Jumat, 06 Juli 2018

Move On?


Hei …

Kamu pernah nggak sih suka sama seseorang yang rasanya nggak mungkin tergapai?

Yang sekuat apapun kamu berusaha menjulurkan tangan, mustahil untuk dapat menjangkaunya.

Yang bikin kamu merasa ada sesuatu yang begitu menyakitkan di dalam dada.

Yang bikin kamu merasa gelisah di setiap kesempatan.

Yang bikin makan jadi nggak enak.

Yang bikin tidur jadi nggak nyenyak.

Yang bikin … umm, nggak tahu kenapa, tiba-tiba pengen nangis aja.

Terutama di pagi hari. Sesaat setelah bangun tidur.


Kadang aku berharap agar dia sedikit menjauh.

Aku nggak siap untuk menanggung rasa sakit ini.

Tapi, kalau dia menjauh, nggak tahu kenapa …

Hati ini nggak rela.


Akhir-akhir ini …

Lagi nggak pengen buka instagram.

Lagi nggak pengen ngecek line.

Lagi nggak pengen nengok whatsapp.

Lagi nggak pengen nonton anime.

Lagi nggak pengen baca manga.

Lagi nggak pengen dengerin lagu Jepang.

Lagi nggak pengen …

Umm … ingat dia.


Apa yang harus kulakukan?

Move on?

Tapi gimana caranya?

Siapa pun! tolong, ajari aku!


Aku pernah dengar sebuah ungkapan.

Untuk melupakan seseorang, kita perlu untuk menemukan orang lain.

Tapi, bukankah itu sedikit kejam?

Menggunakan orang lain hanya untuk melupakan seseorang yang tak tergapai.

Bukankah itu sedikit kejam?

Umm … entahlah.

Jumat, 29 Juni 2018

Bahagia Itu Apa?

Bahagia itu apa?

Kata orang, bahagia itu sederhana. Tapi apa?

Nggak tahu kenapa, saya nggak pernah merasa bahagia.

Dibanding bahagia, saya justru merasa begitu hampa.

Umm … ngomong-ngomong, pernah nggak sih kamu merasa begitu hampa?

Kalau saya, entah kenapa sering kali merasakannya.

Hampa.

Seolah merasa begitu kosong. Tapi kenapa?

Seolah ada yang kurang dalam hidup ini. Tapi apa?

Suatu saat, saya ingin seperti yang lainnya.

Menjalani hidup dengan bahagia. Tapi bagaimana?

Aa-aah … Saya juga nggak tahu bagaimana jawabnya.

Umm … ngomong-ngomong, bahagia itu apa?

Jumat, 01 Juni 2018

Pertama Kali Naik Roller Coaster


Sebelum melangkah lebih jauh, biarkan saya mengatakannya terlebih dahulu. Ok, saya sadar, kok. Hanya dengan membaca judul postingan ini, kamu akan berpikir kalau saya adalah orang yang cukup norak. Ngeblog tentang pengalaman pertama naik roller coaster? Tuh, norak banget, kan. Haha.

Tapi, apapun yang ada di pikiran kamu, sejujurnya saya nggak begitu peduli. Karena bagaimanapun juga saya tetap akan menuliskan pengalaman norak itu. Soalnya begini, dalam dua bulan terakhir, hanya ada 4 postingan baru di blog ini. 2 dari bulan April dan 2 dari Mei. Nah, sadar akan berkurangnya produktivitas saya dalam menulis blog, maka dari itu, bodo amat senorak apapun postingannya, yang penting update. Haha.

Jadi ceritanya begini …
***
Minggu, 27 Mei 2018

Waktu itu, hari kesepuluh di bulan ramadhan tahun 2018, saya dijadwalkan untuk bertemu dengan seseorang dari Trans Studio Mini Solo untuk keperluan kerjasama dengan komunitas saya, Stand Up Comedy Kampus UMS. Pertemuan dijadwalkan di lokasi Trans Studio Mini itu sendiri, tepatnya di lantai 4 (atau 3, lupa) Transmart Pabelan.

