompok lain, aku ijin ke toilet. Ketika aku kembali tiba-tiba teman sekelompokku secara masif, terstruktur, dan sistematis mendesak agar aku yang presentasi. Aku ingin menolak tapi rasanya tidak enak dengan teman-teman. Karena ketika yang lain berdiskusi aku justru hanya tiduran dan bersantai.

Pada akhirnya aku benar-benar presentasi. Aku cukup terkejut ketika melihat semua orang dikelas memperhatikan setiap ucapanku. Ya, mereka semua tertawa dan tampak sangat menikmati sajianku. Banyak orang di kelas berkata mereka tertawa karena aku terkesan seperti sedang ber-stand up comedy. Entah kenapa aku sangat senang ketika mereka berkata seperti itu. Dan itulah momen di mana aku mengukuhkan diri sebagai Muhammad paling populer di antara Muhammad-Muhammad lain di kelasku.

Di hari kedua aku mendapat nama panggilan baru. Nama panggilan yang benar-benar baru. Itu bermula ketika temanku yang juga merupakan teman sekelasku di kuliah biasa memanggilku “Ya Mohammed,” dengan nada bercanda dan logat yang dimirip-miripkan seperti logat Arab. Anehnya seluruh penghuni kelas ikut-ikutan memanggilku seperti itu. Bahkan fasilitatorku pun memanggilku Mohammed juga.

Ketika Sobron sudah berakhir dan aku pergi ke kampus seperti biasa, di parkiran, di koridor kampus, dan tempat-tempat lain sering kudengar dari kejauhan suara orang yang berteriak “Mohammded!” hmm… tak salah lagi, seseorang dengat logat Arab sedang menyapaku. Siapa pelakunya? Tentu saja teman-teman sekelasku waktu di Pondok Sobron.

Baiklah, sekarang kita masuk ke hari ketiga. Dalam sebuah materi, seperti biasa kami dibagi dalam kelompok untuk berdiskusi. Tapi kami tidak diperintah untuk berpresentasi. Melainkan kami disuruh untuk membuat mini drama tentang apa yang kami diskusikan.

Materi yang kami diskusikan pada waktu itu adalah tentang kesyirikan. Dan mini drama yang akan kami tampilkan adalah tentang Kebo Bule Kyai Slamet. Kira-kira peran apa yang akan kudapatkan…??? Tepat sekali. Aku menjadi Kebo Bule Kyai Slamet. Aku tidak tahu siapa yang merancang skenarionya, tapi entah kenapa aku diharuskan untuk menjalani adegan eek sembarangan. Menjadi Kebo Bule itu sudah buruk, belum lagi ditambah menjalani adegan itu. Hadeeh.

Tapi Jadi Kebo Bule Itu Sebenernya Jadi Pemeran Utama Loh

Di hari ketiga ini pula aku akhirnya memotong rambutku. Bermodalkan gunting yang dipinjam dari fasilitator, pada jam istirahat makan siang, temanku merapikan rambutku. Walau memang hasilnya tidak begitu rapi tapi setidaknya gaya rambutku bukan lagi Gondrong-gondrong kribo amburadul.

Di hari keempat aku… aku… aku… aku pulaaaannnggg! Memang kurasa kenangan terbaik di hari keempat adalah kepulangan. Aku ingat di hari itu ada test dan juga upacara penutupan. Tapi tentu saja itu bukan bagian serunya. Bagian paling menyenangkan tetap saja saat kepulangan.

Hampir aku lupa, di kasur yang tertata rapi di asrama banyak sekali tulisan-tulisan aneh yang cukup lucu jika kita perhatikan. Aku tidak ingat apa saja tulisan itu. Satu yang kuinggat hingga saat ini adalah tulisan ACAB: All Co-Imam Are Bastard. Aku sangat yakin yang menulis itu adalah supporter bola.

Pada akhirnya aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menikmati waktu demi waktuku yang terbuang di Pondok Sobron. Aku sama sekali tidak merasa bahwa tempat ini adalah penjara atau pun neraka. Ya, tempat ini cukup menyenangkan. Kini aku hanya berharap ketika aku datang kembali ke Pondok Sobron untuk menempuh Studi Al-Islam 2, tempat ini masih semenyenangkan ini. Tidak tidak tidak, aku berharap tempat ini akan jauh lebih dan lebih menyenangkan.