Saya menghadiri pertemuan itu dengan seorang kawan yang waktu itu mengajak istrinya juga. Singkat cerita, akhirnya pertemuan pun berlangsung, kesepakatan demi kesepakatan pun lahir. Beberapa diantaranya … nggak penting! Ini kan postingan tentang pengalaman pertama saya naik roller coaster, jadi rasanya nggak perlu lah ya saya tulis kesepakatan apa saja yang lahir dari pertemuan itu. Jadi, kita langsung skip aja dan langsung menuju ke roller coaster.

OK. Jadi, setelah pertemuan selesai, seseorang dari trans studio yang tadi berunding bersama kami menawari kami untuk mencoba secara gratis roller coaster yang memang menjadi salah satu wahana di tempat bermain tersebut.

Jujur saja, tentunya saya ragu  untuk menerima tawaran itu. Alasannya simple, saya takut ketinggian. Separah apa sih ketakutan saya? Jadi gini. Pernah lihat rumah dengan dua lantai yang baru dibangun? Kalau pernah, biasanya kan tangganya belum ada pinggirannya, tuh. Nah, saya naik tangga yang belum ada pinggirannya aja takut setengah mati, kok. Apalagi naik roller coaster.

Di tengah keraguan itu, teman saya meyakinkan saya. Lalu saya pikir-pikir lagi. Dan akhirnya saya mau. Kira-kira ada tiga alasan sih kenapa saya mau. Pertama, pengalaman baru. Belum pernah soalnya. Kedua, siapa tahu bisa sembuh dari fobia ketinggian. Melawan rasa takut gitu ceritanya. Ketiga, mumpung gratis. Haha. Soalnya kata teman saya, sekali naik harganya 60ribu apa berapa gitu. Pokoknya lumayan mahal buat kantong mahasiswa. Makanya, mumpung gratis harus dimanfaatkan. Btw, istri teman saya nggak ikutan naik.

Menjelang naik ke roller coaster, perdebatan pun terjadi. Ini mau duduk di mana? Saat itu, seseorang dari trans studio memberi saran …

“Di belakang aja, Mas. Naik ginian paling seru kalau di belakang.”

Akhirnya kami nurut aja sama apa kata mas trans studio. Saya dan teman saya duduk di belakang. Enggak paling belakang, sih. Tepatnya kedua dari belakang. Sementara itu, mas trans studio dan satu orang rekannya naik juga dan duduk tepat di depan kami. Jujur saja, pas dengar masnya bilang di belakang lebih seru, hati kecil saya meyakini kalau sebenarnya yang bakal terjadi adalah kebalikannya, pasti maksudnya lebih serem.

Singkat cerita, roller coaster pun meluncur. Saat tanjakan pertama, saya masih biasa-biasa aja. Nah, sayangnya, hidup kan penuh keseimbangan, ya. Kalau ada tanjakan, pasti ada turunan. Dan benar saja, setelah lewat tanjakan pertama, tiba saatnya roller coaster untuk meluncur menurun dengan tajam. Di sini, saya mulai takut. Mata langsung tertutup, serapat yang saya bisa.

Karena menutup mata, saya jadi nggak lihat apa-apa. Ya iyalah, namanya juga merem. Nah, di saat mata tertutup itu, yang saya rasakan adalah sensasi tubuh seolah terlempar. Kayak terombang-ambing gitu. Dan sebagai orang yang sangat religius, di awal-awal roller coaster meluncur,  dari mulut saya meluncur kata-kata makian. Apapun, semuanya keluar. Haha. Religius sekali, kan?

Tapi itu cuman di awal doang. Lama kelamaan, karena sensasi seakan-akan terlempar dari kursi dan merasa keselamatan nyawa saya terancam, tahu-tahu saya jadi ingat Allah, loh. Beneran. Jadi yang awalnya misuh-misuh, ditengah-tengah tiba-tiba saya dzikir. Hahaha.

Setelah dua putaran, akhirnya saya turun dari roller coaster. Sumpah, waktu itu kaki saya merinding parah. Kayaknya lain kali nggak akan nyobain yang beginian lagi, deh. Nggak mau sok-sokan lagi. Naik tangga yang nggak ada pinggirannya aja udah takut apalagi roller coaster.

By the way, akhirnya saya menyadari sesuatu. Kayaknya kalau mau ingat sama Allah nggak perlu repot-repot datang ke pengajian, deh. Cukup naik roller coaster aja.

Kamis, 24 Mei 2018

Paranormal Experience?


Pernah ngalamin paranormal experience? Pengalaman yang berhubungan sama hal-hal gaib gitu? Kalau saya sendiri … nggak yakin, sih. Mungkin pernah. Kejadiannya sekitar beberapa hari yang lalu. Tapi sekali lagi, saya nggak begitu yakin apakah itu memang paranormal experience apa bukan.

Jadi begini ceritanya …
***
Umm, sebelum saya mulai, saya rasa saya memang harus menjelaskannya terlebih dahulu. Jadi begini, rumah saya terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berfungsi untuk warung makan. Sedangkan lantai dua digunakan untuk tempat tinggal.

Sekedar informasi, saya hanya tinggal berdua dengan adek saya. Kedua orang tua saya tinggal di rumah yang lain. Sekedar informasi lagi, warung yang ada di lantai bawah tadi tutup jam 10 malam. Jadi setiap jam 10 malam, ketika karyawan warung mulai pulang, saya selalu turun ke bawah untuk mengunci pintu warung. Kadang sebelum jam 10 malam, kalau fisik pas lagi capek, sering kali saya ketiduran. Kalau udah gitu, biasanya karyawan akan naik ke atas dan membangunkan saya.

Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang tidur, saya mendengar kamar saya diketok-ketok sama seseorang. Saat itu, saya pikir itu adalah karyawan yang sedang mencoba membangunkan saya untuk mengunci pintu. Tapi, saat saya membuka mata, saya mendapati sebuah fakta yang sangat jauh dari perkiraan saya. Bukannya karyawan, yang terlihat oleh indera pengelihatan saya justru seorang gadis yang …… umm, lumayan cantik, sih. Meski agak gendutan.

“Permisi, Mas. Saya mau minta air putih. Di bawah habis. Kata mbaknya (karyawan), saya disuruh minta sama Masnya ke atas,” kata gadis lumayan cantik yang agak gendutan tadi.

Setelah itu saya bangun. Kemudian saya menunjukkan ke gadis itu tempat di mana galonnya berada. Lalu si gadis mengambil air dari galon itu, tapi anehnya, saat dia menuangkan air ke gelas, airnya tumpah-tumpah. Kemudian, dengan gelas lain, gadis itu mengambil air yang kali ini, bukan dari galon, tapi dari akuarium yang letaknya nggak jauh dari galon yang tadi.

“Mbak, itu bukan buat minum, lho,” karena merasa janggal, tentu langsung saya tegur.

“Saya tahu. Ini buat &$^&#^&^*($#@,” gadis itu ngomong nggak jelas.

Setelah itu, tiba-tiba saya sadar sesuatu. Bukannya tadi saya udah mengunci pintu saat karyawan pulang, ya? Bukannya warungnya udah tutup dari tadi? Terus ini cewek datang dari mana? Kenapa dia bisa ada di sini?

Setelah itu saya sadar ada yang nggak beres. Kemudian, tiba-tiba si gadis gendutan tadi udah nggak ada. Pas sadar, mata ini tiba-tiba udah memandang ke arah langit-langit kamar. Jadi, yang tadi itu mimpi?

Udah gitu aja, sih.

Btw, itu tadi itungannya termasuk paranormal experience bukan, sih? Oh, bukan, ya? Cuman mimpi biasa, ya? Tapi, bodo amat lah. Yang penting saya punya bahan buat ngisi blog. Hehehe.