Baca Juga:
Pondok Sobron Kedua, Tetap Asik Kok

Sabtu, 21 Februari 2015

Pengalaman Anehku Dengan Perokok


Aku ingin bercerita tentang pengalamanku waktu aku kuliah semester 1 dulu. Waktu itu di pagi yang sejuk –atau kurasa cukup dingin- aku pergi ke kampus untuk kuliah. Waktu itu aku sangat ingat bahwa mungkin saja aku berangkat terlalu awal. Ketika aku datang dosennya belum ada. Jangankan dosen, bahkan hanya segelintir mahasiswa saja yang sudah hadir di pagi itu.

Sambil menunggu dosen, aku memutuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang letaknya sedikit jauh dari kelas. Di situ aku duduk sendirian. Tapi itu bukanlah sebuah masalah karena sebagai jomblo tentu saja aku sudah terbiasa sendirian. Atau akan lebih tepat jika aku berkata sebagai jomblo tentu saja aku sudah terbiasa ngenes.

Beberapa menit berselang, banyak mahasiswa yang mulai bermunculan. Salah satu di antara mereka adalah temanku. Namanya Kara. Sama sepertiku, dia juga masih semester 1 di waktu itu.

Dengan santai Kara berjalan ke arahku. Menghampiriku lalu memposisikan dirinya untuk duduk di sampingku.

Kami berbasa-basi layaknya manusia pada umumnya. Hingga pada akhirnya kami mulai sadar bahwa kami sudah tak punya lagi bahan pembicaraan yang dapat kami gunakan untuk menghangatkan obrolan. Dan ketahuilah, itu adalah situasi yang benar-benar mencanggungkan. Seolah ada pertanyaan imajiner “Ini aku harus ngapain ya?” yang menggema di kepalaku.

Memoriku melayang. Aku teringat, di kesempatan lain aku pernah melihat seorang perokok yang terjebak dalam situasi yang sama dengan situasi yang saat ini aku alami. Aku memperhatikan orang itu dan aku menyadari sesuatu. Ya, seorang perokok punya cara tersendiri untuk membunuh kecanggungan.

Ketika mereka tidak lagi bisa menghangatkan suasana dengan sebuah obrolan, biasanya mereka akan memilih untuk setidaknya menghangatkan tubuhnya sendiri dengan sebatang rokok yang terselip di jari tangan. Dan sayangnya ini adalah pilihan yang Kara lakukan.

Kara mengambil sebatang rokok dan kemudian menyalakannya. Awalnya itu bukanlah sebuah masalah hingga peristiwa itu terjadi.

Karena tertiup angin atau apa, asap yang dihasilkan oleh rokok Kara mulai berhamburan ke arahku. Dan reflek sebagai orang yang bukan perokok tentu saja aku mengibaskan tanganku. Mencoba untuk mengusir asap itu. Anehnya Kara justru memandangiku dengan tatapan tajam. Lalu berkata …

“Bos, harusnya kamu bisa menghargai orang yang merokok!”

“…… hah?!”

Tunggu! Tunggu! Tunggu!

Ok. Mungkin Kara tersinggung dengan gerakan tanganku. Tapi … Menghargai orang yang merokok?

Ini aneh.

Kalau kita ingat-ingat kembali, dulu pernah ada peringatan yang berbunyi “Rokok Membunuhmu” di bungku-bungkus rokok yang beredar waktu itu. Itu artinya sebenarnya secara tidak sadar Kara sedang mencoba untuk membunuh dirinya sendiri.

Tidak! Bahkan lebih buruk dari itu. Karena yang berbahaya dari rokok adalah kandungan zat beracun yang ada di asapnya, dan asap itu mulai terbang ke arahku, bukankah itu artinya sebenarnya Kara sedang mencoba untuk membunuhku juga?

Lalu … anehnya dia memintaku untuk menghargai tindakannya. Tunggu! Situasi macam apa ini? Kenapa aku harus menghargai orang yang sebenarnya sedang mencoba untuk membunuhku?

Ini aneh.  

Aku menghela napas. Aku masih tidak habis pikir kenapa ada orang yang sebenarnya sedang membahayakan keselamatan orang lain, bisa dengan tenang meminta orang lain untuk menghargai tindakan berbahayanya?

Aku tidak mengerti. Mungkin ini yang biasa disebut banyak orang dengan ucapan “Dunia Sudah Terbalik”.