Selasa, 15 Mei 2018

Tottenham Hotspur 2017/2018: Terbaik Di London


Dua hari yang lalu, Liga Primer Inggris musim 17/18 resmi berakhir. Sebagai penggemar Tottenham Hotspur, kalau boleh jujur, musim 17/18 adalah musim yang sebenarnya tidak begitu berkesan buat saya pribadi. Namun, tidak begitu berkesan bukan berarti sama sekali tidak berkesan. Setidaknya ada beberapa hal yang rasanya cukup nempel dalam benak saya terkait perjalanan Spurs selama menjalani petualangannya di musim lalu. Sepertinyanya cukup sampai di sini saja intronya. Mari kita langsung saja …

Terbaik Di London
Harus diakui, di Liga Primer musim lalu, Spurs tidak tampil sebaik musim sebelumnya. Terkait itu, bahkan kita bisa melihatnya dari hal-hal yang sederhana. Jika di musim 16/17 Spurs berhasil finis di urutan kedua dan mengumpulkan poin sebanyak 86, di musim 17/18 Spurs hanya finis ketiga dengan 77 poin. Dari situ saja ita bisa melihat bahwa ada penurunan performa.

Tapi, meski begitu, Spurs yang hanya finis ketiga dengan 77 poin berhasil menjadi tim London dengan perolehan poin terbanyak di Liga Primer musim lalu. Bukankah itu berarti Spurs adalah tim terbaik di London? Hal itu menurut saya cukup istimewa karena terakhir kali Spurs menjadi yang terbaik di London, itu terjadi di musim 1994/1995. Kala itu Tottenham finis di posisi ketujuh dengan 62 poin, hanya unggul 2 poin dari pesaing London terkedatnya, Queens Park Rangers yang finis di urutan delapan.

Rekor Penonton Terbanyak
Pada awalnya, Stadion Wembley oleh sebagian orang disebut sebagai kutukan untuk Tottenham. Sulitnya Spurs meraih kemenangan di Stadion terbesar se-Inggris adalah penyebab utama kenapa julukan kutukan itu muncul. Namun, seiring waktu berjalan, Spurs berhasil mengatasi kutukan tersebut. Kemenangan demi kemenangan menjadi sesuatu yang mulai biasa kita saksikan ketika Spurs memainkan laga kandangnya di Wembley.

Kutukan berubah menjadi berkah? Mungkin.

Yang lebih spesial lagi, berkat kapasitas Wembley yang luar biasa besar, Spurs sukses mencatatkan rekor sebagai tim dengan pertandingan kandang berpenonton terbanyak. Tepatnya di laga Derby London Utara menghadapi Arsenal 10 Februari 2018 yang kala itu, disaksikan langsung oleh 83.222 pasang mata. Memecahkan rekor 76.073 penonton kala Manchester United menjamu Aston Villa pada Januari 2007.

Ngomong-ngomong, tahukah kamu? Sejak Liga Primer musim 1994/1995, rekor jumlah penonton terbanyak di setiap musimnya selalu menjadi milik Manchester United. Hal itu terus terjadi secara berturut-turut hingga dengan musim 2016/2017. Sesuatu yang bagi saya sendiri sebenarnya tidak mengherankan. Lha wong Old Trafford memang stadion paling gede, kok. Jadi, bagi saya pribadi, bisa menghentikan rekor Manchester United yang berturut-turut menjadi tim dengan penonton kandang terbanyak selama 18 musim beruntun adalah sesuatu yang cukup special sebagai penggemar Tottenham.

Mental Juara
Segala sesuatu di dunia pasti memiliki dua sisi yang berlawanan. Hitam-putih, gelap-terang, dan tentunya, bagus-buruk. Kalau dua poin sebelumnya saya menuliskan tentang sesuatu yang bagus, kali ini mari kita masuk ke sesuatu yang buruk dari Spurs di musim lalu. Jika kamu juga penggemar Tottenham, saya rasa kamu juga menyadarinya. Ya, mental juara.

Sebagai penggemar Spurs, kita boleh berbangga karena Spurs adalah tim dengan gaya main paling menyenangkan untuk ditonton se-Inggris. Tentunya, jika kita tidak memasukkan Manchester City ke dalam daftar. Tapi sayangnya gaya main yang bagus tidak berarti apapun jika tidak didukung dengan mental juara yang mumpuni. Sering kalah di laga penting adalah buktinya.

Kalah di semi final FA Cup dari Manchester United. Kalah dari Juventus di 16 besar Liga Champions. Ngomong-ngomong, untuk pertandingan melawan Juventus, hingga dengan half time leg 2 di Wembley, waktu itu saya sangat yakin bahwa Spurs akan lolos ke fase selanjutnya. Tapi sayangnya, lagi-lagi persoalan mental. Persoalan yang akhirnya membuat Spurs lagi-lagi mengakhiri musim dengan nihil gelar.

Bek Kanan
Jika saya disuruh untuk menyebut satu kata untuk mendeskrepsikan tentang bek kanan Spurs musim lalu, maka tidak ada lain yang akan saya ucapkan selain kata L A W A K. Ya, di mata saya, bek kanan Spurs entah kenapa sering kali bermain seperti pelawak.

Kieran Trippier bisa jadi adalah pengirim umpan silang terbaik yang Spurs miliki sejak Gareth Bale meninggalkan tim ini. Namun sayangnya, sebagai pemain yang menyandang posisi sebagai bek, Trippier tidak mampu bertahan sebagus seperti saat dia mengirimkan umpang silang.

Sementara itu, Serge Aurier, bek kanan lain yang didatangkan dari PSG di musim panas 2017, di mata saya bermain lebih ngelawak lagi. Tackling ngawur adalah sesuatu yang seringkali kita saksikan saat Aurier beraksi. Yang paling saya ingat adalah saat Spurs melawan West Ham. Saat itu Spurs unggul 3-0. Sebuah tackling ngawur berbuah kartu merah untuk Aurier membuat West Ham tiba-tiba bangkit. Untungnya West Ham hanya mampu mencetak 2 gol sehingga Spurs tetap keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2.

Tackling ngawur lain yang cukup menempel di ingatan saya adalah saat Aurier melanggar Toni Kroos saat Spurs menghadapi Real Madrid di Santiago Bernabeu dalam partai babak grup Liga Champions musim lalu yang berbuah tendangan penalti.

Lawakan Aurier tidak berhenti sampai di situ. Saat Spurs bertandang ke Selhurst Park tanggal 25 Februari 2018 silam, Aurier bahkan tidak bisa melakukan lemparan ke dalam dengan baik dan benar. Ok, terkadang manusia memang membuat kesalahan. Tapi masalahnya, itu terjadi sampai dengan 3X!

Tapi mungkin kita bisa bernapas sedikit lega terkait permasalahan di bek kanan Spurs setelah Kyle Walker-Peters baru-baru ini menandatangani perpanjangan kontrak hingga 2021. Ya, KWP adalah setitik harapan. Hanya dua kali tampil penuh di Liga Primer musim ini, hebatnya di dua pertandingan tersebut KWP selalu keluar sebagai man of the match. Semoga saja Pochettino akan memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk KWP di musim depan.

Harry Kane
Tidak perlu panjang lebar, jujur saya sedikit kecewa dengan Harry Kane yang mengklaim gol tendangan bebas milik Eriksen saat Spurs bertandang ke markas Stoke City. Apapun alasannya, bagi saya, entah kenapa itu tetap terlihat cukup egois. Mungkin kamu akan berpikir bahwa seharusnya saya tidak menulis seperti itu tentang Harry kane karena bagaimana pun dia adalah pemain Spurs. Tapi saya adalah penggemar Tottenham Hotspur, siapa pun pemainnya. Saya bukan penggemar pemain ini atau pemain itu. Dan di sini, saya hanya berusaha untuk jujur.

Ternyata Fans Liverpool Menyebalkan
Mungkin ini akan menjadi poin terakhir di postingan ini. Bagi saya, setelah pertandingan di Anfield antara Liverpool melawan Spurs yang berakhir dengan skor 2-2, entah kenapa penggemar Liverpool tiba-tiba berubah menjadi sekelompok orang yang menyebalkan. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?